
OTO Mounture — PT Astra International Tbk mencatatkan penurunan kinerja pada kuartal pertama 2026. Laba bersih Grup turun 16% secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp5,9 triliun, sementara pendapatan bersih terkoreksi 6% menjadi Rp78,7 triliun.
Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya kontribusi dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi, khususnya akibat minimnya kontribusi bisnis emas serta turunnya volume pada bisnis alat berat dan jasa penambangan.
Jika tidak memperhitungkan beban non-recurring, laba bersih Astra tercatat turun lebih moderat sebesar 8% menjadi Rp6,8 triliun. Sementara itu, laba bersih per saham juga mengalami penurunan 15% menjadi Rp146, atau turun 7% menjadi Rp170 jika tidak memasukkan faktor non-recurring.
Presiden Direktur Astra, Rudy, menyampaikan bahwa tekanan pada kinerja Grup berasal dari sektor komoditas, meski sejumlah lini bisnis lain mampu mencatat pertumbuhan.
“Bisnis-bisnis lainnya mencatatkan kinerja yang lebih baik dan mampu mengimbangi sebagian penurunan dari divisi alat berat dan pertambangan,” ujarnya melalui Laporan Keuangan Astra Kuartal I Tahun 2026.
BACA JUGA: Asosiasi Ekosistem Kendaraan Listrik Apresiasi Insentif PKB dan BBNKB 0 Persen
Di tengah tekanan, divisi Otomotif & Mobilitas tetap mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 4% menjadi Rp2,4 triliun. Kinerja ini ditopang oleh bisnis mobilitas, logistik, dan komponen, termasuk kontribusi dari PT Astra Otoparts Tbk yang naik 10% menjadi Rp447 miliar.
Secara pasar, penjualan mobil nasional meningkat 2% menjadi 209.000 unit, meski pangsa pasar Astra turun menjadi 49% akibat kompetisi yang semakin ketat.
Sementara itu, penjualan sepeda motor nasional turun 4% menjadi 1,6 juta unit, dengan PT Astra Honda Motor tetap mempertahankan dominasi pangsa pasar sebesar 78%.
Di sisi lain, divisi Jasa Keuangan mencatat pertumbuhan laba bersih 6% menjadi Rp2,3 triliun. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya pembiayaan konsumen yang mencapai Rp32 triliun, naik 5% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Tekanan terbesar datang dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi yang labanya anjlok 79% menjadi Rp408 miliar. Penurunan ini dipengaruhi oleh kinerja PT United Tractors Tbk (UT), termasuk adanya beban non-recurring sebesar Rp723 miliar.
Selain itu, penjualan emas turun drastis 93% menjadi 4.000 oz akibat penghentian sementara operasional Tambang Emas Martabe. Meski demikian, tambang tersebut telah kembali mendapatkan izin operasional pada Maret 2026.
Penjualan alat berat Komatsu juga turun 20% menjadi 1.107 unit, seiring melemahnya permintaan dari sektor pertambangan.
BACA JUGA: Toyota Gandeng CATL, Investasi Rp1,3 Triliun untuk Produksi Baterai EV di Indonesia
Beberapa lini bisnis lain justru mencatat pertumbuhan signifikan, antara lain:
– Agribisnis: laba naik 35% menjadi Rp298 miliar
– Infrastruktur: naik 32% menjadi Rp343 miliar
– Teknologi Informasi: naik 47% menjadi Rp53 miliar
– Properti: melonjak 145% menjadi Rp115 miliar
Kinerja positif ini membantu menahan tekanan dari sektor pertambangan.
Sebagai bagian dari strategi meningkatkan nilai pemegang saham, Astra melanjutkan program pembelian kembali saham (buyback). Hingga saat ini, total realisasi buyback mencapai Rp2,7 triliun, dengan tambahan program tahap ketiga senilai maksimal Rp2,0 triliun.
Sementara itu, United Tractors juga telah merealisasikan buyback sebesar Rp3,0 triliun sejak November 2025.
Ke depan, Astra memproyeksikan kondisi pasar masih akan menantang akibat ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik. Namun, perusahaan menegaskan akan tetap fokus menjaga disiplin operasional serta menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.
(om/ril/ls)








