
OTO Mounture — Bravo Motor menyoroti perubahan besar dalam industri sparepart otomotif di era digital. Di tengah tren konsumen yang semakin sering membeli sparepart sendiri melalui marketplace dan media sosial, tantangan baru justru muncul dari sisi komunikasi, identifikasi part, hingga ekspektasi kualitas produk.
Bisnis sparepart yang berdiri di kawasan Kedungdoro, Surabaya, Jawa Timur sejak 1996 itu menyebut industri otomotif saat ini tidak lagi hanya soal stok barang dan harga murah, melainkan kemampuan mengidentifikasi kebutuhan kendaraan secara akurat.
Pemilik Bravo Motor yang merupakan generasi kedua, Kenny Purnomo mengatakan, perubahan perilaku konsumen membuat toko sparepart harus beradaptasi dengan pola komunikasi baru yang semakin kompleks.
“Sekarang tantangan terbesar justru ada di identifikasi part. Orang bisa beli sparepart sendiri dengan sangat mudah, tapi belum tentu tahu barang yang sebenarnya dibutuhkan,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pemilik kendaraan membeli sparepart sendiri tanpa melalui bengkel. Alasannya beragam, mulai dari ingin membandingkan harga, menghindari markup bengkel, hingga merasa lebih aman membeli langsung dari toko sparepart atau marketplace.
Namun kondisi tersebut memunculkan persoalan baru berupa miskomunikasi antara istilah bengkel, nama resmi sparepart, dan pemahaman konsumen.
Menurut Kenny, banyak pelanggan datang hanya membawa foto buram, screenshot percakapan bengkel, atau istilah umum seperti “support”, “laher”, hingga “sensor atas” tanpa data kendaraan yang lengkap.
Padahal dalam dunia sparepart, satu istilah bisa merujuk pada beberapa komponen berbeda tergantung tipe kendaraan, generasi produksi, kode mesin, hingga versi facelift.
“Kadang mereka cuma bawa foto atau nama part yang sebenarnya bukan nama resmi. Padahal satu model mobil saja bisa punya beberapa versi part berbeda,” katanya.
BACA JUGA: Penjualan Chery di Indonesia Turun pada Awal 2026, Market Share Ikut Melemah
Kenny menjelaskan, salah satu tantangan terbesar dalam industri sparepart adalah persepsi bahwa satu gejala kerusakan pasti berasal dari satu komponen tertentu.
Padahal dalam praktiknya, bunyi kaki-kaki mobil misalnya bisa berasal dari banyak komponen seperti rack steer, tie rod end, rack end, shock breaker, hingga support shock.
Akibatnya, ketika penggantian sparepart tidak menyelesaikan masalah kendaraan, toko sparepart sering menjadi pihak pertama yang disalahkan.
“Kalau masalah belum selesai setelah part diganti, biasanya barang langsung dianggap tidak cocok atau tidak berfungsi. Padahal belum tentu sumber masalahnya di situ,” ujar Kenny.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin sering terjadi sejak konsumen aktif membeli sparepart sendiri berdasarkan informasi internet atau rekomendasi umum tanpa diagnosis teknis yang mendalam.
Selain masalah identifikasi, Bravo Motor juga menyoroti minimnya pemahaman konsumen mengenai kategori sparepart.
Banyak pelanggan masih belum memahami perbedaan antara genuine part, OEM, aftermarket, hingga produk imitasi. Padahal masing-masing memiliki standar kualitas, tingkat presisi, dan harga berbeda.
Kenny menjelaskan, genuine part umumnya dibuat mengikuti standar pabrikan kendaraan sehingga memiliki tingkat presisi paling tinggi. Namun harga produk genuine juga cenderung lebih mahal.
Sementara produk aftermarket menawarkan alternatif lebih ekonomis dengan kualitas yang bervariasi tergantung merek dan spesifikasinya.
“Kalau beli aftermarket atau imitasi, tentu ada risiko toleransi tertentu. Tidak semua bisa 100 persen sama seperti genuine,” katanya.
Menurut Bravo Motor, ketidaksesuaian ekspektasi inilah yang kerap memicu komplain setelah pembelian sparepart.
BACA JUGA: AC Mobil Tiba-Tiba Tidak Dingin? Ini Waktu Ideal Servis dan 5 Tanda Harus Segera Dicek
Untuk mengurangi kesalahan identifikasi dan konflik setelah transaksi, Bravo Motor mulai menerapkan sistem SOP verifikasi yang lebih ketat dibanding toko sparepart konvensional.
Dalam beberapa kasus, pelanggan diminta mengirim dokumentasi part lama, nomor rangka kendaraan, hingga detail pemasangan sebelum proses komplain atau retur dilakukan.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena kesalahan kecil dalam identifikasi sparepart dapat menyebabkan bongkar pasang ulang hingga biaya tambahan di bengkel.
“Kesalahan kecil dalam identifikasi part bisa bikin bongkar pasang ulang, buang waktu, bahkan biaya jadi lebih besar,” ujar Kenny.
Menurutnya, sistem identifikasi berbasis data tersebut berhasil menekan kesalahan identifikasi hingga mendekati nol selama seluruh prosedur dilakukan dengan benar.
Didirikan oleh Hengky Purnomo pada 1996, Bravo Motor awalnya dikenal sebagai toko sparepart konvensional dengan fokus kendaraan Honda.
Namun seiring perkembangan industri otomotif digital, bisnis tersebut kini berkembang menjadi layanan precision and reliable parts sourcing untuk berbagai merek kendaraan.
Saat ini Bravo Motor melayani penjualan melalui toko offline, marketplace, WhatsApp, hingga webstore untuk pelanggan retail maupun bengkel di berbagai daerah.
Dalam 12 hari aktif selama Mei 2026 saja, sistem internal mereka mencatat lebih dari 6.700 chat pelanggan atau rata-rata lebih dari 560 percakapan per hari.
Menurut Kenny, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masa depan bisnis sparepart tidak lagi hanya bergantung pada stok barang, tetapi juga kemampuan membaca kebutuhan kendaraan secara akurat dan membangun komunikasi teknis yang baik dengan pelanggan.
“Semakin mudah orang membeli sparepart sendiri, semakin penting juga komunikasi yang benar supaya tidak salah beli,” ujarnya.
(om/ril)








