
OTO Mounture — MIND ID terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengembangan proyek-proyek strategis hilirisasi di seluruh anggota grup.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan bahwa perusahaan konsisten menjalankan mandat sebagai pengelola sumber daya mineral dan batu bara sekaligus penggerak utama agenda hilirisasi nasional.
“Komitmen kami adalah memastikan hilirisasi tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi perekonomian, mendukung ketahanan energi, serta transisi energi terbarukan,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR RI di Jakarta, belum lama ini.
Salah satu fokus utama MIND ID saat ini adalah pengembangan rantai industri terintegrasi bauksit–alumina–aluminium. Dalam skema ini, ANTAM bertugas mengelola tambang bauksit, yang kemudian diolah menjadi alumina oleh PT Borneo Alumina Indonesia.
Selanjutnya, INALUM mengembangkan smelter aluminium dengan dukungan pasokan energi dari Bukit Asam melalui PLTU Mempawah.
Integrasi ini memungkinkan seluruh proses pengolahan dilakukan di dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan impor aluminium dan memperkuat industri nasional.
BACA JUGA: Penjualan Mobil Astra pada Maret 2026 Turun, Namun Pangsa Pasar Masih Dominan di Indonesia
Pada komoditas emas, ANTAM tengah membangun fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik, dengan dukungan pasokan bahan baku dari Freeport Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan meningkatkan daya saing produk emas nasional, khususnya untuk kebutuhan investasi domestik.
Di sektor energi, MIND ID juga mendorong proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi LPG impor. Proyek ini dijalankan oleh Bukit Asam dengan memanfaatkan cadangan batu bara kalori rendah serta pengembangan kawasan industri pendukung.
Dalam pengembangan mineral kritis, MIND ID melalui Vale Indonesia tengah menggarap sejumlah proyek strategis, termasuk pengolahan nikel kadar rendah di Sorowako dan pembangunan smelter HPAL di Pomalaa, Bahodopi, serta Sorowako.
Proyek ini ditujukan untuk menghasilkan bahan baku penting seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan feronikel (FeNi), yang menjadi bagian dari rantai pasok industri baterai dan logam global.
Sejalan dengan itu, MIND ID juga mengembangkan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (EV) yang terintegrasi, mulai dari penambangan bijih nikel di Halmahera Timur, pengolahan dan pemurnian, hingga pembangunan pabrik battery cell dan battery pack di Karawang.
Langkah ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam industri kendaraan listrik global.
BACA JUGA: BRI Finance Ungkap Penyebab Pembiayaan Mobil Baru Lesu 2026
Untuk komoditas timah, hilirisasi diarahkan pada pengembangan produk turunan bernilai tambah, seperti timah bubuk melalui fasilitas Batu Ausmelt dan Batu Industri.
Ke depan, MIND ID juga akan memperkuat program riset dan pengembangan (R&D) guna mendukung keberlanjutan proyek hilirisasi. Penguatan R&D dinilai penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus mengantisipasi dinamika pasar global.
“Kami ingin memiliki R&D sendiri, baik untuk aspek teknis pertambangan maupun analisis pasar, sehingga dapat lebih siap menghadapi persaingan global,” tutup Maroef.
Melalui berbagai inisiatif ini, MIND ID menegaskan komitmennya dalam mendorong hilirisasi sebagai kunci transformasi ekonomi Indonesia menuju industri bernilai tambah tinggi dan berkelanjutan.
(om/ril)








