BRI Finance Ungkap Penyebab Pembiayaan Mobil Baru Lesu 2026

 

GIIAS 2025
Foto: OTO Mounture/Luchito Sangsoko

OTO Mounture — PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) menegaskan komitmennya untuk menjaga kinerja pembiayaan tetap sehat di tengah tekanan industri otomotif nasional sepanjang 2026. Di tengah tren pelemahan permintaan pembiayaan mobil baru, perusahaan mulai mengadopsi strategi yang lebih adaptif dan selektif.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengungkapkan bahwa terdapat dua faktor utama yang memengaruhi penurunan pembiayaan mobil baru saat ini.

Pertama adalah meningkatnya kehati-hatian konsumen akibat ketidakpastian ekonomi, dan kedua adalah penyesuaian harga kendaraan yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.

“Kondisi ini membuat persaingan industri pembiayaan semakin ketat, sehingga diperlukan strategi yang adaptif serta pengelolaan risiko yang prudent,” jelasnya.

BACA JUGA: Penjualan Mobil Tiongkok di Indonesia Maret 2026: BYD dan Jaecoo Bersaing Ketat, Ini Data Lengkapnya

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan mobil baru di industri multifinance mengalami kontraksi sebesar 4,65% secara tahunan (year-on-year/YoY), menjadi Rp142,59 triliun.

Penurunan ini dipicu oleh sejumlah faktor seperti kenaikan harga kendaraan, perubahan preferensi konsumen, hingga sikap wait and see masyarakat dalam mengambil keputusan pembelian.

Meski demikian, pembiayaan mobil baru masih menjadi kontributor terbesar dalam portofolio BRI Finance dengan porsi mencapai 40,05%. Sementara itu, pembiayaan mobil bekas menyumbang sekitar 9,87%.

Untuk menghadapi kondisi ini, BRI Finance menerapkan strategi penyaluran pembiayaan yang lebih selektif. Salah satunya melalui penyesuaian pricing berbasis profil risiko nasabah.

Selain itu, perusahaan juga memberikan fleksibilitas dalam skema kredit, mulai dari pilihan tenor yang lebih variatif hingga penyesuaian uang muka (down payment/DP). Langkah ini dilakukan untuk menjaga keterjangkauan kredit tanpa mengorbankan kualitas portofolio.

Strategi ini diharapkan mampu menjaga pertumbuhan pembiayaan tetap stabil sekaligus memastikan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.

BACA JUGA: Penjualan Mobil Astra pada Maret 2026 Turun, Namun Pangsa Pasar Masih Dominan di Indonesia

Di sisi lain, terjadi perubahan preferensi konsumen dalam memilih kendaraan. Saat ini, masyarakat cenderung memilih mobil dengan total biaya kepemilikan yang lebih rendah, seperti Low Cost Green Car (LCGC).

Selain itu, kendaraan jenis Sport Utility Vehicle (SUV) juga semakin diminati karena dinilai lebih fungsional untuk kebutuhan keluarga dan aktivitas harian.

Sementara itu, minat terhadap kendaraan listrik memang terus meningkat, namun belum menjadi kontributor utama dalam pembiayaan.

“Pergeseran ini turut memengaruhi komposisi pembiayaan kendaraan di pasar, baik mobil baru maupun bekas,” tutup Dhani.

(om/ril)

 

 

, , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *