Bukan Sekadar Parkir, Begini Cara Secure Parking Kelola Operasional di Pondok Indah

Secure Parking

OTO Mounture — Bagi pengunjung, aktivitas parkir mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Kendaraan masuk, mencari tempat, membayar, kemudian keluar. Namun, di balik proses sederhana tersebut terdapat sistem operasional yang harus berjalan tanpa henti.

Hal tersebut terlihat dari pengelolaan parkir di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. PT Securindo Packatama Indonesia (Secure Parking Indonesia/SPI) mengelola operasional parkir di Pondok Indah Mall (PIM) 1, PIM 2, PIM 3, PIM 5, serta Pondok Indah Office Tower (PIOT).

Kelima area tersebut memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pengelolaan parkir tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sepenuhnya sama.

Melalui media site visit yang berlangsung Rabu, 19 Agustus 2026, SPI memperlihatkan berbagai aspek di balik operasional parkir, mulai dari pengaturan area, pengelolaan kapasitas, Control Room, penataan fisik, hingga pemanfaatan teknologi.

“Setiap area memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Tantangannya adalah bagaimana kami menyesuaikan operasional tanpa mengurangi standar layanan,” ujar Managing Director Secure Parking Indonesia, Rustam Rachmat.

Di kawasan Pondok Indah, kapasitas parkir yang dikelola SPI secara agregat mencapai sekitar 10.000 kendaraan di lima area. Operasional kawasan juga berlangsung selama 24 jam.

Kondisi tersebut membuat pengelolaan parkir membutuhkan penyesuaian, baik dari sisi kapasitas, arus kendaraan, pelayanan, maupun kondisi masing-masing area.

Salah satunya terlihat pada Premium Area yang memiliki karakter layanan dan tarif berbeda dibandingkan area parkir reguler.

Untuk tarif, kebijakan dan penetapannya merupakan bagian dari keputusan pengelola gedung atau kawasan. Sementara SPI berperan memastikan ketentuan tersebut diterapkan secara konsisten dalam operasional di lapangan. Pendekatan yang sama juga diterapkan dalam penataan area parkir.

SPI melakukan modernisasi sekaligus pemeliharaan berbagai elemen fisik, termasuk marka parkir dan pengecatan lantai menggunakan epoxy.

Di kawasan Pondok Indah, penggunaan warna epoxy dibedakan pada setiap lantai. Tujuannya untuk memberikan identitas visual sehingga pengguna lebih mudah mengenali area parkir.

Pemilihan warna mengikuti arahan pengelola gedung, sedangkan implementasi dan pemeliharaan area menjadi bagian dari pekerjaan operasional SPI.

Bagi perusahaan, penataan tersebut bukan sekadar persoalan estetika. Marka, warna area, dan signage menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan parkir yang lebih terstruktur dan mudah dipahami.

“Standarnya harus konsisten, tetapi cara kita menjalankannya tidak selalu bisa sama di setiap lokasi. Kami perlu memahami kondisi masing-masing area dan menyesuaikan operasional dengan kebutuhan di lapangan,” kata Rustam.

BACA JUGA: Rifat Sungkar Bawa BMW M3 E30 dari Lintasan Rally ke IMX 2026

Pengelolaan kawasan dengan karakter yang beragam membutuhkan monitoring dan koordinasi secara berkesinambungan. Di Pondok Indah, SPI memiliki Control Room terpusat yang menjadi bagian dari sistem pemantauan dan koordinasi operasional.

Tim bekerja dengan sistem shift untuk memastikan monitoring serta respons terhadap kondisi di lapangan dapat berlangsung sepanjang waktu. SPI juga memanfaatkan perangkat otomatis untuk membantu memantau kapasitas parkir yang tersedia.

Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dukungan dalam mengatur arus kendaraan sekaligus memantau kondisi operasional di area parkir.

Dengan demikian, pengelolaan parkir tidak hanya terjadi di pintu masuk dan keluar. Ada koordinasi antara petugas lapangan, sistem monitoring, pengaturan kapasitas, dan Control Room untuk memastikan operasional berjalan sesuai kebutuhan.

“Teknologi membantu kami bekerja lebih efektif, tetapi kualitas layanan tetap ditentukan oleh bagaimana sistem dan SDM bekerja bersama,” ujar Rustam.

Teknologi menjadi salah satu bagian dari pengembangan layanan Secure Parking Indonesia. Namun, perusahaan menilai teknologi bukanlah tujuan akhir.

Melalui Epsilon Parking System (EPS), SPI menggunakan sistem parkir berbasis cloud dengan kontrol dan monitoring terpusat.

Sistem tersebut mendukung berbagai kebutuhan operasional, mulai dari pencatatan kendaraan, monitoring, pelaporan, hingga integrasi pembayaran digital.

SPI juga mengembangkan eNOS (Epsilon No Scan No Tap) yang memungkinkan pengalaman parkir digital tanpa tiket, kartu, maupun proses tap.

Kendaraan dapat diidentifikasi menggunakan License Plate Recognition (LPR), sedangkan transaksi dilakukan secara digital melalui aplikasi. Teknologi tersebut menjadi bagian dari pengembangan sistem digital SPI yang diterapkan secara nasional.

Selain itu, di lapangan SPI juga menggunakan Flaplock untuk membantu pengaturan dan pengamanan akses kendaraan. Infrastruktur operasional juga terus menyesuaikan kebutuhan baru kawasan, termasuk keberadaan fasilitas EV charging.

Menurut SPI, manfaat teknologi bukan hanya terletak pada perangkat yang digunakan, tetapi bagaimana teknologi tersebut mampu membuat proses lebih praktis, pencatatan lebih sistematis, dan monitoring lebih mudah.

“Yang kami lihat bukan sekadar perangkat apa yang digunakan, tetapi bagaimana teknologi tersebut membantu tim menjalankan operasional dengan lebih tertib dan konsisten,” kata Rustam.

BACA JUGA: Berapa Biaya Mobil Listrik Selama 5 Tahun? VinFast Punya Kalkulator TCO

Perubahan karakter kawasan dan meningkatnya ekspektasi pengguna turut mengubah peran operator parkir. Operator kini tidak hanya bertugas memastikan kendaraan dapat masuk dan keluar. Mereka juga dituntut memahami aktivitas kawasan, pola pengguna, kebutuhan pengelola, serta bagaimana operasional dapat berjalan lebih efektif.

Karena itu, koordinasi antara pengelola kawasan dan operator menjadi bagian penting dalam pengelolaan parkir.

Kebijakan serta kebutuhan kawasan menjadi acuan, sementara SPI menerjemahkannya ke dalam pelaksanaan operasional sekaligus memastikan standar layanan diterapkan di lapangan.

“Keberhasilan layanan parkir bukan hanya soal kendaraan bisa masuk dan keluar, tetapi bagaimana layanan tersebut dapat mendukung kawasan berjalan dengan baik,” ujar Rustam.

Di tengah kebutuhan kawasan yang semakin beragam, Secure Parking Indonesia menargetkan pertumbuhan bisnis sebesar 10 persen pada 2026.

Target tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas layanan sekaligus mempertahankan kualitas operasional.

Memasuki paruh kedua 2026, SPI akan menyeimbangkan ekspansi jaringan dengan penguatan lokasi yang sudah berjalan, pengembangan teknologi, serta peningkatan kualitas operasional.

Bagi perusahaan, pertumbuhan tidak hanya diukur berdasarkan jumlah lokasi baru.

Tantangan berikutnya adalah memastikan standar pelayanan tetap konsisten ketika SPI mengelola lebih banyak kawasan dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda.

“Pertumbuhan bukan hanya tentang bertambahnya lokasi. Yang tidak kalah penting adalah memastikan setiap lokasi dapat kami layani dengan standar operasional dan kualitas layanan yang konsisten,” tutup Rustam.

(om/pd)

 

 

, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *