
OTO Mounture — Industri perparkiran di Indonesia kini menghadapi perubahan yang jauh lebih besar dibanding sekadar menyediakan ruang untuk kendaraan. Perkembangan mobilitas perkotaan, teknologi digital, hingga meningkatnya ekspektasi pengguna membuat operator parkir dituntut menghadirkan layanan yang semakin praktis, transparan, dan responsif.
Kondisi tersebut turut dihadapi Secure Parking Indonesia (SPI) yang akan memasuki usia ke-34 pada Oktober mendatang. Di tengah perubahan industri perparkiran, pengalaman selama puluhan tahun menjadi modal yang dipadukan dengan cara kerja dan perspektif generasi yang lebih muda.
Chief Brand Manager SPI Regan Rachmat mengatakan, pengalaman tetap menjadi dasar dalam mengambil keputusan, tetapi perusahaan juga harus terbuka terhadap perubahan.
“Pengalaman menjadi dasar dalam mengambil keputusan, tetapi kita juga harus terbuka terhadap perubahan. Yang penting adalah memahami nilai dan pembelajaran di balik pengalaman tersebut, kemudian menerapkannya dengan cara yang relevan dengan kondisi saat ini,” ujar Regan.
Menurutnya, pengguna layanan parkir kini semakin terbiasa dengan proses yang praktis, pembayaran non-tunai, tarif yang jelas, informasi yang mudah diakses, serta penanganan masalah secara cepat. Di sisi lain, pemilik properti juga menuntut pengelolaan yang lebih transparan dan efisien.
Perubahan tersebut mendorong industri perparkiran untuk memanfaatkan teknologi, mulai dari pembayaran digital, pengenalan kendaraan, pemantauan operasional hingga pemanfaatan data. Teknologi tidak hanya digunakan untuk mempercepat proses, tetapi juga mendukung operator dalam memahami kapasitas, akses, dan kebutuhan pengguna.
“ Tantangan kami bukan hanya mengadopsi teknologi, tetapi memastikan teknologi tersebut benar-benar membuat pengalaman pengguna jadi lebih baik dan memperkuat kualitas operasional,” kata Regan.
BACA JUGA: VinFast Kenalkan Ekosistem Mobil Listrik di GIIAS Semarang 2026
Transformasi layanan parkir juga berjalan beriringan dengan proses pembelajaran antar-generasi. Regional Business Manager SPI Khairul Hafis mengatakan, semakin besar skala bisnis, semakin beragam karakter lokasi dan tantangan operasional yang dihadapi.
Karena itu, standar dan prosedur tetap diperlukan, tetapi penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi setiap lokasi.
Sementara itu, Car Park Manager SPI Arief Saputera menilai karyawan muda tidak hanya belajar mengenai prosedur dari rekan yang lebih berpengalaman. Mereka juga belajar membaca situasi, berkomunikasi dengan pengguna, hingga mengambil keputusan ketika menghadapi persoalan operasional.
Hal serupa dirasakan Business Development Executive SPI Mitha Kavita. Pengalaman dari rekan kerja yang lebih senior menjadi referensi ketika menghadapi situasi berbeda, khususnya dalam memahami karakter mitra dan menentukan pendekatan komunikasi.
BACA JUGA: GAC Aion UT Urban Meluncur di GIIAS Semarang 2026, Harga Rp345 Juta
Perkembangan teknologi juga menjadi bagian penting dalam transformasi kerja di SPI. Dhea Nuralif Islamiah dari IT Division menjelaskan bahwa sejumlah proses yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat dibantu sistem, salah satunya melalui Epsilon yang membantu mengintegrasikan proses operasional dan informasi layanan.
Menurut Dhea, generasi muda dapat berperan sebagai penghubung antara kebutuhan pengguna dan solusi teknologi. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi tidak berhenti pada penggunaan sistem baru, tetapi diarahkan untuk menjawab persoalan operasional secara konkret.
Pada akhirnya, transformasi Secure Parking Indonesia bukan berarti meninggalkan seluruh cara lama. Nilai seperti integritas, tanggung jawab, disiplin, dan komitmen terhadap pelayanan tetap menjadi fondasi.
Yang berubah adalah cara menerapkannya. Teknologi, kebutuhan pelanggan, pola komunikasi, serta cara kerja terus berkembang. Bagi generasi muda SPI, tantangannya bukan sekadar meneruskan apa yang telah dibangun, tetapi memahami nilai di baliknya dan menemukan cara baru agar tetap relevan di tengah perubahan industri perparkiran Indonesia.
(om/ns)








