Rider Indonesia Tembus Everest Base Camp Tibet, Jelajahi Atap Dunia dengan Sepeda Motor

Rider Indonesia

OTO Mounture — Dua rider Indonesia, Rial Hamzah dan Adet Vriono, kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ekspedisi internasional bertajuk Ride To The Roof Of The World.

Setelah sukses mencapai Lhasa, ibu kota Tibet pada 17 Mei 2026, keduanya melanjutkan perjalanan hingga berhasil mencapai Everest Base Camp North Face Tibet dan kawasan Gunung Everest dari sisi utara Tibet, Tiongkok.

Pencapaian ini menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan ribuan kilometer yang mereka tempuh melintasi Asia Tenggara hingga dataran tinggi Tibet, kawasan yang dikenal luas sebagai Roof of The World atau Atap Dunia.

Perjalanan menuju kawasan Everest dilakukan melalui Gyawula Pass, jalur pegunungan yang berada pada ketinggian sekitar 5.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Dari titik tersebut, Rial dan Adet dapat menyaksikan panorama Pegunungan Himalaya yang membentang luas, termasuk Gunung Everest atau Qomolangma yang menjulang setinggi 8.848,86 meter.

Bagi banyak petualang, mencapai Everest Base Camp merupakan pencapaian besar. Namun bagi tim ekspedisi Indonesia ini, titik tersebut justru menjadi awal dari perjalanan yang lebih menantang.

Setelah meninggalkan kawasan Everest Base Camp, perjalanan berlanjut menyusuri dua jalur overland paling terkenal di Tiongkok, yakni Route 318 dan Route 317.

Kedua rute ini dikenal sebagai salah satu jalur perjalanan darat paling spektakuler di dunia karena melintasi dataran tinggi Tibet, pegunungan bersalju, lembah terpencil, hingga kawasan yang masih sangat minim akses wisatawan internasional.

Rute perjalanan membawa tim dari Shigatse menuju Nagqu, Baqing, Sog, Dengqen, Chamdo hingga akhirnya memasuki Provinsi Sichuan.

Selama lebih dari satu minggu, mereka berkendara secara konsisten pada ketinggian antara 4.500 hingga lebih dari 5.000 meter di atas permukaan laut. Salah satu tantangan terbesar selama menjelajahi Tibet adalah kondisi lingkungan ekstrem.

Pada ketinggian tersebut, udara menjadi jauh lebih tipis dibandingkan wilayah pegunungan pada umumnya. Suhu udara juga sering berada di bawah titik beku dengan kadar oksigen yang rendah.

Meski tubuh mulai beradaptasi, Rial dan Adet tetap mengalami gejala Acute Mountain Sickness (AMS) seperti pusing, sesak napas, mudah lelah, penurunan stamina, dan sulit beristirahat.

Karena itu, oksigen portabel menjadi perlengkapan wajib yang selalu disiapkan selama perjalanan.

Rider Indonesia di Tibet

BACA JUGA: IDRS Resmi Dideklarasikan, Jadi Standar Baru Keselamatan Sepeda Motor di Indonesia

Menurut Rial Hamzah, pengalaman berkendara di Tibet sangat berbeda dibandingkan kawasan pegunungan bersalju di Eropa.

“Di Eropa kita bisa menemukan salju yang indah, namun umumnya berada pada elevasi yang jauh lebih rendah. Di Tibet kami menghadapi kombinasi salju, suhu beku, udara tipis, dan ketinggian ekstrem di atas 5.000 meter. Tantangannya benar-benar berbeda dan membutuhkan adaptasi fisik yang serius,” ujar Rial.

Selain Everest Base Camp, ekspedisi ini juga mengunjungi Yuexionggou High Mountain Periglacial Wetland Park yang berada di Baqing County, Tibet.

Kawasan tersebut merupakan ekosistem pegunungan tinggi yang terbentuk akibat proses glasial dan periglacial selama ribuan tahun. Sumber airnya berasal dari pencairan salju dan es pegunungan Tibet.

Menurut pemandu lokal yang mendampingi perjalanan, area tersebut baru dalam beberapa tahun terakhir dapat diakses wisatawan asing dengan izin khusus.

Bagi Rial dan Adet, kunjungan ke kawasan glacier ini menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama menjelajahi Tibet.

Berdasarkan informasi dari pemandu resmi yang mendampingi perjalanan, sangat mungkin keduanya menjadi rider Indonesia pertama yang mencapai kawasan tersebut menggunakan sepeda motor berpelat Indonesia.

Ekspedisi Ride To The Roof Of The World juga menunjukkan kuatnya kolaborasi antar rider Asia Tenggara.

Untuk memasuki wilayah Tiongkok dan Tibet menggunakan kendaraan asing, Rial dan Adet bergabung bersama 11 rider asal Malaysia dalam satu rombongan ekspedisi.

Proses tersebut tidak mudah karena membutuhkan berbagai izin resmi, pengurusan dokumen kendaraan internasional, serta persiapan yang dilakukan berbulan-bulan sebelum keberangkatan.

Rider Indonesia di Tibet

BACA JUGA: Motul dan Jayadi Racing Team Bersinergi Cetak Pembalap Muda Berprestasi

Menurut Adet Vriono, tantangan terbesar selama ekspedisi bukan hanya medan dan cuaca ekstrem, melainkan menjaga kondisi fisik dan mental selama berminggu-minggu berada di lingkungan berkadar oksigen rendah.

“Setiap hari kami harus beradaptasi dengan perubahan elevasi, cuaca, dan kondisi tubuh. Perjalanan ini mengajarkan bahwa konsistensi, kesabaran, dan kerja sama tim jauh lebih penting daripada kecepatan,” kata Adet.

Setelah meninggalkan dataran tinggi Tibet dan memasuki wilayah Sichuan, rombongan rider Indonesia dan Malaysia sempat singgah di Chengdu. Di kota tersebut mereka melaksanakan ibadah qurban bersama di salah satu masjid setempat.

Momen ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan, terutama bagi Adam Malik, rider Malaysia keturunan Medan yang biasanya melaksanakan qurban di Malaysia maupun Sumatera Utara.

Pelaksanaan ibadah qurban setelah menyelesaikan perjalanan panjang dari salah satu kawasan tertinggi dan paling terpencil di dunia memberikan makna spiritual tersendiri bagi seluruh peserta ekspedisi.

Sebagai Pengurus Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bidang Touring dan Komunitas, Rial Hamzah berharap ekspedisi ini dapat menjadi inspirasi bagi perkembangan wisata touring dan overland Indonesia di tingkat internasional.

Menurutnya, perjalanan ini membuktikan bahwa rider Indonesia mampu menjalankan ekspedisi lintas negara secara profesional, bertanggung jawab, serta mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan global.

“Perjalanan ini membuktikan bahwa rider Indonesia mampu melakukan ekspedisi lintas negara secara profesional, bertanggung jawab, dan mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan dunia. Harapannya semakin banyak rider Indonesia yang berani menjelajah dunia sambil membawa nama baik bangsa,” ungkap Rial.

Menariknya, selama ribuan kilometer perjalanan melintasi Malaysia, Thailand, Laos, China, Tibet hingga kembali menuju Asia Tenggara, seluruh sepeda motor yang digunakan berhasil menyelesaikan ekspedisi tanpa mengalami kerusakan mayor.

Hal tersebut menjadi bukti pentingnya persiapan matang, pemilihan perlengkapan berkualitas, serta manajemen perjalanan yang baik.

(om/ril)

 

 

, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *