Mobil Murah Belum Tentu Hemat? Ini Hitungan Biaya Perawatan 5 Tahun

Suzuki Fronx

OTO Mounture — Harga menjadi salah satu pertimbangan utama ketika seseorang hendak membeli mobil. Namun, biaya yang perlu disiapkan tidak berhenti ketika transaksi pembelian selesai.

Selama digunakan, mobil membutuhkan biaya perawatan, servis berkala, bahan bakar, pajak, asuransi hingga penggantian sejumlah komponen. Belum lagi penurunan nilai atau depresiasi kendaraan ketika nantinya dijual kembali.

Karena itu, calon pemilik mobil sebaiknya tidak hanya melihat harga kendaraan di awal, tetapi juga menghitung biaya kepemilikan mobil dalam jangka waktu tertentu.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Total Cost of Ownership (TCO). Konsep ini memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai total biaya yang dikeluarkan selama kendaraan dimiliki dan digunakan.

Apa Itu Total Cost of Ownership Mobil?

Secara sederhana, TCO merupakan perhitungan seluruh biaya yang berkaitan dengan kepemilikan kendaraan selama periode tertentu. Harga pembelian menjadi salah satu komponen utama. Namun, biaya operasional dan perawatan selama mobil digunakan juga perlu diperhitungkan.

Sebagai ilustrasi, seseorang membeli mobil seharga Rp300 juta dan menggunakannya selama lima tahun dengan jarak tempuh sekitar 75.000 kilometer.

Dalam periode tersebut, pemilik mengeluarkan biaya untuk servis berkala, suku cadang, bahan bakar, pajak, asuransi dan kebutuhan lainnya. Di sisi lain, kendaraan juga mengalami depresiasi karena nilai jualnya umumnya lebih rendah dibandingkan ketika pertama dibeli.

Misalnya, setelah lima tahun mobil tersebut memiliki nilai jual kembali Rp180 juta. Artinya, secara sederhana terdapat selisih Rp120 juta dari harga pembelian awal yang berkaitan dengan penurunan nilai kendaraan.

Jika selama masa kepemilikan terdapat tambahan biaya operasional dan perawatan, seluruh pengeluaran tersebut perlu dimasukkan ketika menghitung TCO. Dengan demikian, biaya kepemilikan mobil tidak hanya ditentukan oleh harga beli dan harga jual kembali.

Besaran TCO tentu berbeda pada setiap model karena dipengaruhi banyak faktor, mulai dari harga kendaraan, konsumsi bahan bakar, pola pemakaian, biaya servis, harga suku cadang, pajak, asuransi hingga nilai jual kembali.

Fronx

BACA JUGA: Jaecoo J5 dan Janji Asuransi All Risk, Konsumen Ramai Berbagi Pengalaman

Biaya Perawatan Mobil Perlu Dihitung Sejak Awal

Salah satu komponen yang sering luput dari perhatian ketika membeli mobil adalah biaya perawatan mobil. Mobil dengan harga pembelian lebih rendah belum tentu menghasilkan biaya kepemilikan yang lebih rendah apabila biaya servis dan komponennya lebih tinggi.

Sebaliknya, mobil dengan harga awal lebih tinggi dapat memiliki biaya kepemilikan yang berbeda apabila mendapatkan program perawatan tertentu, konsumsi bahan bakarnya efisien atau memiliki nilai jual kembali yang relatif baik.

Sebagai contoh sederhana, terdapat dua mobil dengan harga masing-masing Rp300 juta dan Rp320 juta. Mobil pertama membutuhkan biaya perawatan dan suku cadang sebesar Rp25 juta selama lima tahun. Sementara mobil kedua membutuhkan Rp15 juta pada periode yang sama.

Pada saat pembelian, terdapat selisih harga Rp20 juta. Setelah biaya perawatan dimasukkan, selisih pengeluaran antara keduanya menjadi berbeda.

Ilustrasi tersebut memang belum memperhitungkan konsumsi BBM, pajak, asuransi, ban, depresiasi maupun biaya tidak terduga. Namun, contoh tersebut menunjukkan bahwa harga mobil bukan satu-satunya angka yang menentukan biaya kepemilikan.

Karena itu, konsumen dapat meminta estimasi biaya servis hingga periode tertentu sebelum memutuskan membeli kendaraan.

Program Servis Suzuki

Program Servis Gratis Bisa Mengurangi Biaya Awal

Program servis gratis juga dapat menjadi salah satu aspek yang diperhatikan ketika membandingkan biaya kepemilikan mobil. Sejumlah produsen memberikan paket perawatan gratis untuk model tertentu selama periode atau jarak tempuh yang telah ditentukan.

Suzuki, misalnya, mencantumkan program servis gratis pada sejumlah modelnya. Pada Suzuki Fronx, program tersebut mencakup jasa dan komponen tertentu hingga 50.000 kilometer atau 30 bulan.

Program seperti ini dapat membantu pemilik mengurangi sebagian pengeluaran perawatan rutin pada periode awal kepemilikan. Namun, konsumen tetap perlu melihat detail program sebelum membeli. Cakupan servis gratis dapat berbeda berdasarkan model, tipe kendaraan, periode kepemilikan maupun jarak tempuh.

Artinya, angka yang tercantum dalam program servis gratis sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai gambaran seluruh biaya perawatan mobil. Komponen yang tidak termasuk dalam program tetap perlu diperhitungkan.

BACA JUGA: Suzuki BIT Pulo Gadung Hadir dengan Konsep Baru, Ada Service Campaign untuk 100 Mobil

Jaringan Bengkel dan Ketersediaan Suku Cadang

Selain menghitung nominal biaya servis, konsumen juga perlu mempertimbangkan kemudahan mendapatkan layanan purnajual. Jaringan bengkel resmi menjadi salah satu faktor yang relevan, terutama bagi pemilik yang sering menggunakan mobil untuk perjalanan luar kota.

Ketika kendaraan membutuhkan perawatan atau mengalami masalah, keberadaan bengkel dan ketersediaan suku cadang dapat memengaruhi waktu serta biaya yang diperlukan untuk kembali menggunakan kendaraan.

Harga suku cadang fast moving juga bisa dibandingkan sejak awal. Komponen seperti filter, kampas rem, busi untuk kendaraan tertentu, wiper hingga ban merupakan bagian dari kebutuhan yang kemungkinan akan muncul selama masa kepemilikan.

Selain jaringan bengkel, sejumlah merek juga menawarkan layanan tambahan seperti booking servis, layanan teknisi ke lokasi maupun bantuan darurat di jalan.

Suzuki, misalnya, memiliki layanan Halo Suzuki dan Suzuki Emergency Roadside Assistance (SERA) dengan ketentuan layanan yang berlaku. Bagi konsumen yang sering melakukan perjalanan jauh, aspek tersebut dapat dimasukkan sebagai pertimbangan ketika menghitung biaya dan kemudahan kepemilikan kendaraan.

Suzuki Fronx GL AT
Foto: OTO Mounture/Ayyfitria

Jangan Lupakan Konsumsi BBM, Pajak dan Asuransi

Komponen lain yang perlu dimasukkan dalam perhitungan adalah biaya penggunaan sehari-hari. Konsumsi bahan bakar dapat memberikan perbedaan cukup besar apabila kendaraan digunakan dalam jarak tempuh tinggi.

Sebagai contoh, konsumen yang berkendara rata-rata 15.000 kilometer per tahun akan menempuh sekitar 75.000 kilometer dalam lima tahun. Dengan jarak tersebut, selisih konsumsi BBM antar-kendaraan dapat menghasilkan perbedaan pengeluaran yang cukup signifikan.

Selain bahan bakar, pajak tahunan dan premi asuransi juga perlu diperhitungkan. Besaran pajak dapat berbeda berdasarkan kendaraan dan wilayah registrasi, sementara biaya asuransi dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti nilai kendaraan, jenis pertanggungan dan kebijakan perusahaan asuransi.

Karena itu, calon pembeli sebaiknya meminta simulasi biaya secara lebih lengkap berdasarkan kondisi penggunaan masing-masing.

BACA JUGA: Pilihan Mobil Hybrid Suzuki Makin Lengkap, Biaya Perawatan Mobil Jadi Nilai Tambah

Nilai Jual Kembali Ikut Menentukan TCO

Mobil yang dimiliki selama beberapa tahun akan mengalami depresiasi. Nilai kendaraan ketika dijual kembali menjadi salah satu komponen penting dalam menghitung biaya kepemilikan bersih.

Sebagai gambaran, mobil dengan harga pembelian Rp300 juta yang kemudian dijual Rp180 juta setelah lima tahun memiliki selisih nilai Rp120 juta.

Namun, nilai tersebut bukan berarti seluruhnya merupakan biaya yang benar-benar dibayarkan secara tunai selama masa penggunaan. Angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai penurunan nilai aset kendaraan yang perlu diperhitungkan dalam TCO.

Kondisi kendaraan, usia, jarak tempuh, riwayat perawatan, kondisi pasar mobil bekas dan permintaan terhadap model tertentu dapat memengaruhi harga jual kembali.

Riwayat servis yang terdokumentasi juga dapat menjadi informasi penting ketika kendaraan nantinya ditawarkan di pasar mobil bekas.

Cara Sederhana Menghitung Biaya Kepemilikan Mobil

Konsumen tidak harus membuat perhitungan yang rumit untuk mendapatkan gambaran awal TCO. Perhitungan sederhana dapat dimulai dengan mencatat:

– Harga pembelian mobil
– Biaya servis berkala
– Harga suku cadang
– Konsumsi BBM
– Pajak kendaraan
– Premi asuransi
– Ban dan komponen yang mengalami keausan
– Biaya tidak terduga
– Perkiraan nilai jual kembali

Sebagai contoh, jika kendaraan direncanakan digunakan selama lima tahun dengan jarak tempuh 75.000 kilometer, maka konsumen dapat meminta estimasi biaya servis sampai jarak tersebut.

Data tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan kendaraan lain menggunakan periode dan jarak tempuh yang sama. Dengan metode ini, perbandingan tidak berhenti pada harga mobil, tetapi berkembang menjadi perbandingan mengenai berapa biaya yang harus disiapkan selama kendaraan digunakan.

After Sales Menjadi Bagian dari Biaya Kepemilikan

Pada akhirnya, layanan purnajual atau after sales bukan hanya soal fasilitas tambahan setelah pembelian. Ketersediaan bengkel, suku cadang, program perawatan, kemudahan booking servis dan bantuan ketika kendaraan mengalami masalah semuanya berkaitan dengan pengalaman serta biaya kepemilikan dalam jangka panjang.

Bagi konsumen, informasi tersebut idealnya sudah dikumpulkan sebelum melakukan pembelian. Dengan begitu, keputusan membeli mobil tidak hanya berdasarkan harga di brosur, tetapi juga mempertimbangkan pengeluaran setelah kendaraan berada di garasi.

Harga pembelian adalah biaya untuk membawa mobil pulang. Sementara itu, biaya kepemilikan baru benar-benar dimulai setelah mobil digunakan.

(om/ns)

 

 

 

, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *