
OTO Mounture — Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai penerapan bahan bakar campuran bioetanol 20 persen atau E20 perlu mempertimbangkan kesiapan teknologi kendaraan yang sudah beredar di Indonesia.
Sebab, sebagian besar merek kendaraan saat ini disebut belum dapat langsung menggunakan BBM E20 tanpa perubahan atau modifikasi pada sejumlah komponen.
Sekretaris Kompartemen Pengembang Industri Gaikindo, Abdul Rohim, mengatakan industri otomotif pada dasarnya mendukung kebijakan pemerintah dalam pengembangan dan penerapan program mandatori biofuel.
Dukungan tersebut, menurutnya, dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai dari memberikan masukan dalam perumusan spesifikasi bahan bakar, metode evaluasi, hingga mengikuti pengujian kendaraan secara statis maupun dinamis.
“Untuk biodiesel, Gaikindo bersama-sama stakeholder lain, support pemerintah dalam menjalankan program mandatori biodiesel dengan aktif memberi masukan perumusan spesifikasi bahan bakar, metode evaluasi, baik statis dan dinamis, sampai berpartisipasi pada road test dari B20 sampai B50 saat ini,” ujarnya.
Menurut Rohim, penerapan bahan bakar dengan campuran bioetanol harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi mesin kendaraan yang saat ini beredar.
Ia menjelaskan, sebagian besar kendaraan sudah mampu menggunakan bahan bakar dengan campuran etanol hingga 10 persen atau E10 tanpa membutuhkan perubahan maupun modifikasi signifikan.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada E20. Campuran bioetanol sebesar 20 persen disebut belum dapat digunakan oleh sebagian besar merek kendaraan yang beredar saat ini.
“Sebagian besar brand saat ini sudah bisa menggunakan sampai E10 tanpa perubahan atau modifikasi yang signifikan. Sedangkan untuk E20, sebagian besar brand saat ini belum bisa menggunakan campuran etanol 20 persen atau E20 dikarenakan banyak komponen yang harus diubah atau dimodifikasi agar bisa comply dengan E20,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum pemerintah menerapkan mandatori bioetanol dengan kadar campuran yang lebih tinggi.
BACA JUGA: IMOS 2026 Siap Jadi Surga Anak Motor, Digelar 20-29 November di ICE BSD
Gaikindo merekomendasikan pemerintah melakukan pengujian secara menyeluruh sebelum menetapkan mandatori bioetanol di atas kadar 5 persen. Pengujian tersebut mencakup pengujian statis dan dinamis untuk mengetahui spesifikasi bahan bakar yang dapat diterima kendaraan yang sudah beredar di Indonesia.
Menurut Rohim, hasil pengujian tersebut kemudian perlu dikonfirmasi melalui road test yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait.
“Sebelum menetapkan mandatori bioetanol lebih dari lima persen, sebaiknya dilakukan pengujian dahulu, baik statis maupun dinamis, untuk membuat atau menetapkan spesifikasi bahan bakar yang bisa diterima kendaraan yang sudah beredar saat ini. Dengan konfirmasi akhir berupa road test yang diikuti oleh seluruh stakeholder yang terkait,” katanya.
Hal tersebut dinilai penting agar masa transisi menuju penggunaan bioetanol dengan kadar lebih tinggi tidak menimbulkan persoalan baru bagi kendaraan yang telah dimiliki masyarakat.
Selain persoalan kesiapan teknologi kendaraan, Gaikindo juga menyoroti sumber bahan baku bioetanol.
Rohim menyarankan pengembangan bioetanol generasi kedua atau 2G. Teknologi tersebut dinilai dapat menjadi pilihan untuk mengurangi potensi persaingan antara kebutuhan bahan baku energi dan kebutuhan pangan.
Di sisi lain, harga bahan bakar bioetanol juga perlu diperhatikan agar dapat diterima konsumen.
Menurut Rohim, karakteristik biofuel yang memiliki densitas energi lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil dapat berdampak terhadap performa serta konsumsi bahan bakar kendaraan.
Karena itu, harga biofuel idealnya dibuat lebih kompetitif untuk mengompensasi potensi perbedaan konsumsi bahan bakar tersebut.
“Dikarenakan sifat dari biofuel memiliki densitas energi yang lebih rendah dari fossil fuel, yang akan berdampak pada performance dan fuel consumption, sehingga idealnya harga biofuel haruslah lebih rendah dari fossil fuel untuk mengkompensasi selisih dari konsumsi bahan bakar dengan fossil fuel, terutama pada bahan bakar campuran tinggi bioetanol,” pungkasnya.
BACA JUGA: Waspada Tabrakan Beruntun di Tol, Kenali 8 Pemicu dan Cara Mencegahnya
Gaikindo juga mengingatkan pentingnya menyediakan pilihan bahan bakar yang sesuai dengan kebutuhan setiap kendaraan. Menurut Rohim, bahan bakar fosil murni seperti E0 dan B0 perlu tetap tersedia bagi kendaraan yang belum dapat menggunakan bahan bakar dengan campuran biofuel tinggi.
Opsi tersebut disebut sebagai protection grid untuk memberikan perlindungan terhadap kendaraan yang teknologinya belum kompatibel dengan bahan bakar campuran tinggi.
Selain ketersediaan pilihan bahan bakar, informasi di stasiun pengisian bahan bakar juga harus dibuat jelas. Hal ini penting untuk mencegah konsumen salah memilih bahan bakar, terutama ketika bahan bakar dengan campuran bioetanol tinggi mulai tersedia di SPBU.
“Tetap disediakan bahan bakar fosil fuel murni atau E0 dan B0 untuk kendaraan yang tidak bisa menggunakan bahan bakar campuran tinggi atau kita sebut sebagai protection grid. Dan terakhir, menghindari salah pengisian bahan bakar terutama campuran tinggi biofuel perlu adanya tanda yang jelas dipasang di SPBU agar masyarakat tidak salah memilih atau mengisi bahan bakar,” terang Rohim.
Sementara itu, pemerintah masih melakukan pembahasan terkait rencana penerapan E20 di Indonesia.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi sebelumnya mengatakan program E20 akan diawali dengan pembahasan komprehensif bersama berbagai pemangku kepentingan.
“Kita melakukan kickoff program (E20) itu artinya kita masih diskusi dulu sama semua stakeholder untuk menentukan apa spesifikasi yang harus kita tentukan untuk dicampur ke bensin, itu ada spesifikasi khusus juga,” ujar Eniya di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Eniya juga mengungkapkan bahwa bahan bakar dengan campuran E10 dan E20 memiliki spesifikasi yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan kajian lebih mendalam sebelum penerapan bahan bakar tersebut dilakukan.
Dengan demikian, rencana penerapan BBM E20 tidak hanya berkaitan dengan kesiapan bahan bakar, tetapi juga harus mempertimbangkan kompatibilitas kendaraan, hasil pengujian, harga, ketersediaan bahan bakar alternatif, hingga edukasi kepada konsumen.
Kesiapan seluruh ekosistem tersebut menjadi penting agar transisi menuju penggunaan biofuel dapat berjalan tanpa menimbulkan masalah bagi kendaraan yang sudah beredar di masyarakat.
(om/mg)








