
OTO Mounture — Kecelakaan beruntun kembali menjadi perhatian setelah sejumlah kejadian di jalan tol mewarnai pemberitaan dan media sosial. Salah satu faktor yang membuat tabrakan beruntun berisiko menimbulkan dampak besar adalah tingginya kecepatan kendaraan serta jarak antarmobil yang relatif rapat.
Kecelakaan beruntun sendiri dapat terjadi karena berbagai faktor, mulai dari pengemudi yang tidak menjaga jarak, berkendara terlalu cepat, hingga kurang fokus ketika berada di balik kemudi.
Karena itu, pengemudi mobil perlu menerapkan pola defensive driving untuk mengurangi risiko terlibat kecelakaan, terutama ketika melaju di jalan tol. Auto2000 membagikan sejumlah faktor yang dapat memicu tabrakan beruntun sekaligus tips untuk mencegahnya.
8 Penyebab Tabrakan Beruntun yang Perlu Diwaspadai
1. Menjadi Lane Hogger
Lane hogger merupakan istilah untuk pengemudi yang menggunakan lajur cepat tetapi tidak menyesuaikan kecepatannya dengan kondisi lalu lintas.
Kondisi tersebut dapat menyulitkan kendaraan lain yang ingin mendahului. Karena itu, setelah selesai melakukan manuver mendahului, pengemudi sebaiknya kembali ke lajur yang sesuai dan tidak terus-menerus berada di lajur kanan.
2. Tidak Menjaga Jarak Aman
Jarak aman menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah tabrakan beruntun di jalan tol. Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin panjang pula jarak yang dibutuhkan untuk melakukan pengereman hingga mobil benar-benar berhenti.
Jika kendaraan terlalu dekat dengan mobil di depan, pengemudi akan memiliki waktu yang lebih sedikit untuk bereaksi ketika kendaraan tersebut melakukan pengereman mendadak.
3. Melaju di Bahu Jalan Tol
Bahu jalan tol diperuntukkan bagi kondisi tertentu, termasuk kendaraan yang mengalami keadaan darurat. Menggunakan bahu jalan untuk melaju dengan kecepatan tinggi dapat membahayakan kendaraan yang sedang berhenti karena masalah teknis.
Risiko lainnya muncul ketika kendaraan yang melaju di bahu jalan tiba-tiba kembali ke lajur utama dan melakukan manuver menghindar. Situasi tersebut berpotensi memicu kecelakaan beruntun.
4. Terdistraksi Ponsel
Menggunakan ponsel ketika mengemudi dapat mengalihkan perhatian dari kondisi lalu lintas. Ketika fokus pengemudi terpecah, perubahan kecepatan kendaraan di depan bisa terlambat diketahui. Akibatnya, pengemudi mungkin baru melakukan pengereman ketika jaraknya sudah terlalu dekat.
Selain itu, distraksi juga dapat membuat kendaraan berpindah lajur atau mengalami perubahan kecepatan tanpa disadari.
5. Mengemudi dalam Kondisi Mengantuk
Rasa kantuk ketika mengemudi tidak boleh dianggap sepele. Hilangnya konsentrasi meski hanya sesaat dapat membuat kendaraan keluar dari jalurnya atau mengalami perubahan kecepatan secara tiba-tiba.
Dalam kondisi lalu lintas padat, situasi tersebut dapat meningkatkan risiko kecelakaan, termasuk tabrakan beruntun.
6. Pindah Lajur Sembarangan
Pindah lajur tanpa memperhatikan kondisi sekitar merupakan salah satu manuver yang berisiko.
Sebelum berpindah lajur, pengemudi perlu memastikan kondisi melalui spion dan blind spot serta menggunakan lampu sein sebagai tanda kepada pengguna jalan lain.
Memaksakan pindah lajur ketika ada kendaraan yang melaju dari belakang dapat menyebabkan tabrakan dan memicu kecelakaan beruntun.
7. Melanggar Aturan Lalu Lintas
Pelanggaran terhadap aturan lalu lintas juga dapat menjadi pemicu kecelakaan. Contohnya berkendara melebihi batas kecepatan, melakukan manuver berbahaya, menyalip di lokasi yang tidak diperbolehkan, maupun berpindah lajur ketika terdapat marka jalan yang melarangnya.
Mematuhi rambu dan marka jalan menjadi bagian penting dari upaya menjaga keselamatan seluruh pengguna jalan.
8. Lampu Kendaraan Tidak Berfungsi
Lampu kendaraan memiliki peran penting dalam memberikan informasi kepada pengguna jalan lain.
Salah satunya adalah lampu rem. Jika lampu rem tidak berfungsi dengan baik, pengemudi di belakang dapat terlambat mengetahui bahwa kendaraan di depannya sedang melakukan pengereman.
Kondisi tersebut semakin berbahaya ketika kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi dengan jarak yang berdekatan.
BACA JUGA: Jangan Asal Lap! Begini Cara Bersihkan Kendaraan yang Terkena Abu Vulkanik
Tips Mencegah Tabrakan Beruntun
Selain memahami faktor pemicunya, pengemudi juga perlu menerapkan beberapa kebiasaan berkendara untuk mengurangi risiko kecelakaan.
1. Jaga Jarak Aman
Salah satu cara sederhana untuk menjaga jarak adalah menggunakan teknik berhitung tiga detik.
Pengemudi dapat menentukan sebuah titik sebagai patokan. Ketika kendaraan di depan melewati titik tersebut, hitung sekitar tiga detik sebelum kendaraan yang dikemudikan melewati titik yang sama.
Jarak tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi jalan, cuaca, kepadatan lalu lintas, dan kecepatan kendaraan. Semakin tinggi kecepatan, semakin besar pula jarak aman yang dibutuhkan.
2. Sesuaikan Kecepatan dengan Kondisi Jalan
Berkendara terlalu cepat dapat membuat pengemudi memiliki waktu reaksi yang lebih sedikit ketika menghadapi kondisi darurat.
Sebaliknya, berkendara terlalu lambat di lajur yang tidak sesuai juga dapat mengganggu arus lalu lintas dan menyulitkan kendaraan lain untuk mengantisipasi pergerakan. Karena itu, gunakan kecepatan sesuai batas yang berlaku serta kondisi lalu lintas.
3. Jangan Menjadi Lane Hogger
Setelah selesai mendahului kendaraan lain, segera kembali ke lajur yang sesuai jika kondisi memungkinkan.
Jangan terus menggunakan lajur kanan hanya karena kondisi jalan sedang sepi. Kebiasaan tersebut dapat menghambat kendaraan lain sekaligus meningkatkan risiko konflik dengan kendaraan yang melaju lebih cepat dari belakang.
4. Selalu Fokus dan Waspada
Pengemudi perlu mempertahankan perhatian terhadap kondisi di sekitar kendaraan.
Hindari penggunaan ponsel atau aktivitas lain yang dapat mengalihkan konsentrasi. Pandangan juga sebaiknya tidak hanya tertuju pada kendaraan tepat di depan, tetapi memperhatikan kondisi lalu lintas secara lebih luas agar potensi bahaya dapat diketahui lebih awal.
5. Rutin Memeriksa Spion
Spion membantu pengemudi mengetahui kondisi kendaraan di belakang dan sisi kendaraan. Lakukan pengecekan spion secara berkala, terutama sebelum melakukan pengereman, berpindah lajur, atau melakukan manuver tertentu.
Mengetahui posisi kendaraan di belakang dapat membantu pengemudi mengambil keputusan dengan lebih aman ketika menghadapi situasi darurat.
6. Pastikan Kondisi Mobil Prima
Kondisi kendaraan juga tidak kalah penting dalam menjaga keselamatan. Komponen seperti sistem pengereman, ban, lampu, hingga berbagai sistem pendukung lainnya perlu dipastikan bekerja dengan baik.
Karena itu, pemilik kendaraan disarankan melakukan servis berkala sesuai jadwal. Pemeriksaan dapat dilakukan di bengkel resmi atau melalui layanan purnajual yang tersedia.
Marketing Division Head Auto2000, Nur Imansyah Tara, mengatakan kepatuhan terhadap aturan lalu lintas dan kondisi kendaraan menjadi bagian penting dalam mencegah kecelakaan.
“Tabrakan beruntun kerap terjadi lantaran pengguna kendaraan tidak patuh aturan lalu lintas seperti menjadi lane hogger, mengemudi di kecepatan yang tidak sesuai, tidak menjaga jarak aman, dan mengemudi di bahu jalan. Pastikan mobil dalam kondisi prima supaya dapat mencegah kecelakaan dengan servis berkala di bengkel Auto2000,” tuturnya.
Pada akhirnya, mencegah tabrakan beruntun bukan hanya soal kemampuan melakukan pengereman ketika terjadi kondisi darurat. Pengemudi juga perlu membangun kebiasaan berkendara yang aman, mulai dari menjaga jarak, mengatur kecepatan, memperhatikan kendaraan sekitar, hingga memastikan mobil selalu dalam kondisi prima.
Dengan menerapkan prinsip defensive driving, pengemudi memiliki peluang lebih besar untuk mengantisipasi perubahan situasi di jalan dan mengurangi risiko terlibat dalam kecelakaan beruntun.
(om/ns)








