
OTO Mounture — Membonceng anak menggunakan sepeda motor sudah menjadi aktivitas sehari-hari bagi banyak keluarga di Indonesia. Mulai dari mengantar ke sekolah, pergi berbelanja, hingga sekadar jalan-jalan bersama.
Namun, masih banyak orang tua yang tanpa sadar melakukan kebiasaan berbahaya saat membonceng anak. Mulai dari menempatkan anak di bagian depan motor hingga membiarkan mereka berkendara tanpa helm.
Padahal, keselamatan anak harus menjadi prioritas utama setiap kali berkendara. Menyambut Hari Anak Nasional, penting bagi setiap orang tua untuk memahami cara membonceng anak dengan benar agar perjalanan tetap aman dan nyaman.
Berikut tiga aturan emas yang wajib diterapkan saat membonceng anak naik motor seperti dikutip dari laman Wahana Honda.
1. Jangan Pernah Membonceng Anak di Jok Depan
Salah satu kesalahan yang masih sering ditemui adalah menempatkan anak di area depan pengendara atau menggunakan kursi tambahan di depan motor. Meski terlihat praktis, posisi tersebut sangat berbahaya.
Anak yang berada di depan akan menerima langsung terpaan angin, debu, kerikil, hingga polusi dari jalan. Selain itu, tubuh anak juga dapat menghalangi pergerakan stang sehingga mengurangi kemampuan pengendara melakukan manuver saat kondisi darurat.
Risiko lainnya, anak yang aktif bisa tanpa sengaja memutar gas atau menekan tombol pada panel motor yang dapat memicu kecelakaan.
Posisi paling aman adalah duduk di jok belakang dengan syarat kaki anak sudah bisa menapak sempurna di footstep belakang, anak mampu memegang atau memeluk pengendara dengan kuat, dan duduk dalam posisi stabil selama perjalanan.
BACA JUGA: 5 Langkah Pertolongan Pertama Saat Kaki Kena Knalpot Motor
2. Lengkapi Perlengkapan Keselamatan Anak
Keselamatan tidak hanya berlaku bagi pengendara, tetapi juga penumpang. Sebelum berkendara, pastikan anak menggunakan perlengkapan keselamatan yang sesuai.
– Helm Anak Berstandar SNI
Gunakan helm khusus anak dengan ukuran yang pas di kepala. Hindari menggunakan helm dewasa karena ukurannya terlalu besar dan dapat membebani leher anak saat terjadi benturan.
– Jaket dan Pakaian Tertutup
Jaket membantu melindungi anak dari terpaan angin, debu, serta perubahan suhu selama perjalanan. Lengkapi juga dengan celana panjang agar kulit terlindungi dari gesekan maupun paparan sinar matahari.
– Sepatu Tertutup
Jangan membiarkan anak menggunakan sandal saat naik motor. Sepatu tertutup mampu melindungi kaki dari panas knalpot, batu kerikil, maupun risiko cedera apabila terjadi insiden di jalan. Meski hanya menempuh perjalanan singkat, perlengkapan keselamatan tetap wajib digunakan.
BACA JUGA: Hitung-Hitung Pengeluaran, VinFast E-Motorcycle Ternyata Bisa Bikin Biaya Harian Lebih Ringan
3. Batasi Kecepatan dan Jangan Berkendara Terlalu Lama
Anak-anak lebih cepat merasa lelah dibandingkan orang dewasa. Selain itu, mereka juga lebih mudah mengantuk saat terkena hembusan angin selama perjalanan.
Jika anak mulai terlihat mengantuk atau kehilangan konsentrasi, segera berhenti di tempat yang aman untuk beristirahat.
Saat membonceng anak, usahakan menjaga kecepatan kendaraan tidak lebih dari sekitar 40 km/jam, berkendara dengan halus, dan menghindari akselerasi maupun pengereman mendadak.
Jangan lupa selalu mematuhi rambu lalu lintas serta menjaga jarak aman dengan kendaraan lain.
Perjalanan bersama anak seharusnya menjadi momen yang menyenangkan, bukan menghadirkan risiko yang sebenarnya dapat dicegah.
Membonceng anak di posisi yang benar, melengkapi perlengkapan keselamatan, serta berkendara dengan kecepatan yang aman merupakan langkah sederhana yang dapat mengurangi risiko cedera apabila terjadi kecelakaan.
Ingat, kasih sayang kepada buah hati tidak hanya ditunjukkan melalui perhatian atau hadiah, tetapi juga melalui komitmen menjaga keselamatan mereka setiap kali berada di jalan.
(om/ns)








