
OTO Mounture — Perkembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Namun, keberhasilan transisi menuju transportasi ramah lingkungan tidak hanya bergantung pada jumlah kendaraan listrik yang beredar di jalan, melainkan juga pada kesiapan ekosistem pendukungnya.
Kepala Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Aam Muharam, menegaskan bahwa transformasi menuju kendaraan listrik merupakan proses yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar mengganti kendaraan berbahan bakar fosil dengan kendaraan berbasis listrik.
“Transisi menuju kendaraan listrik tidak sekadar menggantikan kendaraan berbahan bakar fosil dengan kendaraan berbasis listrik. Keberhasilannya juga ditentukan oleh kesiapan ekosistem teknologi yang mencakup baterai, sistem pengisian daya, manajemen energi, hingga infrastruktur pendukung,” ujar Aam dalam Webinar Science to Policy Dialogue Seri ke-2 bertajuk Tantangan Industri EV di Indonesia: Menavigasi Peluang, Inovasi, dan Daya Saing.
Aam mengungkapkan bahwa dirinya telah terlibat dalam riset kendaraan listrik sejak 2005. Pada masa awal pengembangan tersebut, berbagai tantangan muncul, terutama terkait teknologi baterai dan biaya produksi yang masih sangat tinggi.
Saat itu, harga material penting seperti litium masih mahal sehingga membuat harga kendaraan listrik kurang kompetitif dibanding kendaraan konvensional. Selain itu, waktu pengisian daya yang relatif lama juga menjadi hambatan utama dalam pengembangan teknologi EV.
Menurutnya, fokus riset saat itu adalah bagaimana meningkatkan efisiensi energi sekaligus mempercepat proses pengisian daya kendaraan listrik agar lebih praktis digunakan masyarakat.
BACA JUGA: Sering Pindah Jalur? Kenali Fungsi Blind Spot Warning agar Berkendara Lebih Aman
Dalam perkembangannya, riset kendaraan listrik tidak hanya berfokus pada kendaraan berbasis baterai penuh atau Battery Electric Vehicle (BEV). Penelitian juga mencakup Hybrid Electric Vehicle (HEV) dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) yang memiliki karakteristik berbeda.
Kendaraan hybrid menggabungkan mesin pembakaran dalam dengan baterai sebagai sumber tenaga. Sementara itu, PHEV memungkinkan baterai diisi ulang dari sumber listrik eksternal. Adapun BEV sepenuhnya mengandalkan tenaga listrik tanpa menghasilkan emisi langsung saat digunakan.
Menurut Aam, kendaraan listrik berbasis baterai memiliki keunggulan besar dalam mengurangi polusi udara di kawasan perkotaan.
Meski masih terdapat diskusi mengenai sumber energi pembangkit listrik yang digunakan, penggunaan kendaraan listrik dinilai mampu menekan emisi di sektor transportasi secara signifikan.
Untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional, BRIN tidak hanya mengembangkan teknologi kendaraan, tetapi juga berbagai sistem pendukung yang menjadi fondasi operasional EV.
Beberapa teknologi yang dikembangkan antara lain:
– Battery Management System (BMS)
– Thermal Management System
– Sistem manajemen energi
– Teknologi kendaraan otonom
– Sistem pengisian daya kendaraan listrik
– Teknologi battery swapping
Teknologi tersebut berperan penting dalam menjaga keamanan baterai, meningkatkan efisiensi penggunaan energi, serta memperpanjang umur pakai baterai kendaraan listrik.
BACA JUGA: Kena Razia Polisi, Cukup Tunjukkan SIM Digital? Ini Penjelasan Resminya
Selain baterai, pembangunan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik menjadi faktor penting dalam mempercepat adopsi EV di Indonesia.
Saat ini, metode pengisian daya terus berkembang mulai dari wall charging untuk kebutuhan rumah tangga hingga stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) berdaya tinggi yang mampu mempercepat proses pengisian.
Aam menilai peningkatan kapasitas baterai yang mampu menempuh hingga 500 kilometer dalam sekali pengisian mulai menjadi standar baru di industri kendaraan listrik global.
Dengan jarak tempuh yang semakin panjang, kekhawatiran pengguna terhadap keterbatasan daya jelajah atau range anxiety dapat berkurang secara signifikan.
Elektrifikasi transportasi di Indonesia juga tidak terbatas pada kendaraan darat. Menurut BRIN, penerapan teknologi listrik mulai berkembang pada berbagai sektor transportasi lainnya.
Beberapa sektor yang mulai menerapkan elektrifikasi antara lain kawasan industri dan kawasan khusus, kendaraan operasional bandara, transportasi perairan, dan sistem transportasi perkotaan.
Bahkan, dalam jangka panjang, teknologi elektrifikasi berpotensi berkembang ke sektor penerbangan seiring kemajuan teknologi baterai dan sistem energi.
Meski perkembangan teknologi kendaraan listrik berlangsung cepat, Aam menilai tantangan terbesar saat ini adalah mengintegrasikan seluruh komponen yang ada dalam ekosistem EV.
Keberhasilan transisi menuju transportasi rendah emisi membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari lembaga riset, industri otomotif, penyedia energi, pemerintah, hingga masyarakat sebagai pengguna akhir.
Menurutnya, perpindahan dari kendaraan konvensional menuju kendaraan listrik bukan hanya persoalan mengganti mesin, melainkan membangun sistem transportasi baru yang saling terhubung dan mendukung satu sama lain.
Dengan dukungan sumber daya, pengembangan riset yang terus berjalan, serta percepatan pembangunan infrastruktur pengisian daya, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik.
Penguatan teknologi baterai, inovasi sistem pengisian daya, serta kolaborasi lintas sektor akan menjadi faktor penentu dalam mewujudkan ekosistem EV yang kuat dan berkelanjutan.
Jika seluruh komponen dapat terintegrasi dengan baik, kendaraan listrik berpotensi menjadi tulang punggung transportasi rendah emisi di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
(om/ril)








