
OTO Mounture — Kenaikan harga bahan bakar diesel nonsubsidi menjadi perhatian besar bagi pemilik kendaraan bermesin diesel modern. Saat ini, harga Dexlite telah mencapai Rp24.150 per liter, sementara Pertamina Dex menyentuh Rp24.450 per liter.
Lonjakan ini membuat biaya operasional kendaraan meningkat signifikan, terutama bagi pengguna SUV diesel harian.
Namun, di tengah kenaikan tersebut, muncul alternatif yang mulai ramai dibahas yakni penggunaan Biosolar dengan perlakuan khusus agar tetap aman untuk mesin modern.
Selama ini, Biosolar kerap dihindari oleh pemilik SUV diesel modern karena dianggap memiliki kualitas di bawah standar BBM nonsubsidi.
Hal ini bukan tanpa alasan. Biosolar (B40) diketahui memiliki potensi kandungan air lebih tinggi, sedimen atau kotoran, dan campuran biodiesel yang tidak selalu homogen.
Padahal, mesin diesel modern dengan teknologi common rail memiliki tekanan injektor sangat tinggi (hingga 2.000 bar), sehingga sangat sensitif terhadap kualitas bahan bakar.
Mobil seperti Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, Chevrolet Trailblazer, Nissan Terra, dan Isuzu MU-X sangat mengandalkan presisi injektor.
Kotoran sekecil apa pun berisiko mengganggu pola semprotan bahan bakar, bahkan merusak injektor yang biayanya bisa mencapai jutaan rupiah per unit.
BACA JUGA: MIND ID Percepat Hilirisasi Tambang, Bangun Rantai Industri dari Bauksit hingga Baterai EV
Meski demikian, Biosolar bukan berarti tidak bisa digunakan sama sekali. Dengan perlakuan yang tepat, bahan bakar ini bisa menjadi alternatif hemat tanpa mengorbankan kesehatan mesin.
1. Ganti Filter Solar Lebih Sering
Filter solar berfungsi sebagai “penjaga terakhir” sebelum bahan bakar masuk ke sistem injeksi. Jika menggunakan Biosolar, disarankan ganti setiap 5.000 km, bukan 10.000 km seperti standar pabrikan
Langkah ini penting untuk mencegah penumpukan kotoran yang bisa merusak sistem injeksi.
2. Gunakan Aditif untuk Memurnikan BBM
Salah satu solusi yang mulai banyak digunakan adalah aditif seperti Oilos.
Berbeda dari aditif biasa, produk ini diklaim bekerja dengan cara memurnikan bahan bakar sebelum pembakaran, membantu menghasilkan pembakaran lebih sempurna, serta mengurangi residu karbon.
Oilos disebut menggunakan teknologi Probiotic Cyclus Technology berbasis minyak nabati.
Beberapa klaim yang beredar menyebutkan penghematan BBM hingga 25%, dan penurunan emisi hingga 40%. Produk ini juga disebut telah diuji oleh lembaga seperti LEMIGAS, UNSOED, dan Dishub.
BACA JUGA: Seminggu Bareng Suzuki Fronx GL AT, Nyaman untuk Harian
Dengan asumsi penggunaan kendaraan seperti Fortuner diesel:
– Jarak tempuh: 2.000 km/bulan
– Konsumsi: 10 km/liter
– Kebutuhan BBM: 200 liter/bulan
Jika Pakai Dexlite:
– 200 liter x Rp24.150 = Rp4.830.000/bulan
Jika Pakai Biosolar + Aditif:
– 150 liter (hemat 25%) x Rp6.800 = Rp1.020.000
– Aditif: Rp125.000
– Filter solar: Rp100.000
Total: Rp1.245.000/bulan
Selisihnya bisa mencapai lebih dari Rp3 juta per bulan.
Adapu penggunaan BBM subsidi tetap memiliki risiko jika tidak dikelola dengan baik, seperti penumpukan karbon di ruang bakar, gejala knocking (ngelitik), dan penurunan performa mesin. Karena itu, perawatan tambahan menjadi kunci jika ingin tetap menggunakannya.
Seiring kenaikan harga BBM, sebagian pengguna SUV diesel mulai mencari solusi alternatif yang lebih ekonomis.
Beberapa konten di media sosial menunjukkan tren penggunaan kombinasi Biosolar dan aditif, dengan klaim peningkatan efisiensi serta performa mesin.
Meski demikian, pengguna tetap disarankan untuk mempertimbangkan risiko, kondisi kendaraan, serta mengikuti rekomendasi pabrikan.
(om/ril)








