
OTO Mounture — Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, terus memperkuat peran strategis sektor pertambangan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui pengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (EV battery) di Karawang.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi mineral untuk mengubah keunggulan komparatif sumber daya alam Indonesia menjadi keunggulan kompetitif industri.
Indonesia sendiri memiliki cadangan mineral strategis melimpah, seperti nikel, kobalt, mangan, bauksit, tembaga, hingga batu bara. Seluruh komoditas tersebut merupakan bahan baku utama dalam produksi baterai kendaraan listrik.
Fasilitas manufaktur baterai kendaraan listrik di Karawang dikelola oleh PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery, perusahaan patungan antara Indonesia Battery Corporation (anggota Grup MIND ID) dan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co. Limited bersama Brunp dan Lygend.
Pabrik ini memiliki kapasitas produksi awal sebesar 6,9 GWh per tahun, dengan rencana peningkatan hingga 15 GWh pada fase berikutnya. Produksi difokuskan pada sel baterai kendaraan listrik, battery pack, dan battery Energy Storage System (BESS).
Pengembangan ini diharapkan mampu memperkuat integrasi rantai pasok dari hulu hingga hilir, sekaligus meningkatkan penguasaan teknologi dan kualitas sumber daya manusia di sektor energi baru.
BACA JUGA: Wuling Eksion Siap Tantang SUV Hybrid, Hadir dengan EV dan PHEV Sekaligus
Kunjungan kerja Komisi XII DPR RI ke proyek ini menjadi bentuk pengawasan sekaligus dukungan terhadap kesiapan industri baterai nasional.
Ketua tim kunjungan, Putri Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa transformasi industri menuju energi bersih merupakan agenda strategis nasional.
Menurutnya, kebijakan hilirisasi menjadi kunci dalam membangun rantai pasok terintegrasi dari sektor pertambangan hingga manufaktur baterai.
“Melalui kebijakan hilirisasi, keterkaitan sektor energi, minerba, dan industri semakin erat dan strategis,” ujarnya.
Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menyampaikan bahwa fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada awal kuartal III tahun ini.
Pabrik ini akan memproduksi dua jenis baterai utama yakni NMC (Nickel Manganese Cobalt), dan LFP (Lithium Ferro Phosphate). Kedua jenis baterai tersebut memiliki peran penting dalam mendukung ekosistem kendaraan listrik.
Saat ini, pasar baterai LFP telah berkembang pesat di Indonesia, sementara baterai NMC masih dalam tahap pertumbuhan.
BACA JUGA: MIND ID Percepat Hilirisasi Tambang, Bangun Rantai Industri dari Bauksit hingga Baterai EV
Data dari IBC menunjukkan bahwa secara global, sekitar 40% kendaraan listrik menggunakan baterai NMC. Namun di Indonesia, angkanya masih sekitar 4%.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik nasional tahun lalu mencapai lebih dari 10.930 unit, baterai LFP mendominasi dengan 99.613 unit, serta baterai NMC baru mencapai 4.317 unit.
Hal ini menunjukkan masih besarnya peluang pengembangan baterai berbasis nikel di pasar domestik.
IBC bersama MIND ID mendorong kebijakan yang dapat memperkuat pasar kendaraan listrik berbasis baterai nikel di dalam negeri.
Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan daya tawar Indonesia di pasar global, memaksimalkan nilai tambah mineral nasional, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Pengembangan ekosistem baterai EV di Karawang menjadi tonggak penting dalam membangun industri masa depan berbasis energi bersih di Indonesia.
(om/pd)








