Film Dokumenter Baru ABC Soroti Industri Nikel Indonesia yang Tengah Melesat

OTO Mounture — Nikel merupakan komponen utama untuk baterai kendaraan listrik (EV). Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia mengalami booming pertambangan. Dalam perlombaan untuk menjadi pusat kendaraan listrik dunia, ribuan lapangan kerja memang tercipta dan ekonomi berkembang.

Dibalik melimpahnya nikel, ternyata menyimpan dampak terhadap lingkungan serta masyarakat lokal di sekitar tambang. Hal itu terlihat dari film dokumenter besutan Australian Broadcasting Corporation (ABC), The Price of Progress.

The Price of Progress mengulas secara mendalam dampak pertambangan nikel terhadap lingkungan dan masyarakat lokal di sekitar tambang. Film dokumenter ini mempertanyakan apa arti fase baru industri nikel ini bagi masa depan Indonesia.

BACA JUGA: Wuling Jalin Kerja Sama Kembangkan Baterai Kendaraan Listrik di Indonesia

Redaktur Pelaksana Newsroom ABC Asia Pasifik, Matthew O’Sullivan, mengatakan The Price of Progress adalah kisah yang kuat tentang benturan antara kebutuhan global dan lokal.

Dalam laporan pertamanya untuk ABC Indonesia, kata Matthew, jurnalis Hellena Souisa melakukan perjalanan ke seluruh Indonesia untuk menyelidiki dampak dari booming pertambangan nikel.

“Hellena mampu menjalin hubungan yang unik dengan orang-orang yang paling terdampak oleh industri nikel yang sedang berkembang pesat–baik mereka yang diuntungkan, maupun mereka yang berjuang menghadapi dampaknya–untuk menggambarkan kisah yang rumit dan mendalam ini,” katanya melalui keterangan resmi, belum lama ini.

BACA JUGA: Mitsubishi XForce, Produksi Indonesia yang Mendunia

Jurnalis ABC Indonesia, Hellena Souisa, yang membantu memproduksi film dokumenter ini, mengatakan bahwa ini adalah kisah yang rumit, dampak yang ditimbulkan oleh nikel terhadap Indonesia sangatlah transformasional.

“Ada dampak lingkungan dari pertambangan, tetapi juga perubahan sosial dengan puluhan ribu pekerja Cina yang dipekerjakan di seluruh lokasi pertambangan nikel. Ribuan orang bekerja dan sejahtera karenanya. Tetapi begitu banyak orang lainnya yang terpuruk, dan mata pencaharian mereka terancam oleh kehausan akan nikel yang terus meningkat,” ungkap dia.

​Souisa melanjutkan, di balik narasi menciptakan dunia yang lebih hijau, ada kisah-kisah perjuangan, orang-orang yang mempertahankan sawah, laut, dan kehidupan mereka.

​Sementara Kepala ABC Internasional Claire M. Gorman, mengatakan The Price of Progress adalah laporan yang memukau, membawa pemirsa ke garis depan transformasi industri pertambangan di Indonesia.

Menurutnya, tim telah mendokumentasikan dengan baik peluang dan konsekuensi dari transformasi pertambangan di Indonesia dan apa yang akan terjadi di masa depan bagi masyarakat.

“Kami bangga dapat membagikan film dokumenter ini di seluruh ABC Australia dan melalui situs digital kami, ABC Asia, untuk pemirsa di Indonesia dan kawasan yang lebih luas, karena kami terus memberikan berita yang tepercaya bagi pemirsa kami,” pungkasnya.

Adapun film dokumenter The Price of Progress akan tayang perdana di ABC Australia pada Selasa, 5 Maret pukul 18:00 waktu Indonesia Barat (WIB). Streaming atau tayangannya dapat disaksikan di ABC Asia (https://www.abc.net.au/asia) mulai Selasa, 5 Maret pukul 18:00 WIB.

(om/ril)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *