Baterai Sodium-Ion dan LFP Menguat, Nasib Hilirisasi Nikel Indonesia Terancam?

Foto: Wuling Motors

OTO Mounture — Ambisi Indonesia menjadi salah satu pemain utama dalam industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global menghadapi tantangan baru. Di tengah gencarnya pembangunan ekosistem industri berbasis nikel melalui program hilirisasi, perkembangan teknologi baterai dunia justru bergerak ke arah yang semakin beragam dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada nikel.

Peneliti Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan (PREIJP) BRIN, Sigit Setiawan, mengingatkan pentingnya fleksibilitas kebijakan agar Indonesia tidak tertinggal dalam mengikuti perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Menurutnya, berbagai inovasi baterai kendaraan listrik terus bermunculan dan berpotensi mengubah struktur industri EV global dalam beberapa tahun mendatang.

Hasil kajian BRIN menunjukkan bahwa industri kendaraan listrik global tidak menuju satu standar teknologi baterai tunggal. Sebaliknya, berbagai jenis baterai berkembang secara bersamaan sesuai kebutuhan pasar, biaya produksi, serta karakteristik penggunaannya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang saat ini fokus membangun rantai pasok kendaraan listrik berbasis nikel melalui hilirisasi mineral.

Di satu sisi, investasi besar telah digelontorkan untuk mengembangkan industri pengolahan nikel dan baterai. Namun di sisi lain, produsen kendaraan listrik dunia mulai banyak mengadopsi teknologi baterai alternatif yang menggunakan sedikit atau bahkan tanpa kandungan nikel.

“Jangan sampai kebijakan kita terlambat beradaptasi dengan teknologi yang baru,” ujar Sigit dalam Webinar Science to Policy Dialogue Seri ke-2 bertajuk Tantangan Industri EV di Indonesia: Menavigasi Peluang, Inovasi, dan Daya Saing, belum lama ini.

BACA JUGA: Daftar 10 Merek Mobil Terlaris Indonesia Mei 2026, Geely dan Jaecoo Bersinar

Salah satu teknologi yang dinilai berpotensi mengubah peta industri kendaraan listrik adalah baterai sodium-ion.

Teknologi ini menggunakan sodium atau natrium yang tersedia melimpah di alam dan berpotensi menawarkan biaya produksi lebih rendah dibanding beberapa jenis baterai berbasis nikel.

Jika pengembangan sodium-ion semakin matang dan mampu menguasai segmen pasar tertentu, permintaan terhadap nikel untuk industri kendaraan listrik berpotensi menurun.

Selain itu, teknologi ini dinilai lebih stabil dalam kondisi tertentu dan berpeluang digunakan pada kendaraan listrik perkotaan maupun sistem penyimpanan energi skala besar.

Selain sodium-ion, perkembangan teknologi Lithium Iron Phosphate (LFP) dan Lithium Manganese Iron Phosphate (LMFP) juga menjadi perhatian.

Saat ini baterai LFP semakin banyak digunakan oleh produsen kendaraan listrik global karena menawarkan sejumlah keunggulan, antara lain biaya produksi lebih rendah, umur pakai lebih panjang, tingkat keamanan tinggi, dan tidak membutuhkan nikel sebagai bahan utama.

Sementara itu, teknologi LMFP hadir sebagai pengembangan dari LFP dengan peningkatan kepadatan energi sehingga mampu memberikan jarak tempuh lebih jauh.

Menurut BRIN, dominasi LFP dan perkembangan LMFP di segmen kendaraan listrik massal maupun sistem penyimpanan energi berpotensi mengurangi kebutuhan nikel dalam industri baterai global.

BACA JUGA: Mobil Listrik Baru Chery Ini Bikin Heboh, Pre-Book Tembus 3.000 Unit

Perubahan arah teknologi baterai global membawa sejumlah risiko bagi investasi yang selama ini difokuskan pada hilirisasi nikel.

Beberapa risiko yang perlu diantisipasi antara lain:

1. Kelebihan Kapasitas Produksi

Jika permintaan baterai berbasis nikel menurun, kapasitas produksi yang sudah dibangun berpotensi melebihi kebutuhan pasar.

2. Tekanan Harga Nikel

Penurunan permintaan global dapat berdampak pada harga komoditas nikel dan mengurangi daya tarik investasi.

3. Risiko Aset Industri

Fasilitas produksi yang dirancang khusus untuk teknologi tertentu berpotensi mengalami penurunan nilai jika pasar beralih ke teknologi lain.

Menurut Sigit, tantangan utama bukan sekadar meningkatkan produksi satu jenis material, tetapi memastikan industri nasional mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi yang cepat.

Selain persoalan teknologi baterai, Indonesia juga menghadapi tantangan dalam meningkatkan daya saing industri kendaraan listrik.

Produksi baterai membutuhkan energi dalam jumlah besar, standar manufaktur berteknologi tinggi, efisiensi biaya produksi, dan pengendalian suhu dan kelembapan yang ketat.

Di sisi lain, pasar global kini semakin menuntut penggunaan energi rendah karbon dalam proses manufaktur.

Karena itu, Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya mineral. Penguatan riset, inovasi, kemampuan manufaktur, hingga pengembangan perangkat lunak dan sistem manajemen baterai perlu menjadi bagian penting dari strategi nasional.

Untuk menjaga daya saing industri kendaraan listrik Indonesia di masa depan, BRIN mendorong pemerintah dan pelaku industri untuk tidak terpaku pada satu teknologi.

Strategi yang lebih adaptif dinilai perlu dilakukan dengan mengembangkan berbagai pilihan teknologi baterai, antara lain baterai berbasis nikel, baterai LFP, baterai LMFP, baterai sodium-ion, serta teknologi baterai generasi berikutnya.

Selain itu, pengembangan bahan baku alternatif seperti mangan dan peningkatan kapasitas riset nasional juga menjadi langkah penting dalam menghadapi perubahan industri global.

BRIN menilai masa depan industri kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi.

Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam industri EV global. Namun keberhasilan tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan membaca arah perkembangan teknologi baterai serta membangun ekosistem industri yang inovatif dan fleksibel.

Dengan perkembangan teknologi yang terus berubah, strategi yang terlalu fokus pada satu komoditas atau satu jenis baterai berisiko membuat industri kehilangan momentum di masa depan.

(om/ril)

 

 

, , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *