
OTO Mounture — Penjualan mobil asal Tiongkok di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang Januari–September 2026. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), merek-merek asal Tiongkok tidak hanya meningkatkan distribusi kendaraan ke dealer, tetapi juga mencatat kenaikan penjualan langsung kepada konsumen.
Data tersebut menjadi penting untuk melihat apakah pertumbuhan mobil asal Negeri Tirai Bambu benar-benar didukung permintaan pasar atau sekadar peningkatan pasokan ke jaringan dealer.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, sebanyak 19 merek mobil Tiongkok mencatatkan wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer sebanyak 131.584 unit. Angka tersebut setara dengan 19,4 persen dari total wholesales nasional yang mencapai 679.020 unit.
Sementara itu, penjualan ritel atau retail sales, yang mencerminkan penjualan dealer kepada konsumen, mencapai 129.155 unit. Jumlah tersebut berkontribusi 19,1 persen terhadap total penjualan ritel nasional sebanyak 676.223 unit.
Pencapaian itu menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama pada 2025. Saat itu, pangsa merek Tiongkok baru mencapai sekitar 11,9 persen untuk wholesales dan 11,7 persen untuk retail sales.
Dengan demikian, kontribusi merek Tiongkok terhadap pasar otomotif Indonesia semakin besar, baik dari sisi distribusi kendaraan maupun penjualan kepada konsumen akhir.
Kenaikan penjualan mobil Tiongkok sepanjang Januari–September 2026 juga jauh lebih tinggi dibandingkan merek-merek non-Tiongkok. Secara tahunan, wholesales merek Tiongkok meningkat sekitar 97,7 persen. Sebaliknya, wholesales merek non-Tiongkok hanya tumbuh sekitar 10,6 persen.
Pada sisi retail sales, merek Tiongkok mencatatkan pertumbuhan sekitar 87,9 persen. Sementara itu, penjualan ritel merek non-Tiongkok hanya meningkat sekitar 5,8 persen. Perbedaan tersebut memperlihatkan besarnya peran merek Tiongkok dalam mendorong pertumbuhan pasar otomotif nasional.
Berdasarkan perhitungan dari data Gaikindo, merek Tiongkok menyumbang sekitar 55 persen dari kenaikan wholesales nasional dan sekitar 67 persen dari pertumbuhan retail sales sepanjang periode tersebut.
Artinya, sekitar dua pertiga pertumbuhan penjualan mobil kepada konsumen di Indonesia berasal dari merek Tiongkok.
Meski demikian, tingginya pertumbuhan secara tahunan perlu dibaca bersama perkembangan penjualan ritel, distribusi kendaraan, serta pergerakan stok dealer. Ketiga indikator tersebut dapat membantu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi pasar.
BACA JUGA: Penjualan Mobil pada September 2026 Turun dari Agustus, Ini 10 Besarnya
Jika dibandingkan secara kumulatif, wholesales merek Tiongkok sepanjang Januari–September 2026 lebih tinggi 2.429 unit dibandingkan retail sales. Selisih tersebut setara dengan sekitar 1,9 persen dari penjualan ritel. Angkanya relatif kecil dibandingkan total distribusi dan penjualan selama sembilan bulan.
Namun, pola ini berbeda dari tahun sebelumnya. Pada Januari–September 2025, retail sales merek Tiongkok justru lebih tinggi sekitar 2.182 unit dibandingkan wholesales.
Perubahan tersebut mengindikasikan bahwa pada 2025, penjualan dealer kepada konsumen lebih banyak ditopang oleh kendaraan yang telah tersedia di jaringan dealer. Sebaliknya, pada 2026, distribusi kendaraan sedikit lebih tinggi daripada penjualan ritel.
Meski begitu, selisih wholesales dan retail sales tidak bisa langsung dianggap sebagai ukuran pasti penumpukan stok. Perubahan persediaan juga dipengaruhi waktu pengiriman, distribusi antardaerah, serta perbedaan waktu pencatatan kendaraan.
Karena itu, kedua indikator tersebut perlu dilihat bersama tren penjualan bulanan dan kinerja masing-masing merek.
Pergerakan per kuartal menunjukkan bahwa penjualan mobil Tiongkok mengalami peningkatan, baik dari sisi distribusi maupun penjualan kepada konsumen.
Pada kuartal I 2026, wholesales merek Tiongkok mencapai 37.113 unit, sedangkan retail sales tercatat 33.756 unit. Pangsa wholesales berada di angka 17,8 persen dan pangsa retail sales sebesar 15,9 persen.
Memasuki kuartal II, wholesales meningkat menjadi 41.552 unit. Pada periode yang sama, retail sales mencapai 42.855 unit sehingga penjualan kepada konsumen melampaui distribusi kendaraan sebanyak 1.303 unit.
Pangsa wholesales pada kuartal II tercatat 18,3 persen, sementara pangsa retail sales meningkat menjadi 19,3 persen.
Tren tersebut berlanjut pada kuartal III. Wholesales merek Tiongkok mencapai 52.919 unit, sedangkan retail sales sebanyak 52.544 unit. Pangsa masing-masing indikator berada di angka 21,8 persen dan 21,7 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa penjualan ritel merek Tiongkok meningkat secara konsisten dari kuartal I hingga kuartal III, baik secara volume maupun kontribusi terhadap pasar nasional.
Kenaikan ini menjadi salah satu indikasi bahwa pertumbuhan mobil Tiongkok tidak hanya terjadi pada jalur distribusi, tetapi juga tercermin dalam penjualan kepada konsumen.
BACA JUGA: Konsumen Keluhkan Jetour X70 Plus, Mobil Dikembalikan Sejak Juni Belum Ada Kepastian
Perkembangan menarik terlihat pada September 2026. Pada bulan tersebut, retail sales merek Tiongkok mencapai 18.612 unit, lebih tinggi 1.285 unit dibandingkan wholesales yang tercatat 17.327 unit.
Pangsa retail sales merek Tiongkok pada September mencapai 22,9 persen dari pasar nasional. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pangsa wholesales yang berada di level 21,8 persen.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa penjualan kepada konsumen pada September bergerak lebih cepat dibandingkan pasokan baru dari pabrik ke dealer.
Namun, hasil satu bulan belum cukup untuk memastikan bahwa tren tersebut akan bertahan. Pada Agustus 2026, misalnya, wholesales merek Tiongkok masih lebih tinggi, yakni 19.297 unit, dibandingkan retail sales sebanyak 18.928 unit.
Pergerakan pada bulan-bulan berikutnya akan menjadi penentu apakah penjualan ritel terus mampu menyamai atau melampaui distribusi kendaraan.
Dari sisi merek, BYD masih menjadi pemimpin penjualan mobil Tiongkok di Indonesia sepanjang Januari–September 2026. BYD mencatatkan wholesales sebanyak 43.727 unit dan retail sales 42.710 unit. Selisih keduanya mencapai 1.017 unit, atau sekitar 2,4 persen dari penjualan ritel.
Pada September 2026, retail sales BYD mencapai 7.421 unit, menjadi angka bulanan tertinggi sepanjang tahun berdasarkan data yang digunakan dalam analisis ini. Jumlah tersebut juga melampaui wholesales September yang tercatat 6.031 unit.
Meski demikian, pergerakan penjualan BYD sepanjang tahun tidak selalu stabil. Pada Mei 2026, misalnya, wholesales merek tersebut hanya mencapai 895 unit. Karena itu, data kumulatif sembilan bulan memberikan gambaran yang lebih menyeluruh dibandingkan hanya mengandalkan pencapaian satu bulan.
Di posisi berikutnya, Jaecoo membukukan wholesales 27.234 unit dan retail sales 26.886 unit. Selisihnya hanya 348 unit atau sekitar 1,3 persen dari penjualan ritel.
Jika digabungkan, BYD dan Jaecoo menyumbang sekitar 54 persen dari total wholesales merek Tiongkok selama Januari–September 2026. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan segmen mobil Tiongkok masih cukup terkonsentrasi pada dua merek utama.
Kinerja kedua merek itu akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan penjualan mobil Tiongkok secara keseluruhan.
Tidak semua merek Tiongkok menunjukkan keseimbangan distribusi dan penjualan yang sama. Adapun MG mencatatkan wholesales 3.836 unit dan retail sales 3.334 unit. Artinya, distribusi kendaraan lebih tinggi 502 unit dibandingkan penjualan ritel, atau sekitar 15 persen dari retail sales.
Kemudian Xpeng membukukan wholesales 2.745 unit dan retail sales 2.424 unit. Selisihnya mencapai 321 unit, setara sekitar 13 persen dari penjualan ritel.
Sementara itu, Aion mencatatkan wholesales 5.437 unit dan retail sales 5.025 unit. Selisihnya sebanyak 412 unit atau sekitar 8 persen.
Perbedaan tersebut dapat menjadi indikator awal untuk memantau kecepatan penyerapan kendaraan di pasar. Namun, selisih yang lebih besar tidak serta-merta membuktikan terjadinya penumpukan stok karena bisa dipengaruhi peluncuran model baru, perluasan jaringan dealer, maupun jadwal pengiriman kendaraan.
Pemantauan data beberapa bulan berikutnya diperlukan untuk mengetahui apakah distribusi yang lebih tinggi tersebut diikuti peningkatan penjualan ritel.
Di sisi lain, terdapat sejumlah merek yang mencatatkan retail sales lebih tinggi daripada wholesales selama Januari–September 2026. Sebut saja, Chery membukukan wholesales sebanyak 8.313 unit dan retail sales 8.675 unit. Dengan demikian, penjualan ritel lebih tinggi 362 unit.
Namun, kondisi tersebut perlu dilihat bersama kinerja tahunannya. Chery tercatat mengalami penurunan sekitar 45 persen pada wholesales dan 43 persen pada retail sales dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Retail sales yang lebih tinggi daripada wholesales dalam kondisi tersebut dapat mengindikasikan pemanfaatan stok yang telah tersedia di dealer, bukan otomatis menandakan pertumbuhan permintaan.
Wuling juga mencatatkan retail sales lebih tinggi, yakni 13.614 unit, dibandingkan wholesales sebanyak 13.406 unit. Selisihnya mencapai 208 unit.
Akan tetapi, wholesales Wuling tumbuh sekitar 9,3 persen secara tahunan, sedangkan retail sales turun sekitar 2,6 persen. Dengan demikian, kondisi ini lebih tepat dibaca sebagai penyempitan selisih antara distribusi dan penjualan, bukan peningkatan penjualan kepada konsumen.
Sedangkan Danza menunjukkan perbedaan yang lebih besar. Sepanjang Januari–September 2026, merek yang sebelumnya menggunakan nama Denza tersebut mencatatkan wholesales 3.009 unit dan retail sales 3.135 unit.
Pada Agustus, wholesales Danza hanya mencapai 19 unit dan turun menjadi delapan unit pada September. Sementara itu, retail sales masing-masing tercatat 519 unit dan 230 unit.
Perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa penjualan ritel Danza pada periode itu masih ditopang kendaraan yang telah tersedia di jaringan dealer. Untuk memastikan kondisi persediaan sebenarnya, diperlukan data stok dan distribusi yang lebih terperinci.
BACA JUGA: Trans Semarang Tambah 27 Bus Listrik, Mulai Beroperasi Bertahap hingga November
Data Gaikindo Januari–September 2026 memperlihatkan bahwa pertumbuhan merek Tiongkok di Indonesia tidak hanya terjadi pada tingkat distribusi. Peningkatan retail sales, terutama sepanjang kuartal III, menjadi bukti bahwa penjualan kepada konsumen juga bergerak kuat.
Pangsa retail sales yang meningkat dari 15,9 persen pada kuartal I menjadi 21,7 persen pada kuartal III memperkuat indikasi bahwa mobil Tiongkok semakin diterima pasar Indonesia.
Di sisi lain, selisih kumulatif wholesales dan retail sales yang relatif kecil menunjukkan bahwa kedua indikator tersebut masih bergerak berdekatan secara agregat. Namun, angka itu belum cukup untuk memastikan kondisi stok dealer secara keseluruhan.
Pertumbuhan segmen ini juga masih bergantung pada sejumlah merek besar, terutama BYD dan Jaecoo, yang secara bersama-sama menyumbang sekitar 54 persen dari wholesales mobil China.
Memasuki kuartal IV 2026, perkembangan yang perlu diperhatikan adalah apakah retail sales terus menyamai atau melampaui wholesales, bagaimana kinerja merek dengan selisih pasokan yang relatif besar, serta apakah pertumbuhan penjualan dapat dipertahankan.
Dengan demikian, gambaran permintaan mobil Tiongkok tidak cukup dinilai dari besarnya distribusi kendaraan ke dealer. Konsistensi penjualan ritel dan kemampuan pasar menyerap pasokan akan menjadi indikator penting untuk mengukur keberlanjutan pertumbuhan merek Tiongkok di Indonesia.
Sebagai catatan, artikel ini hanya mengambil data sebanyak 19 merek otomotif asal Tiongkok yang ada di Indonesia. Merek asal Vietnam, Indonesia serta merek tanpa penjualan pada periode ini tidak dimasukkan.
(om/ls)








