Trans Semarang Tambah 27 Bus Listrik, Mulai Beroperasi Bertahap hingga November

Bus Listrik Trans Semarang

OTO Mounture — Trans Semarang mulai mengoperasikan bus listrik sebagai bagian dari upaya menghadirkan layanan transportasi umum yang lebih nyaman, bersih, dan ramah lingkungan. Sebanyak 27 bus listrik Trans Semarang disiapkan untuk memperkuat armada transportasi publik di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Pengadaan bus listrik tersebut melibatkan dua perusahaan dalam negeri, yakni VKTR dan Laksana Bus Manufaktur. Dalam kolaborasi ini, Laksana berperan memproduksi bodi bus listrik, sedangkan VKTR menangani proses perakitan kendaraan.

Bus listrik pertama yang telah dioperasikan merupakan unit berukuran 12 meter dengan desain low floor. Bus tersebut memiliki kapasitas hingga 60 penumpang dan akan digunakan untuk melayani masyarakat di sejumlah rute Trans Semarang.

Direktur Utama VKTR, A. Ardiansyah Bakrie, mengatakan kehadiran bus listrik tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyediaan kendaraan listrik, tetapi juga pengembangan industri dalam negeri.

“Ini bukan hanya tentang kendaraan, tetapi juga bagaimana manufaktur lokal, produksi bodi bus, rantai pasok, tenaga kerja, dan kemampuan industri dapat tumbuh bersama dalam membangun ekosistem kendaraan listrik Indonesia,” ujarnya.

BACA JUGA: Viral di Threads, Jaecoo J5 EV Mendadak Tak Bisa Dipindahkan ke D dan R

Bus listrik Trans Semarang memiliki baterai dengan kapasitas penyimpanan energi sekitar 340 kWh. Dalam kondisi penuh, kendaraan diklaim mampu menempuh jarak hingga sekitar 250 kilometer dalam sekali pengisian daya.

Namun, Laksana Bus Manufaktur memperkirakan jarak operasional yang digunakan akan berada di kisaran 200–240 kilometer. Hal tersebut berkaitan dengan strategi pengelolaan baterai, di mana tingkat pengisian daya atau state of charge dipertahankan pada rentang sekitar 20 hingga 100 persen untuk membantu menjaga kesehatan baterai.

Direktur Teknik Laksana Bus Manufaktur, Stefan Arman, menyebut harga satu unit bus listrik tersebut berada di kisaran Rp4 miliar hingga Rp4,5 miliar. Dengan jumlah 27 unit, nilai pengadaan seluruh bus listrik tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp108 miliar hingga Rp121,5 miliar.

Dua unit pertama bus listrik Trans Semarang telah digunakan pada Koridor 1, yang menghubungkan Terminal Mangkang dengan Terminal Penggaron.

Rute tersebut memiliki panjang sekitar 29 kilometer. Untuk memperkenalkan armada baru kepada masyarakat, Trans Semarang memberikan layanan gratis untuk bus listrik hingga 14 Oktober 2026.

Kepala Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, mengatakan penambahan armada akan dilakukan secara bertahap.

Trans Semarang menargetkan sedikitnya tiga bus listrik masuk operasional setiap pekan. Dengan pola tersebut, seluruh 27 unit diharapkan sudah dapat beroperasi pada awal November 2026.

BACA JUGA: Pertamina Perkuat Pasokan Energi dan Transportasi Jelang MotoGP Mandalika 2026

Pemilihan desain low floor menjadi salah satu perhatian dalam pengadaan bus listrik Trans Semarang. Desain tersebut membuat akses keluar-masuk penumpang menjadi lebih mudah karena lantai bus dibuat lebih rendah.

Menurut Haris, pertimbangan tersebut berkaitan dengan komposisi pengguna Trans Semarang. Dari rata-rata sekitar 35.000 penumpang per hari, sekitar 7.000 orang atau 20 persen di antaranya merupakan penumpang lanjut usia.

Dengan demikian, bus listrik low floor diharapkan dapat memberikan akses yang lebih mudah dan nyaman, khususnya bagi lansia maupun penumpang yang membutuhkan kemudahan saat naik dan turun dari kendaraan.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan pengoperasian bus listrik menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Semarang untuk terus meningkatkan kualitas transportasi publik.

Menurutnya, kehadiran bus listrik merupakan langkah konkret untuk menghadirkan transportasi yang lebih nyaman, bersih, dan ramah lingkungan sekaligus menawarkan pilihan mobilitas yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Kehadiran 27 bus listrik Trans Semarang juga menjadi bagian dari perkembangan elektrifikasi transportasi umum di Indonesia. Selain mengurangi ketergantungan terhadap bus berbahan bakar fosil, penggunaan kendaraan listrik turut membuka peluang bagi penguatan industri kendaraan listrik nasional, mulai dari manufaktur bodi, perakitan, rantai pasok hingga tenaga kerja lokal.

(om/mg)

 

 

, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *