Baterai GAC Aion S Bermasalah, Ratusan Ribu Mobil Listrik Terdampak, Garansi Diperpanjang hingga 8 Tahun

Baterai Mobil Listrik
Foto: CALB

OTO Mounture — Produsen mobil listrik asal Tiongkok, GAC Aion, tengah menghadapi salah satu krisis kualitas terbesar setelah banyak pemilik GAC Aion S melaporkan masalah serius pada baterai kendaraan mereka.

Keluhan tersebut meliputi baterai menggelembung, kebocoran elektrolit, hingga sel baterai pecah yang berpotensi menyebabkan kendaraan kehilangan tenaga saat dikendarai.

Laporan Jiemian News menyebutkan bahwa masalah ini umumnya terjadi pada kendaraan yang telah menempuh jarak 150.000 hingga 300.000 kilometer.

Data dari platform pengaduan konsumen Tiongkok, 12365auto dan Black Cat, mencatat 182 laporan hanya dalam waktu sekitar dua minggu. Dari sekitar 213.000 unit kendaraan yang menggunakan baterai terkait, tingkat temuan kerusakan (fault detection rate) mencapai 4,7 persen.

BACA JUGA: Kecewa Layanan Purnajual Chery, Pemilik Omoda E5 Keluhkan Klaim Cacat Produk Belum Selesai 4 Bulan

Investigasi mengarah pada penggunaan sel baterai lithium iron phosphate (LFP) berkapasitas 177 Ah yang diproduksi oleh CALB, salah satu produsen baterai terbesar di China.

Tekanan publik semakin meningkat setelah media pemerintah Tiongkok, Xinhua News Agency, mengangkat kasus tersebut. Menyusul pemberitaan itu, pada 18 Juli 2026, GAC Aion dan CALB secara resmi menyampaikan permintaan maaf kepada konsumen serta mengumumkan langkah penanganan.

GAC Aion memutuskan untuk memperpanjang garansi baterai menjadi 8 tahun atau 300.000 km, menyediakan inspeksi baterai gratis, mengganti baterai yang terbukti bermasalah tanpa biaya, dan memberikan subsidi kepada pelanggan apabila proses perbaikan memerlukan waktu lebih dari lima hari.

Sementara itu, CALB juga menyatakan akan memberikan layanan inspeksi dan perawatan baterai secara gratis bagi kendaraan yang terdampak.

Sejumlah analis industri menilai persoalan ini bukan sekadar kasus sporadis, melainkan mengindikasikan adanya masalah pada proses produksi.

Beberapa dugaan penyebab yang muncul antara lain desain sistem elektrolit yang kurang optimal, presisi proses perakitan yang tidak konsisten, dan pengujian ketahanan (ageing test) yang dinilai belum memadai sebelum baterai dipasarkan.

Jika dugaan tersebut terbukti, maka persoalan dapat memengaruhi ribuan hingga ratusan ribu unit kendaraan yang menggunakan sel baterai dengan spesifikasi serupa.

BACA JUGA: Kenalan dengan BAIC T1, Crossover EV yang Tawarkan Kabin Lega dan Teknologi Pintar

Alih-alih melakukan penarikan kembali (recall), GAC Aion memilih memperluas garansi dan melakukan penggantian baterai berdasarkan hasil inspeksi. Meski demikian, biaya yang harus ditanggung diperkirakan sangat besar.

Sebagai gambaran, sengketa baterai sebelumnya antara Geely VREMT dan Sunwoda berakhir dengan nilai penyelesaian sebesar 2,314 miliar yuan, atau sekitar Rp5,24 triliun (kurs estimasi 1 yuan = Rp2.265).

Karena kasus GAC Aion melibatkan jumlah kendaraan yang jauh lebih banyak, sejumlah analis memperkirakan total biaya penanganannya berpotensi melampaui angka tersebut.

Beban biaya penanganan muncul di tengah kondisi keuangan kedua perusahaan yang sedang menghadapi tekanan. Berdasarkan laporan keuangan, CALB membukukan laba sepanjang tahun 2025 sebesar 2,095 miliar yuan, setara sekitar Rp4,75 triliun.

Sementara itu, GAC Group sebelumnya telah mengeluarkan peringatan bahwa perusahaan diperkirakan mengalami kerugian bersih sebesar 4 hingga 4,5 miliar yuan pada semester pertama 2026, atau sekitar Rp9,06 triliun hingga Rp10,19 triliun.

Dengan potensi biaya penanganan yang mencapai triliunan rupiah, kasus ini diperkirakan akan memberikan tekanan tambahan terhadap kinerja keuangan kedua perusahaan.

Terlepas dari kasus tersebut, CALB masih menjadi salah satu pemain utama di industri baterai kendaraan listrik global.

Perusahaan ini menempati posisi keempat berdasarkan volume pemasangan baterai dengan pangsa pasar sekitar 6,3 persen, sejajar dengan Gotion High-tech dan berada di bawah tiga raksasa industri, yakni CATL, BYD, serta produsen baterai terkemuka lainnya.

Kasus yang menimpa GAC Aion S kini menjadi perhatian industri kendaraan listrik karena dinilai dapat menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya pengendalian kualitas baterai.

Mengingat baterai merupakan komponen paling vital sekaligus paling mahal pada mobil listrik, setiap potensi cacat produksi dapat berdampak besar terhadap keselamatan pengguna, reputasi merek, hingga kondisi finansial produsen.

(om/pd)

 

 

, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *