VinFast Targetkan TKDN 80 Persen, Indonesia Disiapkan Jadi Basis Produksi Mobil Listrik

Pabrik VinFast Indonesia

OTO Mounture — Indonesia semakin menunjukkan potensinya sebagai salah satu pasar kendaraan listrik (EV) yang menjanjikan di kawasan Asia Tenggara. Masuknya berbagai merek otomotif global turut mendorong pertumbuhan mobil listrik sekaligus meningkatkan persaingan di pasar kendaraan elektrifikasi Tanah Air.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan penjualan wholesales mobil listrik nasional meningkat signifikan, dari 10.327 unit pada 2022 menjadi 43.193 unit pada 2024. Angka tersebut kemudian melonjak hingga 103.931 unit pada 2025.

Pertumbuhan tersebut membuat Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pasar potensial untuk penjualan mobil listrik. Pengembangan manufaktur dan rantai pasok lokal mulai menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kendaraan listrik nasional.

Salah satu produsen yang mengambil langkah tersebut adalah VinFast. Merek otomotif asal Vietnam ini tidak hanya memasarkan mobil listrik di Indonesia, tetapi juga menjadikan Tanah Air sebagai salah satu basis manufaktur strategisnya.

VinFast memperkuat komitmennya terhadap industri otomotif Indonesia melalui pembangunan pabrik mobil listrik di Subang, Jawa Barat.

Investasi yang disiapkan mencapai lebih dari US$1 miliar dan direalisasikan secara bertahap. Fasilitas produksi tersebut berdiri di atas lahan seluas 171 hektare dengan kapasitas awal mencapai 50.000 unit kendaraan per tahun.

Pabrik VinFast di Subang dirancang memiliki lini produksi terintegrasi, mulai dari proses pengelasan bodi, pengecatan, perakitan, hingga pengujian kualitas.

Tidak hanya membangun fasilitas produksi, VinFast juga menyiapkan kawasan pendukung di sekitar pabrik untuk melibatkan pemasok serta kontraktor lokal. Langkah tersebut diharapkan menciptakan efek berganda bagi industri komponen dan perekonomian Indonesia.

BACA JUGA: VinFast Limo Green Jadi Armada Taksi Premium Green GSM di Filipina

Salah satu aspek penting dalam strategi VinFast di Indonesia adalah peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). VinFast menargetkan kandungan lokal lebih dari 40 persen pada 2026, kemudian meningkat menjadi 60 persen pada 2029, sebelum mencapai 80 persen mulai 2030.

Target tersebut menunjukkan bahwa strategi VinFast tidak berhenti pada kegiatan perakitan kendaraan. Perusahaan juga berupaya meningkatkan keterlibatan industri lokal dalam rantai pasok kendaraan listrik.

Langkah tersebut sejalan dengan arah pemerintah Indonesia yang mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik dari hulu hingga hilir.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya menekankan bahwa pertumbuhan industri kendaraan listrik perlu diikuti penguatan rantai pasok dalam negeri.

Hal tersebut penting untuk meningkatkan nilai tambah produksi nasional sekaligus membuka peluang kemitraan dengan industri kecil dan menengah (IKM) komponen.

Strategi manufaktur lokal VinFast disiapkan untuk mendukung berbagai model kendaraan listrik yang dipasarkan di Indonesia. Lini tersebut mencakup VF 3, VF 5, VF 6, VF 7, hingga VF MPV 7.

Dengan semakin banyak model yang dirakit secara lokal, keberadaan pabrik VinFast di Subang berpotensi memperluas skala produksi sekaligus meningkatkan penggunaan komponen buatan dalam negeri.

Bagi industri otomotif Indonesia, langkah ini juga membuka peluang bagi pemasok lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok kendaraan listrik.

BACA JUGA: Price Lock Jaecoo J5 Diklaim Hangus, Konsumen Pertanyakan Alasan Regulasi Pajak

Peningkatan kandungan lokal tidak hanya berkaitan dengan kepentingan industri. Bagi konsumen, strategi lokalisasi juga berpotensi memberikan sejumlah manfaat.

Penguatan rantai pasok domestik dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi dan distribusi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mendukung harga kendaraan maupun komponen yang lebih kompetitif.

Ketersediaan komponen lokal juga dapat membantu mempercepat proses purnajual, servis, dan perbaikan kendaraan. Ketergantungan terhadap komponen impor dapat dikurangi sehingga risiko waktu tunggu atau inden suku cadang berpotensi lebih rendah.

Dengan demikian, peningkatan TKDN tidak hanya menjadi bagian dari pemenuhan regulasi, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah bagi pengalaman kepemilikan kendaraan listrik.

Bagi VinFast, investasi manufaktur di Indonesia menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun kehadiran perusahaan di pasar Asia Tenggara.

Lokalisasi produksi dan peningkatan TKDN secara bertahap diharapkan dapat menciptakan manfaat bagi berbagai pihak, mulai dari konsumen, pemasok komponen lokal, tenaga kerja, hingga perekonomian nasional.

Di tengah pertumbuhan pasar mobil listrik Indonesia, langkah tersebut juga memperlihatkan bahwa persaingan industri EV tidak hanya soal jumlah kendaraan yang berhasil dijual.

Kemampuan membangun manufaktur, rantai pasok, dan ekosistem kendaraan listrik lokal akan menjadi faktor penting dalam menentukan posisi Indonesia sebagai basis industri EV di kawasan.

(om/pd)

 

 

, , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *