
OTO Mounture — Setiap hari, jauh sebelum sebagian besar orang memulai aktivitasnya, Eni Wulandari sudah bersiap di pos layanan parkir sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Pukul 05.50 WIB, ia tiba lebih awal, lalu mulai bertugas pukul 06.30 WIB menggantikan rekan yang berjaga semalaman.
Di sela rutinitasnya, Eni tak pernah melewatkan salat Dhuha. Sudah 31 tahun ia menjalani pekerjaan ini tanpa pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang luar biasa.
“Saya suka pekerjaan ini karena bisa melayani masyarakat,” ujarnya.
Lapangan parkir tempatnya bekerja beroperasi 24 jam dan melayani ribuan kendaraan setiap hari. Namun, di balik sistem modern yang terus berkembang, ada sosok-sosok seperti Eni yang memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Kisah Eni bukanlah satu-satunya. Dalam momentum Hari Kartini, Secure Parking Indonesia (SPI) menyoroti peran perempuan yang selama ini menjadi tulang punggung operasional layanan parkir.
Selain Eni, ada nama-nama seperti Lince Megawati Hutabarat, Endang Lestari, dan Margareta Purwanti yang telah mengabdi lebih dari 25 tahun.
Mereka mewakili ribuan perempuan di SPI yang membuktikan bahwa pekerjaan lapangan dengan tekanan tinggi dapat dijalankan secara profesional tanpa memandang gender.
BACA JUGA: Homecoming Sumba 2026: Touring Sosial Telkomsel & GSrek Hadirkan Solusi Air Bersih dan Pendidikan
Bagi Lince Megawati Hutabarat, yang kini menjabat sebagai Car Park Manager di Jakarta Utara, kepercayaan pelanggan adalah hal utama.
Bergabung sejak 1996, ia memulai karier sebagai kasir di pusat elektronik di Jakarta Barat. Perjalanan panjang membawanya naik ke berbagai posisi strategis hingga manajerial.
Namun perjalanan itu tidak selalu mulus.
“Pernah saya didatangi preman yang membawa senjata tajam,” kenangnya.
Alih-alih mundur, Lince memilih tetap tenang dan menghadapinya dengan kepala dingin.
“Kalau kita sudah diberikan kepercayaan, kita harus bertanggung jawab dan jujur,” tegasnya.
Cerita lain datang dari Endang Lestari. Berasal dari Ponorogo, Jawa Timur, ia merantau ke Jakarta dengan tekad untuk mandiri.
Sambil bekerja di SPI, Endang berhasil menyelesaikan pendidikan Diploma III Akuntansi di STEI Rawamangun.
Kini, setelah hampir tiga dekade, ia bertugas sebagai staf administrasi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Setiap hari ia memastikan operasional parkir berjalan tertib, mulai dari pengecekan aset hingga laporan pendapatan.
“Tantangan pasti ada, terutama saat sistem mengalami gangguan di jam sibuk. Tapi saya selalu berusaha tetap tenang dan mencari solusi,” ujarnya.
BACA JUGA: MIND ID Percepat Hilirisasi Tambang, Bangun Rantai Industri dari Bauksit hingga Baterai EV
Margareta Purwanti juga memiliki perjalanan panjang. Sejak 1998, ia telah menangani lebih dari 20 lokasi parkir di Jabodetabek.
Baginya, menjadi perempuan berarti harus kuat dan mandiri.
“Harus punya penghasilan sendiri dan tidak bergantung pada orang lain,” pesannya.
Pengalaman puluhan tahun di lapangan membentuk prinsip hidupnya yang kokoh.
Kembali ke Eni Wulandari, sosoknya menjadi gambaran paling sederhana namun kuat tentang dedikasi.
Sebagai single parent, ia membesarkan dua anak sambil tetap bekerja di layanan parkir yang beroperasi tanpa henti.
“Saya percaya, yang laki-laki bisa kerjakan, perempuan juga bisa,” katanya.
Kebanggaan terbesarnya adalah mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga mandiri.
Manajemen Secure Parking Indonesia turut mengapresiasi kontribusi para perempuan ini.
Deputy Managing Director SPI, Queenta Sylvia, menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan pelanggan selama lebih dari tiga dekade.
“Perempuan-perempuan ini adalah fondasi kepercayaan yang kami bangun bersama pelanggan,” ujarnya.
(om/ril)








