Penjualan Honda Anjlok 38,7 Persen pada 2026, Pangsa Pasar Tergerus

 

OTO Mounture — Penjualan jenama otomotif asal Jepang, Honda di Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 mengalami penurunan tajam. Di saat pasar mobil nasional justru tumbuh dua digit, Honda malah mencatat pelemahan hampir 40 persen berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Berdasarkan data wholesales atau distribusi mobil dari pabrik ke dealer, Honda hanya mencatat 23.260 unit sepanjang Januari–Juli 2026. Angka tersebut turun 38,7 persen dibanding periode yang sama 2025 yang mencapai 37.916 unit.

Penurunan tersebut turut membuat pangsa pasar Honda tergerus dari 8,7 persen menjadi 4,5 persen. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun, kontribusi Honda terhadap pasar mobil nasional hampir kehilangan separuhnya.

Pelemahan Honda tidak hanya terlihat dari distribusi ke dealer. Data retail sales atau penjualan dari dealer ke konsumen juga menunjukkan pola serupa.

Sepanjang Januari–Juli 2026, penjualan retail Honda tercatat 27.554 unit, turun 37,7 persen dari 44.196 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pangsa pasarnya ikut menyusut dari 9,7 persen menjadi 5,4 persen.

Sementara itu, produksi Honda turun 36,4 persen dari 35.023 unit menjadi 22.264 unit. Pangsa produksi juga berkurang dari 5,3 persen menjadi 3,1 persen.

Untuk ekspor, penurunannya relatif lebih kecil, yakni 15 persen, dari 10.082 unit menjadi 8.568 unit.

Konsistensi penurunan pada data wholesales dan retail menjadi sinyal penting. Pelemahan Honda tidak hanya menunjukkan kemungkinan perubahan stok di tingkat dealer, tetapi juga mengindikasikan adanya penurunan permintaan konsumen di pasar domestik.

BACA JUGA: Penjualan Mobil Indonesia pada Juli 2026 Tumbuh, Tapi Selisih Wholesales dan Retail Perlu Dicermati

Perbedaan antara penjualan domestik dan ekspor juga menjadi salah satu poin menarik dalam data Gaikindo.

Ketika wholesales dan retail Honda turun sekitar 38 persen, ekspor hanya terkoreksi 15 persen. Pola ini mengindikasikan tekanan Honda lebih kuat terjadi di pasar Indonesia dibandingkan aktivitas ekspornya.

Namun, data agregat Gaikindo belum cukup untuk menentukan penyebab spesifik penurunan tersebut, termasuk kontribusi masing-masing model atau segmen.

Jika dilihat berdasarkan penjualan bulanan, penurunan Honda sebenarnya paling tajam terjadi pada kuartal pertama 2026.

Wholesales Honda turun dari 5.385 unit pada Februari menjadi 2.363 unit pada April, atau lebih dari 50 persen. Setelah itu, volumenya relatif bertahan di kisaran 2.378–2.587 unit hingga Juli.

Pola serupa terlihat pada retail sales. Setelah mencapai 4.688 unit pada Februari, penjualan turun menjadi 3.515 unit pada April dan kemudian relatif stabil di kisaran 3.600–3.700 unit.

Artinya, Honda memang belum menunjukkan pemulihan, tetapi penurunannya mulai memasuki fase yang lebih datar sejak April.

BACA JUGA: Hongqi Resmi Masuk Indonesia, Bawa E-HS9 sebagai Flagship SUV Listrik Mewah

Pelemahan Honda juga terjadi bersamaan dengan meningkatnya penetrasi sejumlah merek asal Tiongkok di pasar otomotif Indonesia.

BYD, misalnya, mencatat wholesales 29.826 unit sepanjang Januari–Juli 2026 atau tumbuh 81,6 persen. Sementara JAECOO yang relatif baru di pasar Indonesia telah membukukan 20.534 unit.

Meski demikian, data tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa pertumbuhan merek Tiongkok secara langsung menyebabkan penurunan Honda.

Adapun Gaikindo tidak menyajikan data agregat tersebut pada tingkat model atau segmen yang cukup detail untuk membuktikan hubungan sebab-akibat.

Yang terlihat jelas, Honda kehilangan pangsa pasar ketika pasar mobil nasional justru tumbuh, sementara sejumlah pemain baru berhasil mengambil bagian dari pertumbuhan tersebut.

(om/ls)

 

 

, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *