
OTO Mounture — Indonesia berpeluang memperkuat posisinya dalam industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global melalui pengembangan fasilitas manufaktur dan rantai pasok lokal. Salah satu langkah strategis yang mendukung upaya tersebut adalah beroperasinya pabrik VinFast di Subang, Jawa Barat, yang diproyeksikan menjadi basis produksi sekaligus hub ekspor kendaraan listrik setir kanan di kawasan regional.
Kehadiran pabrik kendaraan listrik VinFast di Subang menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong pengembangan industri kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) dari hulu hingga hilir.
Investasi ini juga diharapkan dapat memperkuat industri komponen otomotif dalam negeri, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, serta membuka peluang ekspor ke berbagai negara.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dikutip dari situs resmi Kementerian Perdagangan, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki modal dasar untuk menjadi salah satu pemain utama industri kendaraan listrik dunia. Potensi tersebut didukung kekayaan sumber daya alam, besarnya pasar domestik, serta komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem kendaraan listrik.
Pabrik VinFast di Subang berdiri di atas lahan seluas 171 hektare. Fasilitas manufaktur ini mulai beroperasi secara bertahap pada pertengahan Desember 2025, dengan investasi awal tahap pertama mencapai US$ 300 juta dari total komitmen investasi yang direncanakan melebihi 1 miliar dolar AS atau setara Rp18,1 triliun.
Fasilitas tersebut menjadi pabrik kendaraan listrik global keempat VinFast sekaligus yang pertama di Asia Tenggara di luar Vietnam. Pada tahap awal, pabrik memiliki kapasitas produksi mencapai 50.000 unit per tahun.
Sejumlah model kendaraan yang disiapkan untuk diproduksi di fasilitas ini meliputi city car VF 3 dan VF 5, SUV VF 6 dan VF 7, serta kendaraan komersial Limo Green dan MPV VF 7.
Seiring pengembangan fasilitas, kapasitas produksi pabrik VinFast Subang ditargetkan meningkat hingga 350.000 unit per tahun. Peningkatan kapasitas ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar kendaraan listrik domestik, tetapi juga mendukung ekspor ke negara-negara lain, khususnya pasar yang menggunakan kendaraan setir kanan.
Dengan demikian, Indonesia berpeluang mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok otomotif regional sekaligus menjadi salah satu basis produksi kendaraan listrik VinFast untuk pasar internasional.
BACA JUGA: GAC Resmikan Pabrik Baterai Mobil Listrik di Thailand, Produksi Capai 300.000 Unit
Selain meningkatkan kapasitas produksi, VinFast juga menargetkan penguatan penggunaan komponen dalam negeri atau tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Perusahaan menargetkan TKDN lebih dari 40% pada 2026. Persentase tersebut direncanakan meningkat menjadi 60% pada 2029 dan mencapai 80% mulai 2030.
Untuk mendukung target tersebut, VinFast menyiapkan kawasan khusus pemasok atau Supplier Park di area manufaktur Subang. Kawasan ini dirancang untuk mengintegrasikan pemasok komponen otomotif lokal, termasuk industri kecil dan menengah (IKM), ke dalam rantai pasok perusahaan.
Kehadiran kawasan pemasok tersebut diharapkan membuka kesempatan bagi industri komponen domestik untuk terlibat langsung dalam proses produksi kendaraan listrik.
Fasilitas manufaktur VinFast sendiri mencakup sejumlah tahapan produksi, mulai dari pengelasan bodi, pengecatan, perakitan akhir, hingga pengendalian kualitas. Proses tersebut membutuhkan dukungan berbagai komponen dan layanan industri yang dapat menjadi peluang bagi perusahaan pemasok lokal.
Peningkatan TKDN juga diharapkan mendorong transfer teknologi, meningkatkan kemampuan produksi IKM, serta memperkuat kompetensi tenaga kerja Indonesia di bidang manufaktur dan rekayasa otomotif.
Di sisi lain, penggunaan komponen lokal berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pasokan impor sekaligus mengefisienkan biaya logistik. Bagi konsumen, penguatan rantai pasok domestik juga dapat mendukung ketersediaan suku cadang serta mempermudah proses perawatan dan perbaikan kendaraan listrik.
BACA JUGA: Kasus Jetour X70 Plus Berlanjut, Konsumen Sebut Permintaan Refund Kembali Ditolak
Pengembangan pabrik kendaraan listrik VinFast di Subang juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Ketika beroperasi pada kapasitas penuh, fasilitas manufaktur tersebut diperkirakan mampu menyerap sekitar 5.000 hingga 15.000 tenaga kerja langsung.
Selain lapangan kerja langsung, investasi ini juga berpotensi menciptakan ribuan peluang kerja tidak langsung melalui sektor logistik, jasa, distribusi, hingga industri komponen pendukung.
Dampak ekonomi tersebut diharapkan tidak hanya dirasakan oleh kawasan industri Subang, tetapi juga wilayah lain di Jawa Barat yang terhubung dengan aktivitas produksi dan distribusi kendaraan listrik.
Dengan peningkatan kapasitas produksi, penguatan TKDN, serta integrasi pemasok domestik, pabrik VinFast Subang diharapkan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan industri otomotif nasional.
Investasi jangka panjang tersebut sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah industri kendaraan listrik, memperkuat kemampuan manufaktur dalam negeri, dan memperluas peran dalam rantai pasok otomotif global.
(om/mg)








