
OTO Mounture — Industri otomotif Tiongkok kini memasuki fase baru. Jika dalam satu dekade terakhir fokus utamanya adalah ekspansi skala dan volume produksi, kini para pelaku industri mulai mengalihkan perhatian ke penciptaan nilai, pengalaman pengguna, serta profitabilitas berkelanjutan.
Perubahan arah ini menjadi sorotan dalam forum Intelligent Electric Vehicle Development Forum 2026 yang digelar oleh China EV100 di Beijing pada April 2026.
Dikutip dari China Daily, disebutkan bahwa para eksekutif dan pembuat kebijakan menilai bahwa era pertumbuhan pesat industri kendaraan listrik (NEV) mulai mencapai titik jenuh. Ke depan, produsen otomotif dituntut meningkatkan kapabilitas sistem, inovasi teknologi, dan kualitas layanan kepada pengguna.
Data menunjukkan, pangsa pasar kendaraan energi baru di Tiongkok diproyeksikan menembus 50 persen pada 2026, naik signifikan dari hanya 5,34 persen pada 2020 dan 47,9 persen pada 2025.
Bahkan, menurut mantan wakil menteri industri dan teknologi informasi Tiongkok, Su Bo, angka tersebut bisa mencapai 70 persen dari total penjualan mobil baru pada 2030, meski laju pertumbuhan diperkirakan melambat.
BACA JUGA: Chery Perkenalkan Advanced Parking, Teknologi Parkir Otomatis yang Bisa Dipanggil dari HP
Pasar kendaraan listrik Tiongkok kini diisi lebih dari 100 merek, menjadikannya salah satu pasar paling kompetitif di dunia.
Executive Vice President of Volkswagen Group China and CEO of CARIAD China, Han Sanchu, menyebut bahwa Tiongkok menjadi pusat persaingan global kendaraan listrik, baik dari sisi skala maupun kompleksitas.
Sementara itu, Chief Scientist BYD, Lian Yubo ,menegaskan bahwa persaingan kini bergeser dari ekspansi skala ke penciptaan nilai dan kemampuan sistem secara menyeluruh.
Transformasi juga terjadi pada rantai pasok industri otomotif. Kolaborasi antara produsen dan pemasok kini semakin erat, terutama dalam pengembangan baterai, chip, serta layanan digital.
General Manager of JAC Group, Li Ming, menilai bahwa nilai industri kini bergeser ke teknologi hulu seperti baterai dan semikonduktor, serta layanan hilir yang lebih berorientasi pada pengguna.
BACA JUGA: Geely Cetak Rekor Penjualan Kuartal I 2026, Tembus 709 Ribu Unit Berkat Lonjakan Mobil Listrik
Namun, pertumbuhan cepat sebelumnya juga menyisakan masalah. Founder and CEO of NioW, William Li, mengungkap adanya pemborosan besar akibat peluncuran model kendaraan yang terlalu cepat.
“Pemborosan bisa mencapai ratusan juta yuan untuk satu model,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dua tantangan utama industri saat ini, yaitu ketidakseimbangan pasokan baterai dan ketidakstabilan suplai chip, yang dipengaruhi faktor geopolitik dan kebutuhan industri lain seperti pusat data AI.
Biaya baterai dan chip bahkan menyumbang lebih dari 50 persen total biaya produksi kendaraan listrik.
Di sisi lain, Chairman of Dongfeng’s Voyah, Lu Fang, mengingatkan bahwa kenaikan harga bahan baku, baterai, dan chip berpotensi mendorong kenaikan harga kendaraan di pasar.
“Industri otomotif harus tetap menghasilkan keuntungan, meski tipis, agar bisa bertahan,” ujarnya.
Data dari China Association of Automobile Manufacturers (CAAM) menunjukkan penjualan mobil di Tiongkok turun 20,3 persen pada kuartal pertama 2026 menjadi 4,82 juta unit.
Sementara itu, penjualan kendaraan listrik turun 23,8 persen menjadi 2,01 juta unit. Penurunan ini dipicu sikap konsumen yang cenderung menunda pembelian akibat kenaikan harga dan berkurangnya diskon.
Meski menghadapi tantangan, President of the China EV100, Zhang Yongwei menegaskan bahwa Tiongkok kini telah bertransformasi dari pengikut menjadi pemimpin global dalam industri kendaraan listrik.
“Perusahaan global kini melihat China sebagai referensi dalam mendefinisikan masa depan mobil dan budaya otomotif,” ujarnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa industri saat ini berada di titik krusial. Jika berhasil melewati fase ini, peluang pertumbuhan akan semakin besar di masa depan.
(om/ril)








