Ada Apa dengan Chery? Penjualan Mobilnya Terus Merosot di Indonesia

 

Chery Q GIIAS 2026

OTO Mounture — Penjualan Chery di Indonesia kembali menunjukkan tren negatif pada Agustus 2026. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi mobil Chery dari pabrik ke diler maupun penjualan dari diler ke konsumen sama-sama mengalami penurunan.

Penurunan tersebut bukan hanya terjadi secara bulanan, tetapi juga terlihat cukup tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, wholesales Chery turun hampir 40 persen, sementara retail sales terkoreksi lebih dari 36 persen.

Lantas, ada apa dengan Chery?

Berdasarkan data Gaikindo, wholesales Chery pada Agustus 2026 tercatat sebanyak 766 unit. Angka tersebut turun 8,5 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 837 unit. Jika dibandingkan dengan Agustus 2025, ketika Chery mencatat distribusi sebanyak 1.179 unit, penurunannya mencapai 35 persen.

Artinya, dalam satu bulan Chery belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan distribusi kendaraan ke jaringan diler.

Penurunan juga terlihat pada penjualan retail. Pada Agustus 2026, Chery mencatat 768 unit kendaraan terjual dari diler kepada konsumen. Jumlah tersebut turun 16,6 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 921 unit.

Jika dibandingkan dengan Agustus 2025 yang mencatat 1.485 unit, penurunan retail sales Chery bahkan mencapai 48,3 persen.

Dengan kata lain, penurunan penjualan Chery di Indonesia tidak hanya terjadi pada sisi distribusi pabrik, tetapi juga pada transaksi kendaraan kepada konsumen.

BACA JUGA: Rayakan 1 Tahun Mitsubishi Destinator, MMKSI Gelar Gebyar Auto Show di 19 Kota

Jika melihat data secara kumulatif, tekanan terhadap Chery terlihat semakin jelas. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, wholesales Chery hanya mencapai 7.867 unit. Pada periode yang sama tahun lalu, angkanya masih mencapai 13.055 unit.

Dengan demikian, terjadi penurunan sebesar 39,7 persen secara tahunan.

Kondisi serupa terjadi pada retail sales. Chery membukukan penjualan sebesar 8.209 unit sepanjang delapan bulan pertama 2026, turun 36,9 persen dibandingkan Januari-Agustus 2025 yang mencapai 13.002 unit. Jadi, berdasarkan dua indikator utama Gaikindo, performa Chery sepanjang 2026 memang sedang menghadapi tekanan.

Penurunan volume penjualan tersebut turut berdampak pada pangsa pasar Chery di Indonesia.

Pada sisi wholesales, market share Chery hingga Agustus 2026 berada di sekitar 1,3 persen. Angka tersebut turun cukup jauh dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2,6 persen.

Artinya, dalam kurun satu tahun, porsi Chery terhadap pasar wholesales nasional praktis menyusut sekitar separuh.

Pada retail sales, pangsa pasar Chery pada Agustus 2026 berada di angka sekitar 1,4 persen, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 2,5 persen.

Persoalannya bukan sekadar jumlah mobil Chery yang terjual lebih sedikit. Ketika pasar menghadirkan semakin banyak pilihan baru, penurunan volume juga membuat posisi sebuah merek semakin mudah tertekan dari sisi pangsa pasar.

BACA JUGA: 500 Ribu Mobil Listrik Diuji, Begini Kondisi Baterai EV Bekas Setelah 150.000 Km

Menariknya, penurunan Chery terjadi ketika sejumlah merek asal Tiongkok lainnya justru mampu mencatat pertumbuhan cukup agresif di Indonesia.

Salah satu contohnya adalah BYD. Berdasarkan data Gaikindo Januari-Agustus 2026, BYD mencatat wholesales 37.696 unit, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih memiliki ruang bagi merek Tiongkok untuk berkembang. Karena itu, penurunan Chery tidak bisa semata-mata dijelaskan karena konsumen Indonesia mulai meninggalkan merek asal Tiongkok.

Justru, persaingan di antara merek Tiongkok sendiri semakin ketat. Konsumen kini memiliki semakin banyak pilihan, mulai dari mobil listrik murni hingga SUV dengan teknologi hybrid dan range extender. Pada saat yang sama, merek Jepang juga terus mempertahankan basis konsumen melalui produk baru dan strategi elektrifikasi.

Chery sebenarnya memiliki portofolio yang cukup beragam di Indonesia, terutama pada segmen SUV. Namun, pasar otomotif 2026 bergerak semakin cepat. Kehadiran produk baru dari berbagai merek membuat konsumen memiliki lebih banyak alternatif sebelum menentukan pilihan.

Di segmen elektrifikasi, misalnya, persaingan tidak hanya datang dari satu atau dua merek. Konsumen dapat memilih kendaraan listrik berbasis baterai, hybrid, plug-in hybrid, hingga teknologi range extender.

Pada kondisi seperti ini, angka penjualan sebuah merek tidak hanya ditentukan oleh jumlah model yang ditawarkan, tetapi juga bagaimana produk tersebut diposisikan, harga yang diberikan, jaringan diler, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, serta tingkat kepercayaan konsumen.

BACA JUGA: GWM Wey G9 Hi4 Meluncur di Indonesia, Harga Mulai Rp1,158 Miliar

Ada satu hal menarik dalam data Chery di Agustus 2026, yakni retail sales Chery tercatat 768 unit, atau sedikit lebih tinggi dibandingkan wholesales yang berada di angka 766 unit. Selisihnya memang sangat kecil, hanya dua unit, sehingga tidak cukup untuk menjadi indikator kuat adanya perubahan stok diler.

Namun, pola tersebut tetap menarik karena memperlihatkan bahwa angka penjualan kepada konsumen tidak selalu identik dengan jumlah kendaraan yang baru didistribusikan oleh pabrik pada bulan yang sama.

Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, retail sales Chery juga lebih tinggi, yakni 8.209 unit berbanding wholesales 7.867 unit. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian penjualan retail dapat berasal dari kendaraan yang telah tersedia di jaringan diler sebelumnya.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah penurunan penjualan Chery di Indonesia ini hanya bersifat sementara atau justru menunjukkan perubahan posisi merek dalam persaingan otomotif nasional.

Jawabannya tentu belum bisa dipastikan hanya berdasarkan data hingga Agustus 2026. Namun, angka penurunan hampir 40 persen pada wholesales dan 36,9 persen pada retail sales menjadi sinyal yang cukup kuat bahwa Chery perlu menghadapi tantangan serius.

Terlebih, market share-nya juga turun dari sekitar 2,6 persen menjadi 1,3 persen pada sisi wholesales. Pada retail, pangsanya turun dari 2,5 persen menjadi 1,4 persen.

Dengan persaingan yang semakin ketat, Chery perlu mempertahankan daya tarik produknya sekaligus memperkuat faktor-faktor yang menjadi pertimbangan konsumen setelah pembelian, termasuk jaringan layanan, ketersediaan suku cadang dan nilai jual kembali.

Data penjualan September dan bulan-bulan berikutnya akan menjadi penting untuk melihat apakah Chery mampu membalikkan tren tersebut. Untuk sementara, data Gaikindo hingga Agustus 2026 menunjukkan satu hal yang cukup jelas: Chery sedang kehilangan momentum di pasar mobil Indonesia.

(om/ls)

 

 

, , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *