
OTO Mounture — Persaingan merek mobil asal Tiongkok di pasar otomotif Indonesia semakin menarik untuk dicermati. Data Gaikindo periode Agustus 2026 menunjukkan performa yang berbeda di antara merek-merek tersebut.
Di satu sisi, BYD, Jaecoo, Geely, Aion, MG, GWM, Xpeng, dan Jetour mencatatkan pertumbuhan dengan karakter masing-masing. Namun, di sisi lain, Chery dan Denza justru mengalami tekanan penjualan pada Agustus 2026.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tren pertumbuhan mobil Tiongkok di Indonesia tidak berlangsung secara merata. Selain volume penjualan, perbandingan wholesales atau distribusi dari pabrik/importir ke diler dan retail sales atau penjualan diler ke konsumen juga memberikan gambaran berbeda mengenai kondisi pasar.
BYD masih menjadi salah satu lokomotif utama pertumbuhan merek mobil Tiongkok di Indonesia. Pada Agustus 2026, BYD mencatatkan wholesales sebanyak 7.870 unit. Angka tersebut meningkat 19,8 persen dibandingkan Juli 2026 dan melonjak 207,2 persen dibandingkan Agustus 2025.
Dari sisi retail sales, BYD membukukan penjualan sebanyak 6.861 unit pada Agustus 2026. Angka tersebut tumbuh 30,9 persen secara bulanan dan 149,9 persen secara tahunan.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, BYD mencatatkan wholesales 37.696 unit dan retail sales 35.289 unit. Secara tahunan, capaian tersebut masing-masing meningkat 98,5 persen untuk wholesales dan 83,1 persen untuk retail sales.
Dengan capaian tersebut, BYD menjadi merek asal Tiongkok dengan volume penjualan terbesar di Indonesia pada periode tersebut.
Sementara Jaecoo juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup besar. Pada Agustus 2026, merek di bawah naungan Chery Group tersebut mencatatkan wholesales dan retail sales masing-masing 3.300 unit, atau tumbuh 3,1 persen dibandingkan Juli.
Jika melihat pertumbuhan secara tahunan, angkanya terlihat jauh lebih tinggi. Wholesales Jaecoo sepanjang Januari-Agustus 2026 bahkan meningkat lebih dari 5.000 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun raihan angka tersebut dikarenakan Jaecoo baru masuk pasar Indonesia di medio 2025 jadi bisa dikatakan masih relatif baru di pasar Indonesia sehingga basis penjualannya pada 2025 sangat rendah. Dengan demikian, kenaikan dalam persentase yang sangat besar tidak otomatis menunjukkan lonjakan permintaan dengan skala yang sama.
Kondisi serupa juga terlihat pada Geely. Pada Agustus 2026, Geely mencatatkan wholesales 2.121 unit dan retail sales 2.158 unit.
Secara year-to-date (YTD), penjualan Geely tumbuh lebih dari 800 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Xpeng dan Jetour juga menunjukkan pola pertumbuhan yang serupa, yakni persentase kenaikan tinggi dengan volume absolut yang masih relatif kecil.
BACA JUGA: Ada Apa dengan Chery? Penjualan Mobilnya Terus Merosot di Indonesia
Di tengah pertumbuhan sejumlah merek Tiongkok, Chery menunjukkan arah yang berbeda. Pada Agustus 2026, wholesales Chery tercatat hanya 766 unit, turun 8,5 persen dibandingkan Juli dan merosot 35 persen dibandingkan Agustus 2025.
Dari sisi retail sales, Chery membukukan 768 unit, turun 16,6 persen secara bulanan dan 48,3 persen secara tahunan. Jika dilihat secara kumulatif Januari-Agustus 2026, wholesales Chery turun 39,7 persen, sedangkan retail sales terkoreksi 36,9 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Angka tersebut menjadi salah satu catatan penting di tengah semakin ketatnya persaingan merek mobil Tiongkok di Indonesia.
Kemudian, Denza mencatatkan kondisi yang cukup berbeda pada Agustus 2026. Wholesales Denza turun drastis dari 159 unit pada Juli menjadi hanya 19 unit pada Agustus 2026. Artinya, terjadi penurunan sebesar 88,1 persen secara bulanan. Namun, angka retail sales Denza justru mencapai 519 unit pada Agustus 2026.
Perbedaan cukup besar antara wholesales dan retail sales tersebut dapat mengindikasikan bahwa diler masih memiliki persediaan kendaraan yang kemudian dijual kepada konsumen, meski distribusi unit baru pada periode tersebut jauh lebih rendah.
Gaikindo tidak menjelaskan penyebab spesifik di balik penurunan wholesales Denza pada Agustus. Karena itu, angka tersebut sebaiknya tidak langsung ditafsirkan sebagai indikasi masalah produk maupun strategi merek.
Sedangkan Wuling masih menjadi salah satu pemain penting di segmen mobil Tiongkok Indonesia. Pada Agustus 2026, Wuling mencatatkan wholesales 1.670 unit, sementara retail sales mencapai 1.850 unit. Namun, jika melihat performa Januari-Agustus 2026, terdapat perbedaan antara distribusi dan penjualan kepada konsumen.
Wholesales Wuling sepanjang periode tersebut meningkat 4,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, retail sales justru turun 7,8 persen.
Perbedaan tersebut menjadi indikator yang perlu dipantau karena dapat menunjukkan adanya kesenjangan antara jumlah kendaraan yang didistribusikan ke diler dengan kendaraan yang benar-benar terserap konsumen.
BACA JUGA: Mobil Bermasalah di Perjalanan? Begini Langkah Aman Mengatasinya
Sementara itu, Aion mencatatkan lonjakan signifikan pada Agustus. Wholesales Aion naik dari 305 unit pada Juli menjadi 1.007 unit pada Agustus 2026, atau meningkat 230,2 persen dalam satu bulan.
Pertumbuhan juga terlihat pada penjualan ritel. Secara YTD, Aion masih mencatatkan pertumbuhan positif, yakni 30,7 persen untuk wholesales dan 10,9 persen untuk retail sales dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selanjutnya, MG mencatatkan wholesales sebanyak 435 unit dan retail sales 597 unit pada Agustus 2026. Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, wholesales MG tumbuh 150,2 persen dan retail sales meningkat 120,7 persen secara tahunan.
Meski pertumbuhannya cukup tinggi, volume MG masih berada di bawah pemain seperti BYD dan Wuling. Sementara itu, GWM menunjukkan pola yang lebih beragam. Wholesales GWM pada Agustus meningkat 52,8 persen dibandingkan Juli, tetapi masih turun 43,6 persen jika dibandingkan Agustus 2025.
Secara YTD, wholesales GWM justru tumbuh 110,9 persen. Kondisi tersebut menunjukkan adanya tanda pemulihan meski kinerja bulanannya masih berfluktuasi.
Data Gaikindo pada Agustus 2026 memperlihatkan bahwa pertumbuhan merek mobil Tiongkok di Indonesia tidak bisa lagi dilihat sebagai satu cerita besar.
BYD berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemain dengan volume terbesar. Jaecoo dan Geely mencatatkan pertumbuhan persentase yang sangat tinggi, meski sebagian dipengaruhi basis penjualan yang rendah pada tahun sebelumnya.
Aion dan MG juga mencatatkan perkembangan positif, sementara GWM menunjukkan tanda pemulihan. Sebaliknya, Chery mengalami penurunan yang cukup konsisten, sedangkan Denza mencatat koreksi tajam pada sisi wholesales Agustus meski penjualan ritel masih relatif tinggi.
Dengan semakin banyaknya merek Tiongkok yang hadir di Indonesia, persaingan pasar otomotif tidak lagi sekadar soal apakah mobil Tiongkok sedang naik daun atau tidak.
Pertarungan justru semakin mengarah pada merek mana yang mampu mempertahankan pertumbuhan, membangun permintaan konsumen, mengelola stok diler, dan meningkatkan penjualan secara berkelanjutan.
(om/ls)








