500 Ribu Mobil Listrik Diuji, Begini Kondisi Baterai EV Bekas Setelah 150.000 Km

Ilustrasi – Foto: BlueCharge

OTO Mounture — Baterai menjadi salah satu komponen paling penting sekaligus paling dikhawatirkan ketika seseorang hendak membeli mobil listrik (EV) bekas. Pasalnya, kapasitas baterai akan mengalami degradasi seiring usia dan penggunaan kendaraan.

Namun, anggapan bahwa baterai mobil listrik bekas pasti cepat mengalami penurunan kapasitas tampaknya tidak sepenuhnya benar. Analisis terhadap lebih dari 500.000 pengujian baterai mobil listrik bekas yang dilakukan Aviloo menunjukkan kondisi baterai sangat bervariasi, baik antar-model maupun antar-unit kendaraan dalam model yang sama.

Temuan tersebut menjadi bagian dari Aviloo Certified EV Battery Report, laporan yang akan diterbitkan secara berkala oleh perusahaan asal Austria tersebut.

Aviloo sendiri merupakan perusahaan yang mengembangkan Aviloo Flash Test, yaitu metode pengujian independen untuk mengetahui State of Health (SoH) atau tingkat kesehatan baterai kendaraan listrik.

Berbeda dengan mobil bermesin pembakaran internal yang umumnya dinilai berdasarkan usia dan jarak tempuh, kondisi baterai menjadi faktor yang sangat penting ketika membeli mobil listrik bekas.

Baterai traksi pada kendaraan listrik akan mengalami degradasi, yaitu proses penurunan kapasitas penyimpanan energi secara permanen. Seiring menurunnya kapasitas baterai, jarak tempuh kendaraan juga dapat ikut berkurang.

Saat ini, sebagian besar produsen mobil listrik memberikan garansi baterai dengan patokan sekitar 70 persen kapasitas awal setelah delapan tahun atau 160.000 km, meski ketentuan sebenarnya dapat berbeda antar-merek dan model.

Karena itu, mengetahui kondisi baterai secara aktual menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum membeli EV bekas.

BACA JUGA: Pemilik BYD DM Klaim QR Aplikasi Ditahan Dealer Gara-Gara Beri Nilai 8/10

Dalam laporan terbarunya, Aviloo menganalisis data dari lebih dari 500.000 mobil listrik bekas yang telah menjalani Aviloo Flash Test di berbagai negara.

Pengujian dilakukan melalui konektor OBD kendaraan dan dirancang untuk memberikan hasil State of Health yang tidak bergantung pada produsen mobil.

Aviloo kemudian memusatkan analisis pada 20 model mobil listrik yang banyak digunakan. Kondisi baterai dibandingkan pada tiga tingkat jarak tempuh, yakni 50.000 km, 100.000 km, dan 150.000 km.

Dari analisis tersebut, terdapat tiga pola utama. Pertama, median kesehatan baterai cenderung menurun seiring bertambahnya jarak tempuh.

Kedua, perbedaan kondisi baterai antar-unit kendaraan semakin melebar ketika jarak tempuh bertambah. Artinya, dua mobil listrik dengan model dan jarak tempuh yang sama belum tentu mempunyai kondisi baterai yang identik. Ketiga, perbedaan karakteristik degradasi antar-model relatif konsisten pada berbagai tingkat jarak tempuh.

Salah satu temuan menarik dari analisis tersebut adalah 16 dari 20 model EV yang diuji masih memiliki median State of Health minimal 90 persen setelah menempuh 150.000 km. Sementara empat model lainnya berada pada kisaran 85–90 persen.

Dengan demikian, seluruh 20 model yang dianalisis masih memiliki median SoH di atas angka 70 persen ketika mendekati batas garansi yang umum digunakan, yakni 160.000 km. Berdasarkan data Aviloo, median tersebut berada di kisaran 80–90 persen pada titik tersebut. Namun, angka median tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi setiap kendaraan.

BACA JUGA: Hadapi Tabrak Lari dan Insiden di Jalan, Ini Pentingnya Pasang Dashcam

Aviloo menekankan bahwa rata-rata atau median dapat menyembunyikan adanya perbedaan besar antar-unit kendaraan. Salah satu contoh yang ditampilkan adalah Hyundai Ioniq 5 dengan baterai 72,6 kWh. Berdasarkan database Aviloo, model tersebut memiliki rata-rata SoH 92,8 persen setelah 150.000 km.

Dengan kondisi tersebut, jarak tempuh yang tersisa diperkirakan sekitar 319 km. Namun, Aviloo menemukan bahwa terdapat perbedaan lebih dari 12 persen SoH antar-unit Ioniq 5 pada jarak tempuh 150.000 km. Perbedaan tersebut setara dengan sekitar 42 km jarak tempuh.

Temuan ini menunjukkan bahwa melihat spesifikasi model atau angka jarak tempuh saja belum cukup untuk mengetahui kondisi baterai sebuah EV bekas.

CEO Aviloo, Marcus Berger, mengatakan bahwa data tersebut menunjukkan pentingnya melihat kondisi masing-masing kendaraan, bukan hanya rata-rata suatu model.

Menurutnya, baterai mobil listrik memang dapat mengalami degradasi, tetapi kondisinya tidak selalu seburuk anggapan bahwa baterai EV akan cepat kehilangan kemampuan.

Hal yang lebih penting adalah adanya variasi kondisi baterai yang cukup besar, baik antara satu model dengan model lainnya maupun antara kendaraan yang menggunakan model sama.

Perbedaan 10–15 persen dalam State of Health dapat berdampak terhadap jarak tempuh, nilai kendaraan, serta tingkat keandalan yang bisa diharapkan pemilik.

Temuan Aviloo memberikan gambaran bahwa membeli mobil listrik bekas tidak cukup hanya melihat usia kendaraan dan odometer.

Kondisi aktual baterai perlu diperiksa untuk mengetahui seberapa besar kapasitas yang masih tersedia. Pemeriksaan independen juga dapat membantu calon pembeli memahami apakah kondisi baterai sebuah kendaraan masih sesuai dengan ekspektasi.

Aviloo pun merekomendasikan calon pembeli melakukan tes kesehatan baterai secara independen sebelum membeli EV bekas.

Pada akhirnya, kondisi baterai menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi harga mobil listrik bekas, jarak tempuh, biaya kepemilikan, hingga nilai investasi kendaraan dalam jangka panjang.

Temuan dari lebih dari 500.000 pengujian tersebut juga memperlihatkan bahwa stigma mengenai baterai mobil listrik bekas yang cepat “habis” perlu dilihat secara lebih objektif. Yang terpenting bukan sekadar berapa kilometer mobil sudah berjalan, tetapi bagaimana kondisi baterainya secara aktual.

(om/pd)

 

 

, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *