Chery Tertekan di Pasar Indonesia, Penjualan Turun 40% Saat BYD dan Geely Melaju

Chery Q GIIAS 2026

OTO Mounture — Penjualan Chery di Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 mengalami penurunan tajam. Berdasarkan data resmi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan Chery secara wholesale hanya mencapai 7.101 unit, turun 40,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 11.876 unit.

Penurunan tersebut membuat pangsa pasar Chery ikut menyusut cukup signifikan, dari 2,7% pada Januari–Juli 2025 menjadi hanya 1,4% pada periode yang sama 2026.

Kinerja tersebut menjadi perhatian karena terjadi ketika pasar otomotif nasional justru menunjukkan pertumbuhan. Sepanjang Januari–Juli 2026, penjualan mobil nasional secara wholesale mencapai 517.742 unit atau tumbuh 18,3% secara tahunan.

Artinya, penurunan Chery tidak terjadi karena pasar otomotif Indonesia sedang mengalami kontraksi secara keseluruhan.

Pelemahan kinerja Chery juga terlihat pada tiga indikator utama industri otomotif, yakni wholesale, retail sales, dan produksi.

Pada periode Januari–Juli 2026, wholesale Chery tercatat 7.101 unit, turun 40,2% dari 11.876 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, retail sales Chery turun 35,4% dari 11.517 unit menjadi 7.441 unit. Produksi domestik juga mengalami penurunan 39,6%, dari 13.656 unit menjadi 8.244 unit.

Dengan demikian, penurunan Chery bukan hanya terlihat pada distribusi kendaraan dari pabrik ke dealer. Penjualan retail yang juga turun menunjukkan adanya pelemahan pada penyerapan kendaraan di tingkat konsumen.

Produksi yang ikut menyusut juga memperlihatkan bahwa aktivitas manufaktur Chery di Indonesia mengalami penurunan sepanjang periode tersebut.

BACA JUGA: Penjualan Honda Anjlok 38,7 Persen pada 2026, Pangsa Pasar Tergerus

Jika melihat data bulanan, penurunan penjualan Chery juga belum menunjukkan tanda pemulihan yang konsisten.

Pada Januari 2026, Chery mencatat wholesale sebanyak 1.064 unit. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 1.152 unit pada Februari, sebelum kembali turun pada bulan-bulan berikutnya.

Berikut rinciannya:

– Januari: 1.064 unit
– Februari: 1.152 unit
– Maret: 995 unit
– April: 1.137 unit
– Mei: 954 unit
– Juni: 962 unit
– Juli: 837 unit

Pada Juli 2026, penjualan wholesale Chery hanya mencapai 837 unit, turun sekitar 13% dibandingkan Juni yang berada di angka 962 unit.

Jika dibandingkan dengan Juli 2025 yang mencapai 1.593 unit, penjualan Chery pada Juli 2026 bahkan anjlok sekitar 47,5%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan penjualan Chery bukan sekadar terjadi dalam satu bulan, tetapi terlihat dalam tren kinerja sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini.

Penurunan penjualan Chery semakin menarik ketika dibandingkan dengan performa sejumlah merek Tiongkok lainnya di pasar Indonesia.

Pada periode Januari–Juli 2026, BYD mencatat wholesale sebanyak 29.826 unit, naik 81,6% secara tahunan. Pangsa pasarnya juga meningkat dari 3,8% menjadi 5,8%.

Geely bahkan membukukan pertumbuhan 861,1% dengan penjualan mencapai 10.389 unit. Sementara Jaecoo yang baru membangun momentum di pasar Indonesia mencatat 20.534 unit.

Pertumbuhan tinggi juga dicatat Xpeng yang membukukan 1.682 unit atau naik 2.302,9%. Morris Garage (MG) mencatat pertumbuhan 142,2% menjadi 2.640 unit, sedangkan GWM naik 178,4% menjadi 1.534 unit.

Di sisi lain, Denza sebagai sub brand premium BYD juga mengalami penurunan 52,3%.

Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa tidak semua merek Tiongkok mengalami pertumbuhan di Indonesia. Namun, skala penurunan Chery cukup mencolok karena terjadi bersamaan dengan pertumbuhan pasar nasional dan ekspansi sejumlah kompetitor Tiongkok.

BACA JUGA: Suzuki XL7 Terbaru Resmi Dikirim ke Konsumen, SPK Tembus 1.300 Unit

Penurunan volume penjualan secara otomatis memberikan tekanan terhadap posisi Chery di pasar otomotif nasional. Dengan wholesales turun dari 11.876 unit menjadi 7.101 unit, pangsa pasar Chery menyusut dari 2,7% menjadi 1,4%.

Kondisi serupa terlihat pada retail sales. Pangsa pasar Chery turun dari 2,5% menjadi 1,5%. Penurunan pangsa pasar ini menjadi tantangan tersendiri bagi Chery, terutama karena persaingan di segmen kendaraan asal Negeri Tirai Bambu semakin ramai.

Konsumen kini memiliki semakin banyak pilihan, mulai dari kendaraan listrik, hybrid, SUV, hingga model dengan harga yang kompetitif. Merek-merek China juga semakin agresif memperluas jaringan penjualan dan layanan purnajual di Indonesia.

Lantas, apa yang menyebabkan penjualan Chery turun? Kendati data Gaikindo menunjukkan dengan jelas adanya penurunan penjualan, tetapi belum menjelaskan secara spesifik faktor penyebabnya.

Karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa penurunan tersebut semata-mata disebabkan oleh produk, harga, jaringan dealer, ataupun strategi pemasaran Chery.

Namun, data yang ada menunjukkan bahwa pelemahan Chery lebih bersifat spesifik terhadap merek tersebut, bukan sekadar akibat pasar otomotif Indonesia atau sentimen terhadap merek Tiongkok secara keseluruhan.

Chery masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kinerja pada paruh kedua 2026, terutama dengan kehadiran produk baru, yakni Chery Q, serta memperkuat jaringan distribusi, meningkatkan layanan purnajual, atau menyesuaikan strategi harga.

Yang menjadi perhatian adalah seberapa cepat Chery mampu membalikkan tren tersebut. Sebab, ketika pasar mobil nasional tumbuh 18,3% dan sejumlah merek Tiongkok justru mencatat pertumbuhan tinggi, Chery harus menghadapi kenyataan bahwa volume penjualan dan pangsa pasarnya sama-sama mengalami penurunan cukup dalam.

(om/ls)

 

 

, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *