
OTO Mounture — Jaecoo J5 EV menjadi salah satu fenomena terbesar di pasar kendaraan listrik Indonesia sepanjang 2026. Dalam waktu kurang dari satu tahun sejak diluncurkan, SUV listrik ini berhasil mencatatkan penjualan yang mengesankan dan menduduki posisi sebagai salah satu mobil listrik terlaris di Tanah Air.
Namun di balik tingginya angka penjualan tersebut, sejumlah keluhan konsumen mulai bermunculan. Mulai dari waktu inden yang panjang, persoalan administrasi kendaraan, hingga laporan terkait kualitas produk dan layanan purna jual.
Situasi ini memunculkan pertanyaan: apakah kesuksesan penjualan Jaecoo J5 EV mampu diimbangi dengan kesiapan layanan purna jual yang memadai?
Jaecoo J5 EV Jadi Salah Satu Mobil Listrik Terlaris 2026
Jaecoo Indonesia resmi meluncurkan J5 EV pada November 2025 dengan harga mulai Rp249,9 juta untuk varian Standard dan Rp299,9 juta untuk varian Premium bagi 1.000 pembeli pertama.
Harga yang kompetitif dipadukan dengan desain SUV modern membuat model ini langsung mendapat sambutan positif dari pasar.
Sepanjang Januari hingga April 2026, J5 EV konsisten mencatatkan penjualan tinggi. Data industri menunjukkan penjualan ritel mencapai lebih dari 10.500 unit selama empat bulan pertama tahun ini, sementara total pengiriman kendaraan telah menembus sekitar 16.000 unit.
Pencapaian tersebut membuat Jaecoo J5 EV mampu bersaing bahkan melampaui sejumlah model kendaraan listrik yang lebih dulu hadir di Indonesia.
“Pencapaian 16.000 pengiriman J5 EV serta posisi J5 EV sebagai SUV EV No.1 di Indonesia selama empat bulan pertama 2026 menjadi bukti kepercayaan konsumen terhadap Jaecoo,” ujar Jim Ma, Business Unit Director Jaecoo Indonesia.
Inden Panjang Jadi Keluhan Awal Konsumen
Tingginya permintaan ternyata membawa konsekuensi tersendiri.
Sejumlah konsumen mengeluhkan lamanya waktu tunggu pengiriman unit. Bahkan dalam beberapa kesempatan, manajemen Jaecoo Indonesia mengakui terdapat konsumen yang membatalkan pemesanan karena tidak ingin menunggu terlalu lama.
Kondisi ini dirasakan lebih berat oleh konsumen di luar Pulau Jawa yang harus menghadapi tantangan distribusi dan logistik yang lebih kompleks dibandingkan wilayah Jabodetabek.
Selain masalah pengiriman, sebagian konsumen juga mengeluhkan perubahan harga kendaraan setelah pemesanan dilakukan.
Beberapa pengguna mengaku diminta membayar selisih harga ketika unit diterima. Bahkan terdapat laporan mengenai dokumen kendaraan yang belum diserahkan sebelum konsumen menyelesaikan pembayaran tambahan tersebut.
Pihak Jaecoo Indonesia menjelaskan bahwa pemesan awal mendapatkan skema perlindungan harga atau lock price. Namun sebagian konsumen menilai informasi mengenai mekanisme tersebut kurang tersampaikan secara jelas sejak awal transaksi.
Keluhan Kualitas Mulai Ramai di Komunitas
Selain persoalan administrasi dan pengiriman, sejumlah laporan mengenai kualitas kendaraan juga mulai ramai diperbincangkan di komunitas pengguna Jaecoo J5 EV di media sosial.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah laporan mengenai komponen rumah ban yang terlepas setelah kendaraan digunakan sekitar dua minggu.
Unggahan tersebut mendapat respons dari sejumlah pengguna lain yang mengaku mengalami kejadian serupa.
Keluhan lain yang cukup serius berkaitan dengan sistem kelistrikan kendaraan. Beberapa pengguna melaporkan mobil mengalami kondisi mati total sehingga sistem elektronik tidak dapat dioperasikan.
Dalam salah satu kasus yang ramai dibahas, kendaraan tidak dapat diisi daya karena penutup port pengisian baterai terkunci dan tidak dapat dibuka.
Jaecoo Indonesia menjelaskan bahwa kondisi tersebut diduga berkaitan dengan aki 12 volt yang kehilangan daya dan perusahaan melakukan penanganan melalui layanan home service.
Ban Bawaan Dinilai Kurang Optimal Saat Hujan
Keluhan lain yang sering muncul di komunitas pengguna berkaitan dengan performa ban bawaan pabrik.
Sejumlah pemilik J5 EV menilai traksi ban standar kurang optimal ketika digunakan di jalan basah atau saat hujan.
Meski belum ada data resmi yang menunjukkan masalah keselamatan secara luas, isu ini menjadi perhatian karena kendaraan listrik memiliki karakter torsi instan yang lebih besar dibanding mobil konvensional.
Akibatnya, kualitas ban memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan keselamatan berkendara.
BACA JUGA: Mengapa Mobil Tiongkok Punya Reputasi Purna Jual Buruk di Indonesia? Ini Faktanya
Penjualan Melonjak, Jaringan Servis Masih Terbatas
Tantangan terbesar yang kini dihadapi Jaecoo Indonesia tampaknya berada pada sektor layanan purna jual.
Hingga Mei 2026, Jaecoo diketahui memiliki sekitar 35 dealer aktif di Indonesia dan menargetkan ekspansi hingga 80 dealer pada akhir tahun.
Jika dibandingkan dengan jumlah kendaraan yang telah terkirim ke konsumen, rasio tersebut tergolong cukup tinggi.
Artinya, setiap dealer harus melayani ratusan pelanggan dalam waktu bersamaan, mulai dari servis berkala, klaim garansi, hingga penanganan keluhan teknis.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan antrean layanan apabila pertumbuhan jaringan tidak mampu mengikuti laju penjualan kendaraan.
Sengketa Konsumen Mulai Muncul
Sejumlah kasus yang melibatkan konsumen dan dealer juga mulai mencuat ke ruang publik.
Salah satunya berasal dari konsumen di Bekasi yang menyatakan akan menempuh jalur hukum atas dugaan wanprestasi terkait proses pembelian kendaraan.
Kasus lain terjadi di wilayah Bogor, ketika konsumen mengaku menerima kendaraan tanpa dokumen sementara yang dibutuhkan untuk operasional kendaraan.
Persoalan tersebut akhirnya diselesaikan setelah konsumen melayangkan somasi melalui kuasa hukum.
Meski kasus-kasus tersebut belum tentu mewakili pengalaman seluruh pemilik J5 EV, kemunculannya menunjukkan adanya tantangan yang perlu segera dibenahi agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Kesuksesan Penjualan Harus Diikuti Kualitas Layanan
Tidak dapat dipungkiri, Jaecoo J5 EV telah membuka akses lebih luas bagi masyarakat Indonesia yang ingin memiliki SUV listrik dengan harga kompetitif.
Namun dalam industri otomotif, kesuksesan sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh angka penjualan, melainkan juga pengalaman kepemilikan jangka panjang.
Kecepatan pengiriman unit, ketersediaan suku cadang, kualitas layanan bengkel, transparansi dealer, hingga respons terhadap keluhan konsumen akan menjadi faktor yang menentukan reputasi merek dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi Jaecoo Indonesia, periode 12 hingga 18 bulan mendatang bisa menjadi ujian penting untuk membuktikan bahwa pertumbuhan penjualan yang tinggi mampu diimbangi dengan layanan purna jual yang kuat dan terpercaya.
(om/ls/ril)








