Industri EV Tiongkok Berkembang Pesat, Layanan Purnajual Jadi Tantangan Besar

 

Fast Charging
Foto: Wuling Motors

OTO Mounture — Industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Tiongkok terus menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan pada 2025, untuk pertama kalinya penjualan kendaraan listrik berhasil melampaui setengah total penjualan mobil domestik di negara tersebut.

Berdasarkan data Asosiasi Produsen Mobil Tiongkok (CAAM), produksi kendaraan listrik dan kendaraan energi baru (NEV) di Tiongkok telah melampaui 16,6 juta unit sepanjang tahun 2025. Angka tersebut semakin menegaskan posisi Tiongkok sebagai salah satu kekuatan utama industri EV global.

Namun di balik pertumbuhan pesat tersebut, industri kendaraan listrik Tiongkok mulai menghadapi tantangan baru, terutama di sektor layanan purnajual dan kesiapan sumber daya manusia.

Dikutip dari CNA.id, meningkatnya populasi kendaraan listrik tidak diimbangi dengan jumlah teknisi dan bengkel yang memiliki kemampuan menangani teknologi EV.

Kota Hefei menjadi salah satu contoh pesatnya perkembangan industri kendaraan listrik di Tiongkok. Sepanjang 2024, kota tersebut memproduksi sekitar 1,37 juta kendaraan energi baru dengan nilai rantai industri mencapai 260 miliar yuan atau sekitar Rp650 triliun.

Pemerintah setempat bahkan menargetkan pembentukan klaster industri EV senilai 1 triliun yuan pada 2027 dengan kapasitas produksi hingga 3 juta kendaraan per tahun.

Namun pertumbuhan besar tersebut memunculkan persoalan baru terkait layanan perawatan kendaraan listrik.

BACA JUGA: Mitsubishi Destinator: SUV Keluarga Modern dengan Kabin Luas dan Banyak Ruang Penyimpanan

Pendiri Hefei Rongchuang Automotive Service, Zhao Fei, mengatakan industri kendaraan listrik membutuhkan teknisi dengan kemampuan khusus yang tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat.

Menurutnya, dibutuhkan waktu hingga tiga sampai empat tahun untuk membentuk teknisi EV yang benar-benar andal.

“Kalau tidak cepat menangkap arah perkembangan industri ini, teknisi kami bisa saja tergilas,” ujarnya seperti dikutip dari CNA.id, belum lama ini.

Saat kendaraan listrik mulai berkembang pesat pada 2019, Zhao bahkan harus membawa timnya belajar langsung ke berbagai kota di Tiongkok seperti Shenzhen, Chongqing, dan Hangzhou karena belum tersedia pusat pelatihan teknisi EV di Hefei.

Mereka mempelajari langsung sistem baterai, motor listrik, hingga komponen elektronik kendaraan dengan cara membongkar unit mobil listrik sebagai bahan praktik.

Kini, hampir 60 persen bisnis bengkel Zhao berasal dari kendaraan listrik. Meski demikian, kebutuhan tenaga kerja masih sangat besar.

Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok sebelumnya memperkirakan kebutuhan tenaga kerja sektor layanan kendaraan energi baru dapat mencapai 1,2 juta orang pada 2025.

Sementara itu, jumlah teknisi terampil yang benar-benar menguasai sistem kendaraan listrik masih sangat terbatas.

Data CAAM menunjukkan sekitar 65 persen kerusakan kendaraan listrik berkaitan dengan sistem kontrol elektronik dan kelistrikan. Namun hanya sekitar 12 persen pekerja bengkel yang memiliki kemampuan menangani masalah tersebut.

BACA JUGA: Penjualan Wuling Motors Naik pada April 2026, Retail Sales Tumbuh Lebih dari 22 Persen

Tantangan lain juga dirasakan bengkel independen yang menangani kendaraan listrik. Pemilik Xinbaoyuan Auto Repair, Nie, mengatakan banyak produsen EV di Tiongkok menerapkan sistem tertutup yang membuat proses diagnosis dan perbaikan menjadi lebih sulit dilakukan pihak ketiga.

“Baterai EV tidak bisa diperbaiki sembarangan. Kalau dilakukan, itu bisa dianggap pelanggaran,” ujarnya.

Selain itu, kendaraan listrik bekas juga mulai menghadapi tantangan tersendiri di pasar otomotif Tiongkok.

Penjual mobil bekas di Hefei, Liu Jia, menyebut konsumen masih khawatir terhadap kondisi baterai, jarak tempuh tinggi, hingga risiko kebakaran pada kendaraan listrik bekas.

Berbeda dengan mobil konvensional, kendaraan listrik bekas dinilai memiliki ketidakpastian lebih besar terkait usia baterai dan biaya perawatan jangka panjang.

Di tengah persaingan industri kendaraan listrik yang semakin ketat, layanan purnajual dinilai akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan sebuah merek.

CEO Sino Auto Insights, Tu Le, menilai konsumen kini semakin kritis terhadap kualitas layanan dan pengalaman kepemilikan kendaraan listrik.

“Konsumen kini jauh lebih berkuasa. Kalau Anda tidak benar-benar berfokus pada pelanggan, Anda akan kehilangan penjualan,” katanya.

Pertumbuhan industri kendaraan listrik Tiongkok memang menjadi salah satu transformasi terbesar di sektor otomotif global. Namun di balik pencapaian tersebut, tantangan terkait teknisi, layanan purnajual, dan kesiapan ekosistem perawatan kendaraan menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.

(om/ls)

 

 

, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *