
OTO Mounture — Sebuah unggahan di media sosial memicu perbincangan di kalangan pengguna mobil listrik di Indonesia. Seorang pemilik BYD Sealion 7 mengaku kampas rem mobilnya sudah sangat tipis meski mobil baru digunakan sejauh sekitar 2.900 kilometer.
Cerita tersebut dibagikan oleh akun Facebook Riph Anggraynoh di grup komunitas BYD Indonesia. Dalam unggahannya, ia juga menyertakan foto kondisi keempat kampas rem mobil tersebut.
Menurutnya, mobil yang dibelinya pada 2025 itu jarang digunakan dan baru mencatat jarak tempuh sekitar 2.900 km saat diperiksa di bengkel.
Pemilik kendaraan menjelaskan bahwa masalah bermula ketika muncul bunyi dari roda kiri belakang saat mobil digunakan. Ia kemudian melakukan booking servis di dealer BYD Arista BSD dan meninggalkan mobilnya pada 13 Maret 2026.
Pada malam hari, service advisor mengabarkan bahwa kampas rem mobil tersebut sudah sangat tipis dan perlu diganti. Namun, pengajuan penggantian dengan garansi disebut ditolak oleh prinsipal.
Alasannya, kampas rem termasuk komponen consumable yang hanya ditanggung hingga 10.000 km atau 6 bulan pemakaian, mana yang tercapai lebih dahulu.
Hal yang membuat pemilik kendaraan merasa janggal adalah kondisi kampas rem yang tidak merata.
Dari empat kampas rem yang diperiksa, hanya satu kampas di roda kiri belakang yang terlihat sangat tipis, sementara tiga lainnya masih dalam kondisi baik.
Padahal mobil tersebut merupakan SUV listrik dengan sistem penggerak empat roda (AWD).
“Apakah masuk akal ketika penggunaan baru di 2.900 km kampas rem sudah tipis, dan hanya terjadi di kiri belakang?” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Ia juga menyebutkan bahwa kemungkinan cakram rem (rotor) juga sudah mengalami goresan dan perlu diganti.

Kasus ini langsung memancing diskusi di komunitas pengguna mobil listrik. Beberapa anggota komunitas menilai kondisi tersebut tidak normal, terutama karena mobil listrik biasanya memiliki usia kampas rem yang lebih panjang dibanding mobil konvensional.
Salah satu anggota grup menuliskan bahwa masalah ini bukan sekadar soal biaya penggantian kampas rem. Menurutnya, hal tersebut menyangkut reputasi dan kepercayaan terhadap merek.
“Ini bukan masalah berapa uang yang harus dikeluarkan untuk ganti kampas rem. Ini masalah reputasi,” tulis salah satu akun facebook.
Komentar lain datang dari pengguna yang mengaku sudah menempuh perjalanan jauh dengan mobil listrik namun kampas remnya masih awet.
Salah satu pengguna menyebutkan bahwa mobil listrik miliknya sudah menempuh lebih dari 54.000 km dan kampas rem masih dalam kondisi baik.
Menurutnya, mobil listrik biasanya memiliki umur kampas rem yang lebih panjang karena adanya sistem Regenerative braking.
Teknologi tersebut memungkinkan motor listrik membantu memperlambat kendaraan sekaligus mengisi ulang energi ke baterai, sehingga penggunaan rem mekanis menjadi lebih sedikit.
Service advisor disebut telah mencoba mengajukan banding ke pihak prinsipal, namun belum memberikan jaminan apakah penggantian kampas rem akan disetujui melalui garansi.
Pemilik kendaraan pun membuka diskusi di komunitas untuk mencari masukan, apakah kondisi tersebut memang normal terjadi pada mobil listrik atau justru merupakan kasus yang tidak wajar.
Kasus ini pun menjadi perhatian di komunitas otomotif, mengingat usia pakai kampas rem yang sangat singkat dinilai tidak lazim untuk kendaraan yang baru menempuh 2.900 kilometer.
(om/ls)








