Indonesia Percepat Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik, Pabrik Cell Karawang Jadi Pengungkit Daya Saing Industri

Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik

OTO Mounture — Indonesia terus memperkuat daya saing industri nasional melalui percepatan pembangunan ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB).

Kehadiran pabrik baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir dinilai bukan sekadar mendukung transisi energi, melainkan langkah strategis untuk memperkuat manufaktur nasional sekaligus menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik.

Pemerintah melalui Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, saat ini tengah memacu Proyek Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi. Salah satu proyek utama yang tengah berjalan adalah pembangunan Fasilitas Produksi Baterai Cell di Karawang, Jawa Barat.

Proyek tersebut merupakan hasil kerja sama perusahaan patungan antara MIND ID melalui PT Industri Baterai Indonesia (PT IBI) dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co., Limited, Brunp, dan Lygend (CBL) yang membentuk entitas PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).

Hingga Januari 2026, instalasi Battery Manufacture Equipment di fasilitas tersebut telah rampung. Pabrik ini dijadwalkan mulai beroperasi secara komersial pada akhir 2026 dengan kapasitas awal 6,9 GWh, yang diproyeksikan meningkat hingga 15 GWh pada 2028.

BACA JUGA: Industri Kendaraan Listrik Indonesia Diprediksi Masuki Fase Konsolidasi pada 2026

Sekretaris Jenderal Asosiasi Ekosistem Kendaraan Listrik (AEML), Rian Ernest, menilai kehadiran pabrik baterai cell lokal memiliki peran strategis yang jauh melampaui fungsi produksi semata.

Menurutnya, fasilitas ini berfungsi sebagai anchor industry yang akan menarik investasi lanjutan dan memperkuat ekosistem industri baterai nasional.

“Keberadaan pabrik baterai cell ini akan menjadi jangkar bagi investasi lain, mulai dari penyedia material, komponen, hingga industri daur ulang. Ini akan mempercepat terbentuknya ekosistem industri yang utuh di dalam negeri,” ujar Rian.

Ia menambahkan, dampak paling langsung yang akan dirasakan industri adalah kepastian pasokan baterai bagi para produsen kendaraan listrik (OEM/assembler).

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa standar kualitas yang jelas di dalam negeri diyakini akan menurunkan hambatan masuk bagi pemasok lokal, sekaligus mempercepat pembangunan SDM berteknologi tinggi yang berdampak langsung pada daya saing industri nasional.

Rian juga menegaskan bahwa Indonesia kini mulai meninggalkan ketergantungan pada ekspor mineral mentah.

“Indonesia bukan lagi sekadar pengekspor bijih. Nilai tawar kita akan meningkat signifikan ketika sumber daya alam diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti sel baterai yang memenuhi standar global,” jelasnya.

BACA JUGA: Data Gaikindo: Penjualan Mitsubishi Fuso 2025 di Bawah 2024

Pandangan serupa disampaikan Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (RESSED UI), Ali Ahmudi.

Ia menilai industrialisasi baterai dalam negeri merupakan langkah krusial untuk menekan harga kendaraan listrik di tingkat konsumen.

“Jika komponen utama EV bisa diproduksi di dalam negeri dengan efisiensi logistik yang lebih baik, harga kendaraan listrik akan lebih terjangkau. Hilirisasi ini harus berlanjut agar Indonesia tidak hanya menjual lahan atau bahan mentah, tetapi produk dengan nilai tambah berlipat,” tegas Ali.

Ali juga mendorong agar transfer teknologi menjadi syarat utama masuknya pemain global ke Indonesia. Menurutnya, basis produksi di dalam negeri akan memperkuat kemandirian industri nasional, meski di tahap awal menghadapi tantangan bisnis.

“Ini adalah fondasi menuju era industri baru yang mandiri dan berdaya saing global,” pungkasnya.

(om/ril)

 

 

, , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *