
OTO Mounture — Kesiapan infrastruktur jalan tol menjadi salah satu faktor krusial dalam mendukung kelancaran mobilitas masyarakat saat periode mudik Lebaran. Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah, keberadaan jalur fungsional jalan tol diproyeksikan memainkan peran strategis dalam mengurai kepadatan lalu lintas yang selama ini kerap terjadi saat arus mudik dan balik.
PT Jasa Marga (Persero) Tbk terus mematangkan persiapan pengoperasian sejumlah jalur fungsional tol di dua wilayah tersebut sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan konektivitas, keselamatan, serta kenyamanan pengguna jalan, khususnya pada momen dengan lonjakan mobilitas tinggi seperti Lebaran.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menegaskan bahwa penguatan jaringan jalan tol bukan hanya soal membuka ruas baru, melainkan memastikan setiap jalur yang difungsionalkan benar-benar siap dari sisi teknis, keselamatan, dan integrasi lalu lintas.
“Kehadiran jalur fungsional diharapkan mampu mendistribusikan arus kendaraan secara lebih merata, mengurangi kepadatan di titik-titik rawan, serta memberikan alternatif perjalanan yang lebih aman dan efisien bagi masyarakat,” ujarnya.
BACA JUGA: inDrive Perkuat Strategi Hiperlokal, Indonesia Jadi Pasar Prioritas 2026
Dua jalur fungsional yang disiapkan Jasa Marga dinilai memiliki dampak signifikan terhadap pola pergerakan kendaraan di wilayah selatan dan tengah Pulau Jawa.
Jalur pertama adalah Tol Solo–Yogyakarta–NYIA Kulon Progo segmen Prambanan–Purwomartani. Ruas ini meningkatkan konektivitas antara Solo, Klaten, dan Yogyakarta, sekaligus mempermudah akses menuju kawasan strategis, termasuk destinasi wisata seperti Candi Prambanan. Kehadiran jalur ini juga berpotensi memangkas waktu tempuh perjalanan antarkota secara signifikan.
Jalur kedua adalah Tol Yogyakarta–Bawen Seksi Ambarawa–Bawen, yang terhubung langsung dengan Tol Trans Jawa Ruas Semarang–Solo. Jalur ini menjadi alternatif penting bagi pemudik yang menuju wilayah Magelang, Temanggung, dan sekitarnya, sekaligus mengurangi beban lalu lintas di Exit Bawen yang selama ini kerap padat pada musim mudik.
Dengan karakter jalan tol tanpa persimpangan dan lampu lalu lintas, jalur fungsional ini dinilai lebih aman dan efisien untuk mendukung pergerakan kendaraan jarak jauh.
BACA JUGA: 43 Tahun Hino Indonesia, Perjalanan Panjang Membangun Transportasi Negeri
Pengoperasian jalur fungsional tidak dilakukan secara terpisah. Jasa Marga menjalin koordinasi intensif dengan Kepolisian, Kementerian Perhubungan, serta pemangku kepentingan lainnya untuk menyusun skenario pengaturan lalu lintas, termasuk rekayasa arus seperti one way atau contraflow apabila diperlukan.
Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho menilai kehadiran jalur fungsional di DIY dan Jawa Tengah dapat membantu memecah bangkitan arus kendaraan dari arah Jakarta dan Semarang menuju Solo dan Yogyakarta, sehingga pengendalian lalu lintas menjadi lebih efektif.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan menekankan pentingnya pemenuhan unsur keselamatan sebagai prioritas utama, mengingat DIY dan Jawa Tengah secara historis menjadi tujuan favorit masyarakat saat mudik Lebaran.
Di luar konteks Lebaran, keberadaan jalur fungsional ini juga mencerminkan investasi jangka panjang dalam pengembangan jaringan jalan tol nasional.
Dengan meningkatnya konektivitas antarwilayah, manfaatnya tidak hanya dirasakan saat musim mudik, tetapi juga dalam mendukung aktivitas ekonomi, pariwisata, dan mobilitas harian masyarakat.
Melalui pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta dukungan teknologi seperti sistem pemantauan lalu lintas dan fasilitas keselamatan, Jasa Marga menargetkan pengalaman berkendara yang lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi pengguna jalan.
(om/ril)








