BYD Catat Penurunan Laba 20,54 Persen di Semester I 2026

 

Logo BYD
Foto: OTO Mounture/Luchito Sangsoko

OTO Mounture — BYD mencatat penurunan pendapatan dan laba bersih pada semester pertama 2026. Di tengah tekanan pasar domestik Tiongkok, produsen otomotif tersebut justru mencatat pertumbuhan signifikan pada ekspor kendaraan ke pasar global.

Dalam laporan interim yang dirilis pada 28 Agustus 2026, BYD membukukan pendapatan operasional sekitar 344,815 miliar yuan atau sekitar Rp910 triliun pada Januari-Juni 2026. Angka tersebut turun 7,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham perusahaan mencapai sekitar 12,32 miliar yuan atau sekitar Rp32,5 triliun, turun 20,54 persen secara tahunan.

BYD menjelaskan, penurunan laba bersih terutama disebabkan tekanan jangka pendek akibat fluktuasi nilai tukar dan kerugian valuta asing. Meski demikian, perusahaan menilai profitabilitas bisnis inti masih tetap stabil.

Menariknya, kinerja BYD pada kuartal II 2026 justru menunjukkan perbaikan. Laba bersih pada periode tersebut meningkat sekitar 30 persen secara tahunan, sedangkan margin kotor mencapai 18,9 persen, menjadi level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Segmen otomotif dan produk terkait masih menjadi sumber pendapatan terbesar BYD. Pada semester I 2026, pendapatan dari bisnis tersebut mencapai sekitar 275,34 miliar yuan atau sekitar Rp726,6 triliun. Angka ini turun 8,98 persen secara tahunan dan menyumbang sekitar 79,85 persen dari total pendapatan perusahaan.

Meski turun dibandingkan tahun sebelumnya, pendapatan segmen otomotif tersebut masih lebih tinggi dibandingkan semester I 2025 yang mencapai sekitar 228,317 miliar yuan.

Sementara itu, segmen elektronik dan produk lainnya mencatat pertumbuhan tipis sebesar 0,96 persen menjadi sekitar 69,405 miliar yuan atau sekitar Rp183,2 triliun. Kontribusinya mencapai sekitar 20,13 persen dari total pendapatan BYD.

BACA JUGA: Geely EX2 dan BYD Qin L DM-i Diperiksa Regulator Tiongkok, Ini Temuannya

Dari sisi penjualan, BYD menghadapi tekanan di pasar kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV). Sepanjang Januari-Juni 2026, penjualan kumulatif NEV BYD mencapai sekitar 1,8085 juta unit, turun 15,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Chairman sekaligus Presiden BYD, Wang Chuanfu, menyebut keterbatasan rantai pasokan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi pencapaian penjualan perusahaan.

Secara khusus, Wang menyoroti kapasitas produksi Blade Battery generasi kedua yang masih dalam tahap peningkatan. “Penjualan tahun ini bergantung pada produksi baterai,” katanya.

Seorang staf dari bisnis pengisian cepat BYD juga mengungkapkan bahwa kapasitas produksi telah meningkat setelah perusahaan melakukan peningkatan lini produksi selama enam bulan. Namun, kapasitas tersebut masih tergolong ketat untuk memenuhi permintaan.

Berbeda dengan pasar domestik, strategi ekspansi global BYD menunjukkan perkembangan positif. Data China Association of Automobile Manufacturers (CAAM) menunjukkan BYD mengekspor sekitar 792.000 kendaraan pada semester I 2026.

Jumlah tersebut meningkat 67,8 persen secara tahunan. Dengan pencapaian itu, ekspor kini menyumbang hampir 44 persen dari total penjualan BYD.

Wang Chuanfu bahkan optimistis BYD berpotensi melampaui target penjualan kendaraan di pasar luar negeri sebanyak 1,5 juta unit sepanjang 2026.

Pertumbuhan ekspor menjadi salah satu penopang penting BYD ketika persaingan pasar otomotif domestik Tiongkok semakin ketat.

BACA JUGA: Indonesian Custom Show 2026 Jadi Ajang Motul Dekatkan Diri dengan Komunitas Otomotif

Selain ekspansi ke pasar internasional, BYD juga terus mendorong strategi premiumisasi melalui merek-merek kelas atas. Tiga merek BYD, yakni Denza, Fang Cheng Bao, dan YangWang, mencatat pertumbuhan penjualan yang signifikan.

Gabungan penjualan ketiga merek tersebut mencapai sekitar 228.000 unit pada semester I 2026, meningkat 61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontribusi Denza, Fang Cheng Bao, dan YangWang kini mencapai sekitar 12,6 persen dari total penjualan BYD. Pertumbuhan tersebut menunjukkan BYD mulai memperluas portofolionya dari kendaraan listrik volume tinggi ke segmen kendaraan premium.

Di tengah tekanan penjualan domestik, posisi BYD sebagai salah satu produsen otomotif dengan penjualan terbesar di Tiongkok mulai mendapat tantangan dari Geely Auto.

Pada semester I 2026, penjualan domestik BYD di Tiongkok mencapai sekitar 1,016 juta unit. Sementara itu, Geely Auto mencatat penjualan domestik sekitar 950.000 unit, termasuk kendaraan bermesin pembakaran internal atau ICE. Dengan demikian, selisih penjualan kedua perusahaan hanya sekitar 66.000 unit.

Jika tren tersebut berlanjut hingga akhir 2026, persaingan BYD dan Geely di pasar domestik Tiongkok berpotensi semakin ketat. Bahkan, Geely Auto berpeluang menyalip BYD dari sisi penjualan domestik sepanjang tahun ini.

(om/pd)

 

 

, , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *