
OTO Mounture — Penjualan kendaraan komersial di Indonesia pada Maret 2026 menunjukkan dinamika yang cukup beragam. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sejumlah merek mengalami kenaikan, sementara lainnya mencatat penurunan baik dari sisi distribusi pabrik ke diler (wholesales) maupun penjualan ke konsumen (retail sales).
Adapun penjualan wholesales kendaraan komersial pada Maret 2026 masih dipimpin oleh Mitsubishi Fuso.
Mitsubishi Fuso sendiri mencatat penjualan sebanyak 2.681 unit pada Maret 2026, meningkat dibanding Februari 2026 yang mencapai 2.506 unit. Secara tahunan, angka ini juga melonjak signifikan dari 1.604 unit pada Maret 2025.
Sementara Isuzu membukukan penjualan 1.657 unit pada Maret 2026. Angka ini mengalami penurunan dibanding Februari 2026 yang mencapai 1.948 unit, serta lebih rendah dari capaian Maret 2025 sebanyak 1.802 unit.
Di posisi ketiga, ada Hino yang mencatat penjualan 1.327 unit pada Maret 2026. Meski turun dari Februari 2026 yang mencapai 1.650 unit, penjualan ini masih lebih baik dibanding Maret 2025 yang tercatat 1.193 unit.
Selanjutnya Mercedes-Benz menunjukkan lonjakan signifikan dengan penjualan 187 unit pada Maret 2026, naik tajam dari 61 unit pada Februari 2026, serta meningkat dari 81 unit pada Maret 2025.
UD Trucks mencatat penjualan 72 unit pada Maret 2026, naik dari 52 unit pada Februari 2026. Namun secara tahunan, angka ini turun jauh dibanding Maret 2025 yang mencapai 218 unit.
FAW mencatat penjualan stabil sebesar 63 unit pada Maret 2026, sama dengan Februari 2026, dan sedikit meningkat dari 59 unit pada Maret 2025.
Scania membukukan penjualan 42 unit pada Maret 2026, naik dari 35 unit pada Februari 2026, serta sedikit meningkat dibanding Maret 2025 yang mencapai 40 unit.
BACA JUGA: Penjualan Mobil Maret 2026 Anjlok 24%, Ini Data Lengkap dan Daftar Merek Terlaris
Pada sisi retail sales atau penjualan dari diler ke konsumen, Mitsubishi Fuso kembali memimpin pasar dengan catatan penjualan 2.848 unit pada Maret 2026, meningkat dari 2.618 unit pada Februari 2026, serta melonjak dari 1.929 unit pada Maret 2025.
Posisi kedua, Isuzu membukukan penjualan 2.065 unit pada Maret 2026. Angka ini naik tipis dari Februari 2026 sebesar 2.031 unit, dan sedikit lebih tinggi dibanding Maret 2025 yang mencapai 2.007 unit.
Selanjutnya Hino mencatat penjualan 1.956 unit pada Maret 2026, meningkat cukup signifikan dari Februari 2026 yang sebesar 1.560 unit. Namun, angka ini masih lebih rendah dibanding Maret 2025 yang mencapai 2.083 unit.
Mercedes-Benz mencatat penjualan 87 unit pada Maret 2026, turun dari 96 unit pada Februari 2026, namun sedikit lebih tinggi dibanding Maret 2025 yang mencapai 81 unit.
UD Trucks membukukan penjualan 76 unit pada Maret 2026, sedikit turun dari Februari 2026 yang mencapai 79 unit, dan jauh lebih rendah dibanding Maret 2025 sebesar 175 unit.
FAW mencatat penjualan stabil sebanyak 63 unit pada Maret 2026, sama seperti Februari 2026, serta sedikit meningkat dibanding Maret 2025 yang mencapai 59 unit.
Scania mencatat penjualan 42 unit pada Maret 2026, naik dari 35 unit pada Februari 2026, serta meningkat tipis dari Maret 2025 yang mencapai 40 unit.
BACA JUGA: Penjualan Mobil Astra pada Maret 2026 Turun, Namun Pangsa Pasar Masih Dominan di Indonesia
Data Maret 2026 menunjukkan bahwa pasar kendaraan komersial masih bergerak selektif dan fluktuatif. Beberapa poin penting yang bisa disimpulkan, yakni Mitsubishi Fuso konsisten memimpin di wholesales dan retail.
Sedangkan Isuzu mengalami tekanan di wholesales, namun stabil di retail. Sementara Hino mulai pulih meski belum sepenuhnya stabil, lalu Mercedes-Benz mencatat lonjakan signifikan di wholesales, serta UD Trucks mengalami penurunan cukup tajam secara tahunan.
Kondisi ini mencerminkan bahwa sektor logistik dan distribusi masih berjalan, namun pelaku usaha cenderung berhati-hati dalam melakukan pembelian unit baru.
Ke depan, penjualan kendaraan komersial diperkirakan akan sangat bergantung pada pertumbuhan sektor logistik, stabilitas ekonomi nasional, dan proyek infrastruktur dan distribusi barang.
Dengan kondisi pasar saat ini, persaingan antar merek diprediksi akan semakin ketat, terutama dalam menawarkan efisiensi operasional dan layanan purna jual.
(om/ril)








