
OTO Mounture — Penjualan kendaraan komersial merek Isuzu di awal tahun 2026 mengalami tekanan. Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi dari pabrik ke diler (wholesales) pada Januari 2026 tercatat menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Data ini menjadi sorotan pelaku industri otomotif nasional, terutama di segmen kendaraan niaga yang sangat bergantung pada aktivitas logistik, konstruksi, dan distribusi barang.
Pada Januari 2026, wholesales Isuzu tercatat sebanyak 2.170 unit. Angka ini turun dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 2.453 unit.
Jika dibandingkan dengan Januari 2025 yang sebesar 2.206 unit, terjadi penurunan tipis sekitar 1,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Penurunan ini mengindikasikan adanya perlambatan distribusi unit dari pabrik ke jaringan diler pada awal tahun, yang umumnya dipengaruhi faktor musiman serta penyesuaian stok awal tahun.
BACA JUGA: Leapmotor Resmi Hadir di Indonesia, Perkuat Peta Persaingan Mobil Listrik Berbasis Teknologi
Dari sisi retail sales atau distribusi dari diler ke konsumen, Isuzu mencatatkan angka 2.085 unit pada Januari 2026.
Angka tersebut turun cukup signifikan dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 2.968 unit. Secara month-to-month (mtm), penurunannya mencapai lebih dari 29 persen.
Namun secara tahunan, performa retail justru menunjukkan pertumbuhan positif. Dibandingkan Januari 2025 yang hanya 1.639 unit, terjadi kenaikan sekitar 27 persen (yoy).
Artinya, meskipun terjadi koreksi secara bulanan, permintaan kendaraan komersial Isuzu masih lebih kuat dibandingkan awal tahun sebelumnya.
BACA JUGA: Hasil Uji Tabrak Global NCAP: Chery Tiggo 7 Pro Raih Dua Bintang, Dinilai Mengecewakan
Segmen kendaraan komersial biasanya mulai menunjukkan peningkatan permintaan menjelang periode Ramadan dan Lebaran, ketika aktivitas distribusi barang meningkat.
Jika kondisi ekonomi dan proyek infrastruktur nasional berjalan sesuai rencana, penjualan Isuzu berpotensi kembali stabil pada kuartal kedua 2026.
Data Gaikindo ini menjadi indikator penting untuk membaca arah industri otomotif nasional, khususnya di segmen kendaraan niaga yang berperan besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
(om/ls)








