
OTO Mounture — Hujan mengubah lebih dari sekadar kondisi jalan. Dalam hitungan detik, air yang menempel di kaca depan dapat mengubah seberapa jelas seorang pengemudi membaca kendaraan di depannya, marka jalan, pengguna jalan lain, maupun perubahan situasi di sekitarnya.
Isu inilah yang diangkat Bosch dalam diskusi bertajuk keselamatan berkendara yang digelar di Jakarta, Kamis, 3 September 2026, bertepatan dengan peringatan 100 tahun teknologi wiper Bosch.
Di titik inilah keselamatan berkendara bermula dari sesuatu yang sangat mendasar: kemampuan untuk melihat. Sebelum pengemudi dapat menilai risiko dan menentukan respons, ia terlebih dahulu harus mampu menangkap situasi yang ada di hadapannya, sebuah kebutuhan dasar yang justru paling mudah terganggu ketika hujan turun.
Secara global, keselamatan jalan masih menjadi tantangan besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam laporan Global Status Report on Road Safety 2023, mencatat sekitar 1,19 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas, dengan jutaan lainnya mengalami cedera. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keselamatan di jalan tidak dapat dilihat hanya dari satu faktor, melainkan membutuhkan kesiapan yang saling terhubung antara pengemudi, kendaraan, jalan, dan lingkungan perjalanan.
Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, yang menjadi salah satu narasumber dalam diskusi tersebut, menjelaskan bahwa sebagian besar keputusan pengemudi bergantung pada informasi visual.
“Pengemudi mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Karena itu, visibilitas yang baik menjadi bagian penting dalam membantu pengemudi membaca situasi dan mengambil keputusan lebih awal,” ujar Yannes.
Menurut pandangannya, hujan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lebih dari 31 persen, sementara kaca yang kotor dapat menurunkan efektivitas kontrol visual pengemudi. Mekanismenya cukup sederhana untuk dipahami yakni ketika air, kabut, atau sisa sapuan menurunkan kontras pandangan, objek di jalan terdeteksi lebih lambat oleh mata pengemudi.
Akibatnya, waktu dan jarak yang tersedia untuk mengenali risiko dan mengambil keputusan pun menjadi lebih sempit, dalam kondisi jalan basah yang jarak pengeremannya sudah lebih panjang dari biasanya.

BACA JUGA: 500 Ribu Mobil Listrik Diuji, Begini Kondisi Baterai EV Bekas Setelah 150.000 Km
Sementara Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, Aan Suhanan, yang pandangannya disampaikan dalam forum tersebut melalui Kasubdit Uji Kendaraan Bermotor Kemenhub RI, Heri Prabowo, menekankan bahwa budaya keselamatan tidak berhenti ketika kendaraan dinyatakan lulus uji tipe atau laik jalan. Keselamatan harus dijaga sepanjang siklus hidup kendaraan, mulai dari desain, produksi, registrasi, hingga masa operasional.
“Kegiatan seperti Bosch Safety Driving Campaign ini merupakan salah satu contoh konkret bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan industri dapat memperkuat edukasi keselamatan kepada masyarakat luas,” jelas Heri, mengutip pandangan Aan Suhanan yang menyebut bahwa keselamatan jalan bertumpu pada tiga hal: kendaraan yang laik, pengemudi yang kompeten, serta infrastruktur dan ekosistem yang mendukung.
Pandangan ini sejalan dengan posisi Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, yang menyebut teknologi baru benar-benar bermanfaat ketika dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata pengguna jalan.
“Dalam mobilitas, hal tersebut berarti menghadirkan teknologi yang membantu membuat perjalanan menjadi lebih aman, sekaligus dapat diandalkan dalam berbagai kondisi,” ujar Pirmin, yang juga menyoroti bahwa kebutuhan pengemudi terhadap keandalan tidak banyak berubah sepanjang 100 tahun perjalanan teknologi wiper, meski kendaraan dan teknologi di sekitarnya terus berkembang.
Dari sisi teknis, penurunan performa wiper sering kali terjadi secara bertahap dan tidak selalu langsung disadari pengemudi. Sapuan yang meninggalkan garis air, suara berdecit, gerakan yang tidak mulus, atau bagian kaca yang tidak lagi tersapu secara merata merupakan tanda-tanda awal bahwa wiper mulai kehilangan kemampuannya menjaga pandangan tetap jernih.
Country Sales Director Bosch Mobility Aftermarket, Griselda Iwandi, mengingatkan bahwa kondisi wiper sebaiknya diperiksa secara berkala, sama seperti komponen kendaraan lainnya.
“Idealnya, wiper diganti setiap enam bulan, tetapi kondisi penggunaan juga perlu diperhatikan. Pengemudi tidak perlu menunggu sampai wiper berhenti berfungsi. Ketika hasil sapuannya mulai menurun, itu sudah menjadi tanda untuk melakukan pemeriksaan dan penggantian,” ujarnya.
Griselda, menambahkan bahwa memastikan wiper bekerja optimal tidak hanya soal kondisi karetnya. Kesesuaian produk dengan kendaraan, pemasangan yang tepat, serta keaslian produk turut menentukan kinerja wiper saat benar-benar dibutuhkan di tengah hujan deras.
Dari sisi distribusi, President Director PT Berkat Otopart Indonesia, Yoke Pribadi, menilai edukasi konsumen perlu mencakup kesesuaian produk, keaslian, serta kanal pembelian yang tepercaya. Menurutnya, keputusan konsumen dalam memilih komponen kendaraan turut menentukan seberapa siap kendaraan tersebut menghadapi kondisi jalan yang berubah-ubah, termasuk saat musim hujan tiba.

BACA JUGA: Di Balik Layar MotoGP Mandalika: Teknisi, Tools, dan Teknologi yang Menjaga Keselamatan
Pada akhirnya, menjaga visibilitas bukan hanya persoalan mengganti satu komponen kendaraan. Ini adalah kebiasaan kecil yang menjadi bagian dari kesiapan yang lebih besar sebelum seseorang memasuki jalan, memeriksa kondisi kaca, memastikan wiper masih bekerja optimal, dan tidak menunggu hujan pertama musim ini untuk menyadari bahwa pandangan sudah tidak lagi sejernih yang dibutuhkan.
Bosch turut menerjemahkan kepedulian ini melalui inisiatif Care for Sight, yang membawa perhatian pada visibilitas dari sisi produk ke kontribusi yang lebih nyata bagi masyarakat.
Dalam momentum 100 tahun teknologi wiper Bosch, Bosch bersama Yayasan Tunas Bakti Nusantara (YTBN) menghadirkan kontribusi berupa wiper untuk kendaraan ambulans, kendaraan yang kesiapannya menjadi krusial dalam situasi darurat, termasuk saat cuaca ekstrem.
“Kontribusi tersebut tidak dimaksudkan sebagai solusi tunggal terhadap seluruh kebutuhan kendaraan darurat, melainkan sebagai bagian dari komitmen Bosch untuk terus mendorong kesadaran bahwa kesiapan kendaraan merupakan bagian dari ekosistem keselamatan yang lebih luas,” jelas Griselda.
Musim hujan akan terus datang setiap tahun, tapi kesiapan menghadapinya semestinya tidak menunggu air pertama jatuh ke kaca. Bagi jutaan pengemudi di jalan, hal sekecil memastikan wiper masih bekerja dengan baik bisa jadi selisih antara mengenali bahaya lebih awal, atau menyadarinya terlambat.
(om/ls)








