Hyundai Makin Tertekan di Indonesia, Penjualan Turun Saat Merek Tiongkok Melaju

OTO Mounture — Penjualan Hyundai di Indonesia menghadapi tekanan sepanjang Januari–Juli 2026. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), baik penjualan wholesales maupun retail Hyundai mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kondisi tersebut semakin menjadi sorotan karena terjadi ketika pasar otomotif nasional justru tumbuh 18,3% secara year-to-date (YTD).

Artinya, pelemahan Hyundai bukan semata-mata akibat pasar mobil Indonesia yang sedang lesu, tetapi juga menunjukkan adanya tantangan dalam mempertahankan pangsa pasar.

Sepanjang Januari–Juli 2026, Hyundai mencatat penjualan wholesales sebanyak 10.710 unit, turun 13,8% dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai 12.427 unit. Dengan demikian, Hyundai kehilangan sekitar 1.717 unit penjualan wholesales secara tahunan.

Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan pasar mobil nasional. Pada periode yang sama, total wholesales kendaraan bermotor roda empat di Indonesia mencapai 517.742 unit, tumbuh 18,3% dibandingkan Januari–Juli 2025.

Dampaknya, pangsa pasar Hyundai ikut menyusut. Jika pada Januari–Juli 2025 Hyundai menguasai sekitar 2,8% pasar wholesales nasional, angka tersebut turun menjadi sekitar 2,1% pada 2026.

Berikut penjualan wholesales Hyundai sepanjang Januari–Juli 2026:

– Januari: 1.425 unit
– Februari: 1.741 unit
– Maret: 1.608 unit
– April: 1.534 unit
– Mei: 1.508 unit
– Juni: 1.225 unit
– Juli: 1.669 unit

BACA JUGA: Chery Tertekan di Pasar Indonesia, Penjualan Turun 40% Saat BYD dan Geely Melaju

Tekanan Hyundai terlihat lebih jelas dari sisi retail sales, yang mencerminkan penjualan kendaraan dari dealer kepada konsumen.

Sepanjang Januari–Juli 2026, retail sales Hyundai tercatat 10.448 unit, turun 19,5% dibandingkan 12.985 unit pada periode yang sama tahun lalu. Pangsa pasar retail Hyundai juga turun dari sekitar 2,8% menjadi 2,0%.

Menariknya, penurunan retail sales sebesar 19,5% lebih dalam dibandingkan penurunan wholesales yang berada di level 13,8%. Perbedaan tersebut dapat menjadi sinyal adanya tekanan pada penyerapan kendaraan di tingkat dealer.

Namun, perlu dicatat bahwa data Gaikindo tidak secara langsung menunjukkan tingkat persediaan atau inventory dealer, sehingga potensi penumpukan stok tidak dapat disimpulkan sebagai fakta hanya berdasarkan perbedaan angka wholesales dan retail.

Di tengah tren negatif secara YTD, kinerja Hyundai pada Juli 2026 justru menunjukkan perbaikan. Wholesales Hyundai pada Juli 2026 mencapai 1.669 unit, naik 34,7% dibandingkan Juli 2025 yang tercatat 1.239 unit. Secara month-to-month, angka tersebut juga melonjak 36,2% dibandingkan Juni 2026 yang berada di level 1.225 unit.

Sementara itu, retail sales Juli 2026 mencapai 1.451 unit, naik 3,5% dibandingkan Juli 2025 yang mencatat 1.402 unit.

Meski demikian, kenaikan pada Juli belum cukup untuk disebut sebagai tanda pemulihan berkelanjutan. Diperlukan data beberapa bulan berikutnya untuk melihat apakah momentum tersebut mampu dipertahankan.

BACA JUGA: Suzuki XL7 Terbaru Resmi Dikirim ke Konsumen, SPK Tembus 1.300 Unit

Tekanan yang dialami Hyundai juga terlihat dari sisi produksi. Sepanjang Januari–Juli 2026, produksi Hyundai tercatat 32.522 unit, turun 25,1% dibandingkan 43.441 unit pada periode yang sama 2025.

Pangsa produksi Hyundai juga menyusut dari sekitar 6,6% menjadi 4,5%. Penurunan produksi yang lebih dalam dibandingkan penjualan domestik menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur Hyundai juga menghadapi tekanan sepanjang tahun berjalan.

Kinerja ekspor Hyundai juga belum menunjukkan performa positif. Total ekspor Hyundai pada Januari–Juli 2026 tercatat 25.256 unit, turun 20,5% dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai 31.781 unit.

Pangsa ekspor Hyundai pun turun dari sekitar 11,2% menjadi 8,6%. Khusus Juli 2026, ekspor Hyundai bahkan mengalami penurunan sekitar 46,5% dibandingkan Juli 2025.

Dengan penjualan domestik, produksi, dan ekspor yang sama-sama melemah, tekanan terhadap Hyundai terlihat tidak hanya berasal dari satu sisi bisnis.

Pelemahan Hyundai juga terjadi ketika sejumlah merek asal Negeri Tirai Bambu mencatat pertumbuhan signifikan di pasar otomotif Indonesia.

Berdasarkan data Gaikindo yang digunakan dalam analisis ini, BYD mencatat pertumbuhan wholesales YTD sebesar 81,6% menjadi 29.826 unit. Sementara Geely melonjak 861,1% menjadi 10.389 unit.

Adapun Jaecoo, yang relatif baru memasuki pasar Indonesia, telah membukukan wholesales sebanyak 20.534 unit sepanjang Januari–Juli 2026.

Di sisi lain, Kia juga mencatat pertumbuhan wholesales yang sangat tinggi, yakni 584,3%, meski volumenya masih berada pada basis yang lebih kecil dengan 479 unit.

Pergerakan tersebut menunjukkan semakin ketatnya persaingan di pasar otomotif Indonesia, khususnya dengan masuknya berbagai merek Tiongkok yang agresif menawarkan produk baru dan teknologi elektrifikasi.

Gaikindo sendiri tidak merinci penyebab langsung penurunan Hyundai maupun pergeseran pangsa pasar tersebut. Faktor seperti produk, harga, jaringan distribusi, strategi pemasaran, hingga perubahan preferensi konsumen perlu dianalisis lebih lanjut.

Secara keseluruhan, performa Hyundai di Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 masih berada dalam tekanan.

Penurunan terjadi pada wholesales, retail sales, produksi, dan ekspor, sementara pangsa pasar domestik juga mengalami penyusutan. Kondisi tersebut menjadi semakin menantang karena pasar otomotif nasional justru tumbuh cukup kuat.

Meski begitu, kenaikan wholesales dan retail sales pada Juli memberikan sedikit sinyal positif. Jika tren tersebut dapat dipertahankan dalam beberapa bulan mendatang, Hyundai masih memiliki peluang untuk memperbaiki kinerja hingga akhir 2026.

Sebaliknya, jika kenaikan Juli hanya bersifat sementara, tekanan terhadap posisi Hyundai di pasar otomotif Indonesia berpotensi berlanjut, terutama ketika persaingan dari merek Tiongkok semakin agresif.

(om/ls)

 

 

, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *