
OTO Mounture — Penjualan mobil listrik Polytron di Indonesia masih belum menunjukkan performa yang signifikan. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), merek asal Kudus, Jawa Tengah, tersebut baru membukukan 412 unit penjualan wholesales sepanjang semester pertama 2026.
Jumlah tersebut membuat Polytron masih menjadi pemain kecil di pasar kendaraan listrik nasional. Bahkan, market share wholesales Polytron selama Januari hingga Juni 2026 baru mencapai 0,1 persen.
Wholesales atau distribusi kendaraan dari pabrik ke diler milik Polytron bergerak fluktuatif sepanjang enam bulan pertama tahun ini.
Pada Januari 2026, Polytron mencatat penjualan sebanyak 79 unit, kemudian turun menjadi 57 unit pada Februari. Penjualan kembali melemah pada Maret menjadi hanya 26 unit, sebelum naik menjadi 76 unit pada April.
Kinerja terbaik terjadi pada Mei 2026 dengan penjualan 105 unit, yang menjadi pencapaian wholesales tertinggi sepanjang tahun ini. Namun, tren tersebut tidak bertahan lama karena pada Juni 2026 penjualan kembali turun menjadi 69 unit.
Dengan total 412 unit selama Januari-Juni 2026, kontribusi Polytron terhadap pasar otomotif nasional masih sangat kecil dibandingkan para pemain lain di segmen kendaraan listrik.
BACA JUGA: GIIAS 2026 Pecahkan Rekor! Hadirkan Lebih dari 65 Merek Otomotif
Sementara di sisi retail sales atau penjualan dari diler kepada konsumen, performa Polytron juga masih terbatas.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Polytron membukukan penjualan ritel sebanyak 376 unit. Penjualan tertinggi terjadi pada Februari 2026 yang mencapai 97 unit.
Sementara itu, penjualan pada bulan lainnya terdiri dari 12 unit pada Januari, 43 unit pada Maret, 47 unit pada April, 94 unit pada Mei, dan 83 unit pada Juni.
Sama seperti wholesales, market share retail sales Polytron juga masih berada di angka 0,1 persen.
Meski mengusung status sebagai merek elektronik lokal yang kini merambah industri kendaraan listrik roda empat, perjalanan Polytron di pasar otomotif Indonesia masih menghadapi tantangan besar.
Persaingan di segmen mobil listrik semakin ketat dengan kehadiran berbagai produsen global yang menawarkan beragam pilihan model dan rentang harga.
Kondisi tersebut membuat pemain baru seperti Polytron harus bekerja lebih keras untuk meningkatkan daya saing, baik melalui inovasi produk, penguatan jaringan diler, maupun layanan purna jual.
Meski penjualannya masih berada di bawah 500 unit selama semester pertama 2026, perkembangan Polytron tetap menarik untuk dicermati.
Strategi perusahaan pada paruh kedua tahun ini akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah merek lokal tersebut mampu meningkatkan penjualannya dan memperluas pangsa pasar di industri kendaraan listrik Indonesia.
(om/ls)








