
OTO Mounture — Industri otomotif Indonesia dalam beberapa tahun terakhir diramaikan oleh kehadiran berbagai merek mobil asal Tiongkok. Mulai dari kendaraan listrik (EV), hybrid, hingga SUV modern dengan fitur melimpah kini semakin agresif masuk pasar nasional.
Di atas kertas, mobil Tiongkok menawarkan kombinasi yang sulit diabaikan, yakni teknologi canggih, fitur premium, desain modern, dan harga kompetitif.
Bahkan banyak model hadir dengan spesifikasi yang biasanya hanya ditemukan pada mobil Eropa atau Jepang dengan harga jauh lebih mahal.
Namun di balik agresivitas tersebut, masih banyak konsumen Indonesia yang mempertanyakan satu hal penting yakni bagaimana layanan purnajual dan ketersediaan sparepart dalam jangka panjang?
Pertanyaan ini bukan sekadar stigma. Reputasi purna jual mobil Tiongkok di Indonesia terbentuk dari pengalaman pasar selama bertahun-tahun.
Trauma Lama Industri Otomotif Indonesia
Sebelum era BYD, Wuling, atau Chery modern seperti sekarang, beberapa merek otomotif Tiongkok sebenarnya sudah lebih dulu mencoba masuk Indonesia.
Chery pertama kali hadir pada 2006 melalui Indomobil Group. Meski sempat menarik perhatian, penjualannya terus menurun hingga akhirnya menghilang dari pasar nasional sekitar 2013.
Hal serupa juga dialami Geely. Merek ini sempat mencatat penjualan lebih dari seribu unit pada awal kemunculannya di Indonesia, namun akhirnya menghentikan operasional beberapa tahun kemudian.
Akibatnya, banyak pemilik kendaraan kesulitan mendapatkan layanan servis resmi maupun suku cadang.
Trauma tersebut masih membekas hingga sekarang. Ketika merek baru asal Tiongkok masuk Indonesia, sebagian konsumen masih khawatir apakah merek tersebut benar-benar memiliki komitmen jangka panjang atau hanya datang sesaat mengikuti tren kendaraan listrik.
BACA JUGA: Mitsubishi Pajero Sport Tetap Jadi Andalan SUV Diesel untuk Perjalanan Jarak Jauh
Jaringan Bengkel Masih Belum Merata
Salah satu tantangan terbesar merek otomotif Tiongkok di Indonesia adalah jaringan dealer dan bengkel resmi yang belum merata.
Indonesia bukan hanya Jakarta atau Surabaya. Konsumen di kota-kota menengah hingga wilayah luar Jawa juga membutuhkan akses layanan servis yang mudah dan cepat.
Namun hingga kini, banyak merek mobil Tiongkok masih memiliki jaringan aftersales yang terbatas dibanding merek Jepang seperti Toyota atau Mitsubishi yang telah membangun ekosistem layanan selama puluhan tahun.
Akibatnya, pemilik kendaraan di beberapa daerah harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk melakukan servis berkala atau perbaikan.
Masalah semakin terasa ketika suku cadang harus dipesan dari pusat distribusi sehingga waktu perbaikan menjadi lebih lama.
Teknologi EV Berkembang, SDM Masih Tertinggal
Mayoritas merek otomotif Tiongkok saat ini datang dengan fokus pada kendaraan listrik dan hybrid. Teknologi tersebut memang modern, tetapi juga membutuhkan kemampuan teknis yang jauh lebih kompleks dibanding mobil konvensional.
Menariknya, masalah ini bahkan terjadi di negara asalnya sendiri.
Berdasarkan data Asosiasi Produsen Mobil Tiongkok (CAAM), sekitar 65 persen kerusakan kendaraan listrik berkaitan dengan sistem kontrol elektronik dan kelistrikan. Namun hanya sebagian kecil teknisi bengkel yang benar-benar memiliki kemampuan menangani sistem tersebut.
Di Indonesia, tantangannya lebih besar lagi.
Jumlah teknisi EV bersertifikat masih sangat terbatas, terutama di luar kota besar. Infrastruktur pelatihan kendaraan listrik juga belum berkembang merata.
Artinya, ketika kendaraan listrik mengalami masalah pada baterai, software, atau sistem elektronik, belum semua bengkel mampu melakukan diagnosis dan perbaikan dengan baik.
BACA JUGA: Standar Keselamatan Mobil Tiongkok 2027 Makin Ketat, Rating Bintang Terancam Turun
Nilai Jual Kembali Jadi Kekhawatiran
Selain layanan servis, faktor lain yang sering menjadi pertimbangan konsumen Indonesia adalah harga jual kembali.
Mobil di Indonesia masih dipandang sebagai aset. Karena itu, depresiasi harga menjadi perhatian utama saat membeli kendaraan.
Mobil Tiongkok kerap menghadapi masalah nilai jual kembali yang cepat turun. Salah satu penyebabnya adalah strategi perang harga antarprodusen yang sangat agresif.
Ketika model baru dijual lebih murah dengan fitur lebih lengkap, harga mobil bekas otomatis ikut jatuh. Kondisi ini membuat sebagian konsumen ragu membeli karena khawatir nilai kendaraan akan anjlok dalam waktu singkat.
Konsumen Kini Lebih Kritis
Perkembangan industri EV membuat konsumen tidak lagi hanya bertanya soal desain atau performa kendaraan.
Kini, pertanyaan mulai bergeser ke hal-hal yang lebih teknis seperti kesehatan baterai, garansi jangka panjang, software update, jaringan charging station, hingga kesiapan layanan purnajual.
Di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat, kualitas aftersales menjadi faktor yang sangat menentukan.
CEO Sino Auto Insights, Tu Le dikutip dari CNA.id, bahkan menyebut layanan pelanggan kini menjadi salah satu kunci utama keberhasilan merek EV.
“Konsumen kini jauh lebih berkuasa. Kalau Anda tidak benar-benar berfokus pada pelanggan, Anda akan kehilangan penjualan,” ujarnya.
Tidak Semua Merek Tiongkok Sama
Kendati demikian, tidak semua merek otomotif Tiongkok memiliki pendekatan yang sama.
Beberapa produsen seperti Wuling, BYD, hingga Chery generasi terbaru mulai menunjukkan keseriusan melalui pembangunan pabrik lokal, perluasan dealer, serta investasi layanan purnajual di Indonesia.
Langkah tersebut menjadi penting untuk membangun kembali kepercayaan pasar yang sempat rusak akibat pengalaman masa lalu.
Pada akhirnya, tantangan terbesar merek mobil Tiongkok di Indonesia bukan hanya soal menjual kendaraan, tetapi membuktikan komitmen jangka panjang terhadap konsumennya.
(om/ls/ril)








