Kiat Atasi Faktor Risiko Kecelakaan di Jalan Tol ala Hankook Tire

Ilustrasi berkendara di jalan tol – Foto: OTO Mounture/Luchito Sangsoko

OTO Mounture — Belakangan ini, pemerintah terus gencar melakukan pembangunan jalan tol. Mengutip dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), per tahun 2022, pemerintah telah membuka 10 ruas jalan tol baru dengan total jarak sepanjang 142 kilometer.

Meskipun infrastruktur telah dibangun dengan mumpuni, namun kecelakaan di ruas jalan tol masih kerap terjadi akibat berbagai faktor eksternal.

National Sales Manager PT Hankook Tire Sales Indonesia, Apriyanto Yuwono, mengatakan keberhasilan jalan tol sebagai jalan bebas hambatan selaras dengan rendahnya tingkat kecelakaan lalu lintas.

Menurutnya, kontrol dan pengawasan dari pemerintah sudah sangat baik, mulai dari pengadaan rest area pada jarak tempuh yang ideal, aturan tilang elektronik, dan anjuran pembatasan kecepatan bagi pengemudi.

“Sekarang, pengendara yang perlu semakin proaktif dalam memperhatikan faktor eksternal yang meningkatkan keselamatan, seperti kondisi kendaraan termasuk ban sebagai komponen penunjang,” katanya melalui keterangan resmi, belum lama ini.

Terkait hal itu, Hankook Tire pun membagikan beberapa faktor risiko kecelakaan di jalan tol, serta kiat untuk mengatasinya saat berkendara antara lain:

BACA JUGA:

Penjualan Chery Turun 13 Persen pada September 2023

Tekan Angka Kecelakaan, Suzuki Himbau Konsumennya untuk Lakukan Persiapan Sebelum Berkendara

1. Cuaca ekstrim

Cuaca buruk seperti hujan deras dapat membuat jalan tol yang mulus terasa semakin licin dan penuh genangan. Hal ini dapat mempengaruhi stabilitas kendaraan, visibilitas pengemudi, dan daya cengkram mobil.

Kondisi tersebut dapat memicu hilangnya traksi ban pada permukaan jalan saat melintasi genangan, yang sering disebut aquaplaning. Pilih ban yang memiliki kemampuan pengereman yang baik di kondisi jalanan basah antara lain yang memiliki pola tapak dengan jalur lurus sehingga air dapat terpecah.

Selain itu periksa rem kendaraan sebelum berkendara untuk menghasilkan pengereman yang baik.

2. Kebiasaan menyetir

Menurut data Kementerian Perhubungan, 61% penyebab kecelakaan adalah faktor manusia. Jalan tol yang memiliki karakteristik medan yang relatif lurus, serta minim tikungan, kemiringan, dan elevasi, membuat pengendara kerap mengemudi dengan kecepatan tinggi di atas 80 kilometer per jam.

Untuk itu, jaga rata-rata kecepatan berkendara di 60-80 kilometer per jam dan jaga jarak antar kendaraan dengan memperhitungkan blind spot area yang kerap tidak terlihat di kaca spion. Selain itu multitasking saat menyetir, seperti menggunakan ponsel, merupakan kebiasaan yang harus dihindari agar fokus tidak terpecah.

3. Pecah ban

Pecah ban saat berkendara terjadi ketika ban tidak mampu mencengkram aspal. Umumnya ban kehilangan kemampuan tersebut saat kondisi ban sudah tidak prima, seperti tapaknya gundul, dan kurang angin. Jaga kadar tekanan angin pada ban di angka 32 hingga 35 psi (per square inch).

Lakukan pengisian angin pada saat ban dalam kondisi dingin, sebab saat ban masih panas tekanan udara akan meningkat sehingga ban dapat memuai dan mengempis. Periksa ban dengan cermat untuk mengetahui apakah ada tanda kerusakan seperti ban sobek, muncul benjolan, atau keausan yang berlebih. (OM/RIL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *