
OTO Mounture — Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Djony Bunarto Tjondro, menyampaikan bahwa laba Grup pada 2025 mengalami penurunan terutama akibat harga batu bara yang lebih rendah serta melemahnya pasar mobil baru nasional.
“Pada tahun 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung kontribusi yang baik dari bisnis lainnya,” katanya melalui laporan keuangan Grup Astra.
Secara konsolidasian, pendapatan bersih Astra pada 2025 tercatat Rp323,4 triliun atau turun 2 persen dibandingkan 2024. Laba bersih Grup mencapai Rp32,8 triliun, turun 3 persen secara tahunan.
Meski demikian, divisi Otomotif & Mobilitas Astra menunjukkan kinerja yang relatif stabil dengan laba bersih Rp11,4 triliun, ditopang performa sepeda motor dan bisnis komponen.
BACA JUGA: Konsumen Pertanyakan Pembayaran Price Lock Jaecoo J5 EV, Ada yang Bayar Tapi Ada yang Tidak
Sepanjang 2025, penjualan mobil nasional turun 7 persen menjadi 804.000 unit. Penurunan ini mencerminkan pelemahan daya beli, khususnya di segmen entry-level. Namun di tengah persaingan yang semakin ketat, pangsa pasar mobil Astra tetap kuat di level 51 persen.
Di sisi lain, penjualan sepeda motor nasional justru meningkat 1 persen menjadi 6,4 juta unit. PT Astra Honda Motor mempertahankan dominasi dengan pangsa pasar stabil di angka 78 persen.
Kinerja positif juga ditunjukkan lini bisnis komponen otomotif melalui PT Astra Otoparts Tbk yang membukukan kenaikan laba bersih 18 persen menjadi Rp1,8 triliun pada 2025.
Sementara itu, bisnis mobil bekas OLXmobbi yang dikelola melalui PT Astra Digital Mobil mencatat penjualan meningkat 21 persen menjadi 33.100 unit.
Pada 2025, Toyota Motor Asia mengakuisisi 40 persen saham Astra Digital Mobil untuk memperkuat kolaborasi pengembangan ekosistem mobil bekas modern di Indonesia.
BACA JUGA: Pangsa Pasar Naik Jadi 8,5 Persen, Mitsubishi Bidik Pertumbuhan Lebih Agresif di 2026
Divisi Jasa Keuangan Astra juga mencatat pertumbuhan laba bersih 9 persen menjadi Rp9,0 triliun, didorong peningkatan pembiayaan konsumen.
Nilai pembiayaan baru meningkat 5 persen menjadi Rp112,3 triliun. Perusahaan pembiayaan mobil mencatat laba bersih Rp2,5 triliun, sedangkan pembiayaan sepeda motor melalui PT Federal International Finance naik 5 persen menjadi Rp4,7 triliun.
Kinerja positif pembiayaan ini menjadi penopang penting bisnis otomotif Astra di tengah penurunan volume mobil baru.
Astra akan mengusulkan dividen final Rp292 per saham pada RUPS April 2026. Dengan dividen interim Rp98 per saham yang telah dibagikan sebelumnya, total dividen 2025 menjadi Rp390 per saham dengan rasio pembayaran 48 persen.
Pada Januari 2026, Astra menyelesaikan program buyback saham senilai Rp2 triliun, disusul tahap kedua Rp685 miliar yang rampung pada 25 Februari 2026. Langkah ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Manajemen Astra tengah melakukan tinjauan strategis komprehensif atas portofolio bisnis yang ditargetkan selesai pada akhir semester I 2026.
Ke depan, Astra memproyeksikan sentimen konsumen akan membaik meski sejumlah sektor masih menghadapi tantangan. Perusahaan menegaskan akan tetap fokus pada keunggulan operasional, disiplin alokasi modal, serta memanfaatkan neraca yang kuat untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemegang saham.
Di tengah tekanan pasar otomotif nasional, dominasi pangsa pasar mobil dan sepeda motor serta pertumbuhan pembiayaan menjadi kunci ketahanan bisnis Astra pada 2025.
(om/ril)








