Iran Ancam Serang Tesla hingga Apple, Puluhan Perusahaan Teknologi AS Masuk Daftar Target

Foto: Tesla

OTO Mounture — Ketegangan konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengancam akan menargetkan sejumlah perusahaan teknologi besar asal Amerika Serikat (AS), termasuk Tesla.

Ancaman itu menyebut lebih dari selusin perusahaan teknologi Amerika dianggap membantu operasi militer AS melalui teknologi kecerdasan buatan (AI), komunikasi, dan sistem intelijen.

Salah satu perusahaan yang disebut dalam daftar target adalah Tesla, bersama sejumlah raksasa teknologi global lainnya.

IRGC bahkan menyatakan bahwa setiap kematian pemimpin militernya dalam konflik akan dibalas dengan penghancuran satu perusahaan Amerika.

BACA JUGA: Industri EV Makin Ketat, BYD Pangkas 10 Persen Karyawan dan Genjot Teknologi Baterai

Selain Tesla, IRGC juga menyebut berbagai perusahaan teknologi dan industri besar Amerika sebagai “target yang sah” dalam konflik tersebut.

Beberapa perusahaan yang masuk daftar antara lain Cisco, HP Inc., Intel, Oracle, Microsoft, Apple, Google, Meta Platforms, Dell Technologies, IBM, Nvidia, Palantir Technologies, General Electric, JPMorgan Chase, Boeing serta Spire Solutions.

Menurut IRGC, perusahaan-perusahaan tersebut dianggap berkontribusi dalam penyediaan teknologi yang digunakan dalam operasi militer dan intelijen Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya, IRGC juga menyerukan agar karyawan perusahaan-perusahaan tersebut yang bekerja di kawasan Timur Tengah segera meninggalkan fasilitas kerja mereka.

Selain itu, warga sipil yang berada dalam radius satu kilometer dari fasilitas perusahaan tersebut juga diminta untuk menjauh demi keselamatan. Pernyataan ini meningkatkan kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.

BACA JUGA: Mulai Rp9.000 per Hari, Ini Biaya Operasional Harian JAECOO

Meski berbasis di Amerika Serikat, Tesla telah memperluas operasinya di berbagai negara Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.

Perusahaan yang dipimpin oleh Elon Musk itu diketahui memiliki fasilitas operasional di beberapa kota di United Arab Emirates, seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Sharjah.

Selain itu, Tesla juga mengoperasikan jaringan Supercharger di wilayah tersebut serta memiliki kehadiran pasar di negara lain seperti Saudi Arabia dan Qatar.

Lokasi-lokasi tersebut berada relatif dekat dengan Iran, sehingga berpotensi berada dalam jangkauan serangan jika ancaman tersebut benar-benar direalisasikan.

Para analis menilai bahwa jika Iran benar-benar menindaklanjuti ancaman terhadap perusahaan-perusahaan teknologi Amerika tersebut, maka dampaknya bisa sangat luas.

Selain membahayakan keselamatan warga sipil dan pekerja, serangan terhadap perusahaan global juga berpotensi memicu eskalasi konflik militer yang lebih besar antara Iran dan Amerika Serikat.

Situasi ini juga dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi global, mengingat banyak perusahaan yang disebut merupakan pemain utama di sektor teknologi, industri, dan keuangan dunia.

(om/ril)

 

 

, , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *