
OTO Mounture — PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) berhasil mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025. Di tengah tantangan maraknya peredaran suku cadang imitasi dan palsu, penjualan suku cadang kendaraan niaga Hino justru mengalami pertumbuhan.
After Market Marketing Division Head PT HMSI, Suyadi, mengungkapkan bahwa total nilai penjualan suku cadang Hino sepanjang 2025 mencapai lebih dari Rp2,1 triliun.
Menurutnya, total nilai penjualan ini meningkat sekitar 2,4 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Ini meliputi penjualan Hino Genuine Parts (HGP) yang merupakan suku cadang asli Hino diproduksi di Jepang, maupun HMSI Original Parts (HOP). Standar kualitasnya sama dengan HGP, tetapi diproduksi Hino Indonesia sehingga harganya lebih ekonomis,” ujarnya.
BACA JUGA: Laba Astra 2025 Turun 3 Persen, Bisnis Otomotif Tetap Stabil di Tengah Lesunya Pasar Mobil
Suyadi menjelaskan, peminat HMSI Original Parts (HOP) tidak hanya berasal dari pemilik kendaraan lama yang telah beroperasi lebih dari 10 tahun. Justru, kendaraan dengan usia lima hingga sepuluh tahun juga banyak menggunakan suku cadang tersebut.
Sebagai kendaraan operasional bisnis, pemilik truk dan bus tentu mempertimbangkan efisiensi biaya operasional tanpa mengorbankan daya tahan komponen. HOP menjadi alternatif karena menawarkan kualitas setara HGP dengan harga yang lebih kompetitif.
“Sebagai kendaraan operasional bisnis, tentu pemilik berpikir menggunakan biaya yang lebih kecil namun tetap memiliki masa pakai yang lama,” jelasnya.
Meski penjualan tumbuh, HMSI menghadapi tantangan serius berupa maraknya suku cadang imitasi dan palsu di pasar.
Suyadi menjelaskan, suku cadang imitasi merupakan produk buatan pihak lain dengan merek berbeda, namun diklaim dapat digunakan untuk kendaraan Hino dengan harga lebih murah.
Sementara itu, suku cadang palsu diproduksi pihak tidak resmi tetapi menggunakan nama Hino dengan tampilan produk maupun kemasan yang sangat mirip dengan aslinya. Bahkan, harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dari produk asli, sehingga berpotensi mengecoh konsumen.
“Kalau tidak teliti, konsumen bisa tertipu. Padahal kualitasnya jauh lebih rendah,” tegasnya.
BACA JUGA: Penjualan Bus Turun, Hino Ungkap Dampak Kebijakan Pembatasan Tour dan Suku Bunga Tinggi
Menurut Suyadi, membedakan suku cadang asli dan palsu sebenarnya cukup mudah. Produk palsu umumnya tidak memiliki label logo resmi yang jelas, hologram tidak terbaca, serta kualitas fisik barang yang lebih rendah.
Komponen yang paling banyak dipalsukan adalah suku cadang fast moving, yaitu komponen dengan tingkat perputaran tinggi dan masa pakai relatif pendek. Permintaan pasar yang besar membuat produk ini menjadi sasaran utama pemalsuan.
Namun demikian, tidak menutup kemungkinan suku cadang slow moving juga dipalsukan, terutama karena harganya relatif tinggi.
“Barang imitasi maupun palsu ini memang marak di pasar,” pungkas Suyadi.
Dengan pertumbuhan penjualan yang tetap positif di tengah gempuran produk tidak resmi, HMSI menegaskan komitmennya untuk terus mengedukasi konsumen agar lebih cermat memilih suku cadang demi menjaga performa dan keamanan kendaraan niaga.
(om/ril)








