
OTO Mounture — Penjualan bus di Indonesia tercatat mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini diungkapkan oleh Susilo Darmawan, Sales & Aftersales Director PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), yang menyebut sejumlah faktor eksternal turut memengaruhi permintaan pasar.
Menurut Susilo, salah satu penyebab utama turunnya penjualan bus adalah adanya kebijakan pembatasan kegiatan tur ke beberapa wilayah dalam periode tertentu. Kebijakan tersebut berdampak langsung terhadap operator transportasi pariwisata.
“Beberapa waktu lalu ada kebijakan larangan diadakan tour ke suatu area yang menyebabkan demand turun. Maka return of investment tidak kembali, dan itu berpengaruh terhadap penjualan bus di Indonesia,” ujarnya pada acara Buka Puasa Bersama di Jakarta, Jumat, 27 Februari 2026.
BACA JUGA: Shingo Sakai Resmi Jadi Presiden Direktur Hino Indonesia
Pembatasan kegiatan wisata membuat operator bus pariwisata menunda pembelian unit baru. Ketika tingkat okupansi dan frekuensi perjalanan menurun, perhitungan pengembalian investasi (return of investment/ROI) menjadi lebih panjang.
Situasi ini membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi armada. Akibatnya, permintaan bus baru di pasar domestik ikut melemah.
Industri kendaraan niaga, khususnya segmen bus, memang sangat bergantung pada stabilitas sektor pariwisata dan mobilitas kelompok. Ketika aktivitas wisata terganggu, efeknya langsung terasa pada penjualan unit.
BACA JUGA: Perjalanan 130 Tahun Inovasi Mercedes-Benz Trucks di Retro Classics 2026
Selain faktor kebijakan, kenaikan suku bunga juga turut memberi tekanan pada pasar. Susilo menjelaskan bahwa meningkatnya tingkat suku bunga membuat perusahaan pembiayaan (leasing) menjadi lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.
“Adanya interest yang naik maka pihak pembiayaan lebih berhati-hati,” jelasnya.
Kondisi ini berdampak pada proses persetujuan kredit yang lebih selektif, terutama bagi pelaku usaha yang bergantung pada skema pembiayaan untuk pembelian armada baru. Padahal, sebagian besar pembelian bus di Indonesia masih mengandalkan fasilitas kredit dari lembaga pembiayaan.
(om/ls)








