
OTO Mounture — General Motors (GM) mengambil langkah besar terhadap bisnis Chevrolet di Tiongkok. Setelah hampir 21 tahun berjualan di pasar otomotif TIongkok, Chevrolet mengakhiri aktivitas penjualan ritel kendaraan barunya di negara tersebut.
Meski demikian, keputusan ini bukan berarti Chevrolet meninggalkan Tiongkok sepenuhnya. Produksi kendaraan Chevrolet di Tiongkok tetap akan berjalan melalui perusahaan patungan SAIC-GM, tetapi orientasinya akan bergeser dari pasar domestik menuju pasar ekspor.
GM mengonfirmasi perubahan strategi tersebut kepada National Business Daily pada 10 Agustus 2026.
Dalam strategi baru tersebut, SAIC-GM akan tetap memproduksi kendaraan Chevrolet di Tiongkok. Bedanya, kendaraan yang diproduksi akan semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional di luar Amerika Serikat.
GM menilai jajaran produk Chevrolet saat ini lebih sesuai untuk pasar ekspor dibandingkan pasar otomotif Tiongkok yang semakin kompetitif.
Presiden GM Tiongkok sekaligus Executive Vice President GM Global, John Roth, mengatakan perusahaan melihat peluang besar untuk membawa produk Chevrolet keluar dari China dan memasuki berbagai pasar global.
Kemampuan engineering dan manufaktur SAIC-GM juga akan dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan Chevrolet ke sejumlah kawasan. Beberapa pasar yang menjadi sasaran antara lain Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan, Meksiko, serta kawasan Asia-Pasifik.
Dengan strategi tersebut, Tiongkok tidak lagi menjadi pasar utama Chevrolet, melainkan salah satu basis produksi untuk memasok kendaraan ke berbagai negara.
BACA JUGA: iCAR V23 Makin Mendunia, Penjualan Tembus 100.000 Konsumen
Keputusan menghentikan penjualan Chevrolet di Tiongkok menjadi perubahan drastis jika dibandingkan dengan pencapaian merek tersebut pada masa lalu.
Chevrolet pernah menikmati masa kejayaan di pasar Tiongkok. Pada 2014, penjualan tahunan Chevrolet mencapai sekitar 767.000 unit. Salah satu model yang menjadi kontributor penting adalah Chevrolet Cruze.
Namun, performa Chevrolet terus merosot dalam beberapa tahun berikutnya. Pada 2025, penjualan tahunan Chevrolet di Negeri Tirai Bambu itu bahkan turun menjadi kurang dari 9.000 unit.
Penurunan tersebut semakin terasa sejak sekitar 2018, ketika industri otomotif Tiongkok mulai mengalami perubahan besar.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi performa Chevrolet adalah semakin ketatnya persaingan dari produsen otomotif lokal Tiongkok.
Industri otomotif Tiongkok mengalami transformasi besar seiring meningkatnya popularitas new energy vehicles (NEV), termasuk mobil listrik dan kendaraan elektrifikasi lainnya.
Produsen lokal Tiongkok bergerak agresif menghadirkan produk baru dengan teknologi, fitur, serta harga yang semakin kompetitif. Di tengah perubahan tersebut, Chevrolet mengalami kesulitan mempertahankan daya saingnya.
Alhasil, pangsa dan volume penjualannya terus menyusut hingga akhirnya GM memilih mengubah strategi secara fundamental.
BACA JUGA: Geely EX2 Jadi Primadona, Geely Group Bukukan 3.033 SPK di GIIAS 2026
Meski penjualan domestik dihentikan, aktivitas produksi Chevrolet di Tiongkok justru berpotensi memainkan peran lebih besar dalam strategi global GM.
Data China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan, Chevrolet telah mengekspor 6.930 kendaraan dari China sepanjang semester pertama 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 6,9 persen secara tahunan.
Pertumbuhan ekspor tersebut memberikan indikasi bahwa kendaraan Chevrolet produksi Tiongkok masih memiliki peluang di pasar internasional. Dengan berakhirnya penjualan domestik, produksi untuk ekspor kemungkinan akan menjadi salah satu fokus utama SAIC-GM.
Penghentian penjualan mobil baru Chevrolet di Tiongkok tidak berarti layanan terhadap konsumen yang sudah memiliki kendaraan akan dihentikan. GM memastikan pelanggan Chevrolet yang ada tetap mendapatkan layanan purnajual.
Jaringan dealer juga akan tetap beroperasi, sementara ketersediaan suku cadang serta layanan perawatan kendaraan tetap dipertahankan.
Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kepercayaan pelanggan sekaligus memastikan pemilik kendaraan Chevrolet tetap mendapatkan dukungan meskipun merek tersebut tidak lagi menjual kendaraan baru secara ritel di Tiongkok.
Menariknya, keputusan Chevrolet tersebut bukan indikasi bahwa GM akan meninggalkan pasar Tiongkok secara keseluruhan. GM justru baru memperpanjang kerja sama dengan SAIC untuk periode 20 tahun berikutnya, sehingga kemitraan kedua perusahaan akan berlangsung hingga 2047.
Perpanjangan kerja sama tersebut dilakukan setelah GM menjalankan restrukturisasi besar terhadap bisnisnya di Tiongkok.
Pada Januari 2026, GM mencatatkan write-down sekitar 6 miliar dolar AS sebagai bagian dari penyesuaian terhadap bisnis di Tiongkok, setelah menghadapi penurunan penjualan selama beberapa tahun.
Kini, SAIC dan GM berencana memperkuat kerja sama dengan menggabungkan sumber daya di sejumlah bidang. Fokusnya mencakup riset dan pengembangan (R&D), rantai pasok, serta pengembangan pasar internasional.
(om/mg)








