
OTO Mounture — Emosi merupakan respons alami seseorang terhadap situasi tertentu. Namun, ketika berada di balik kemudi, emosi yang tidak terkendali justru bisa meningkatkan risiko terjadinya insiden di jalan.
Terburu-buru, terjebak kemacetan, hingga menghadapi pengendara lain yang dianggap agresif menjadi sejumlah situasi yang kerap memancing emosi pengemudi.
Menurut pembalap nasional, driving instructor, sekaligus Brand Ambassador Mitsubishi Motors Indonesia, Rifat Sungkar, pengemudi perlu membiasakan diri untuk tidak membawa emosi berlebihan ketika berkendara.
Pasalnya, emosi di jalan dapat memicu efek domino yang berujung pada tindakan berbahaya.
“Seorang pengemudi kalau masih dalam kondisi marah atau emosi, orang di jalan atau kendaraan lain bisa-bisa jadi sasaran benturan,” kata Rifat.
Menariknya, emosi saat berkendara tidak selalu ditunjukkan melalui kemarahan atau perilaku agresif. Menurut Rifat, rasa percaya diri yang berlebihan terhadap kemampuan mengemudi maupun kondisi teknis kendaraan juga perlu dikendalikan.
Pengemudi yang terlalu percaya diri berpotensi menganggap remeh pengguna jalan lainnya maupun situasi yang sedang dihadapi.
“Karena biasanya pengemudi yang seperti itu, akan menganggap rendah pengemudi lainnya,” sambung Rifat.
Karena itu, kemampuan mengendalikan emosi menjadi salah satu bagian penting dalam menciptakan perilaku berkendara yang aman.
BACA JUGA: OLXmobbi Catat Trade-in Tumbuh 12 Persen di GIIAS 2026, Ini Mobil Terlaris
Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah defensive driving. Defensive driving merupakan teknik mengemudi yang mengutamakan tindakan pencegahan terhadap berbagai kemungkinan buruk yang dapat terjadi selama perjalanan.
Bukan hanya soal bagaimana mengendalikan kendaraan, defensive driving juga berkaitan dengan kemampuan pengemudi membaca situasi, mengantisipasi risiko, mengelola emosi, serta berbagi ruang dengan pengguna jalan lainnya.
Dengan menerapkan prinsip tersebut, pengemudi tidak hanya berusaha menghindari kesalahan sendiri, tetapi juga mengantisipasi kemungkinan kesalahan yang dilakukan pengguna jalan lain.
Agar perjalanan tetap aman dan nyaman, berikut sejumlah cara yang bisa diterapkan untuk menjaga emosi ketika berada di jalan:
1. Ingat Jalan Raya Milik Bersama
Jangan menganggap jalan raya sebagai area eksklusif untuk kendaraan sendiri. Ada pengemudi mobil lain, pengendara motor, pesepeda, hingga pejalan kaki yang juga memiliki hak menggunakan jalan. Dengan memahami bahwa jalan merupakan ruang bersama, pengemudi akan lebih mudah untuk bersikap toleran.
2. Berangkat Lebih Awal
Terburu-buru merupakan salah satu kondisi yang dapat membuat pengemudi lebih mudah terpancing emosi. Karena itu, perhitungkan waktu perjalanan sejak awal. Berikan waktu tambahan untuk menghadapi kemungkinan seperti kemacetan, antrean, atau kondisi jalan yang tidak terduga.
Dengan begitu, keterlambatan tidak langsung membuat pengemudi mengambil keputusan secara agresif.
3. Anggap Kemacetan sebagai Bagian dari Perjalanan
Kemacetan memang melelahkan, tetapi marah-marah tidak akan membuat antrean kendaraan bergerak lebih cepat.
Daripada terus memikirkan kemacetan, anggap kondisi tersebut sebagai bagian dari perjalanan. Tetap jaga jarak aman dan hindari manuver yang tidak perlu.
4. Jangan Mudah Terprovokasi
Pengendara lain yang memotong jalur, membunyikan klakson, atau melakukan manuver agresif bisa saja memancing reaksi emosional. Namun, membalas tindakan tersebut justru dapat memperbesar risiko konflik dan kecelakaan.
Jika menemukan pengendara yang agresif, lebih baik menjaga jarak dan memberikan ruang.
5. Dengarkan Musik Favorit
Musik dengan volume yang tidak berlebihan dapat menjadi salah satu cara untuk membantu menciptakan suasana perjalanan yang lebih rileks.
Namun, pastikan volume tetap memungkinkan pengemudi mendengar kondisi sekitar, seperti klakson atau suara kendaraan darurat.
6. Ajak Teman dalam Perjalanan
Perjalanan jauh atau kondisi lalu lintas yang padat terkadang membuat pengemudi merasa bosan dan lelah. Jika memungkinkan, ajak teman sebagai teman perjalanan. Kehadiran penumpang dapat membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.
Meski begitu, jangan sampai percakapan justru mengalihkan konsentrasi pengemudi dari jalan.
7. Manfaatkan Layanan Bantuan Kendaraan
Kecemasan juga dapat muncul ketika kendaraan tiba-tiba mengalami masalah teknis di tengah perjalanan.
Untuk pengguna kendaraan Mitsubishi, aplikasi My Mitsubishi Motors ID (MMID) dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan berbagai informasi dan layanan terkait kendaraan, termasuk bantuan ketika menghadapi kondisi tertentu.
Dengan mengetahui bahwa bantuan tersedia ketika dibutuhkan, pengemudi dapat lebih tenang menghadapi perjalanan.
(om/ns)








