Heboh! 1.265 Pembeli BYD Terima Mobil Produksi Tahun Lama, Pabrikan Siapkan Refund

Logo BYD
Foto: OTO Mounture/Luchito Sangsoko

OTO Mounture — Raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD kembali diterpa masalah. Kali ini, sebanyak 1.265 konsumen di Australia dilaporkan menerima mobil dengan tahun produksi 2025, padahal mereka membeli kendaraan yang diyakini sebagai model produksi 2026.

Kesalahan tersebut membuat banyak pelanggan kecewa karena khawatir nilai jual kembali (resale value) mobil menjadi lebih rendah. Menyikapi hal itu, BYD Australia akhirnya menawarkan pengembalian dana (refund) penuh kepada seluruh konsumen yang terdampak.

Kasus ini bermula ketika sejumlah pemilik kendaraan BYD membagikan pengalamannya di media sosial. Salah satunya adalah Zoheb Khan, pemilik BYD Atto 3 Premium asal Melbourne.

Khan mengaku baru mengetahui mobil yang diterimanya merupakan produksi 2025 setelah dihubungi oleh layanan pelanggan BYD beberapa minggu setelah kendaraan diserahkan.

“Ada seorang wanita yang baru saja mulai menjelaskan kepada saya bahwa mereka telah melakukan kesalahan administrasi dan mobil Anda sebenarnya dibuat pada tahun 2025, bukan seperti yang tertulis di kontrak,” ujar Khan, dikutip dari Drive. Kamis, 16 Juli 2026.

Setelah memeriksa nomor identifikasi kendaraan (VIN), Khan memastikan mobilnya memang diproduksi pada 2025. Ia mengaku kecewa karena khawatir perbedaan tahun produksi akan memengaruhi harga jual mobil di masa depan.

Awalnya, BYD Australia menawarkan kompensasi sebesar 1.100 dolar Australia kepada pelanggan yang terdampak. Namun tawaran tersebut menuai protes. Khan bahkan meminta kompensasi lebih besar atau penggantian unit dengan mobil produksi 2026.

Seiring meningkatnya sorotan publik, BYD akhirnya mengubah kebijakan dengan menawarkan refund penuh kepada seluruh 1.265 pelanggan yang terdampak.

BACA JUGA: MG ZS Hybrid+ Resmi Meluncur di Indonesia, SUV Hybrid Baru dengan 15 ADAS

Adapun BYD Australia menegaskan bahwa insiden tersebut bukan disebabkan oleh perbedaan spesifikasi kendaraan, melainkan murni akibat kesalahan administrasi dalam pencatatan data.

Juru bicara BYD Australia, mengatakan perusahaan secara tidak sengaja menggunakan tanggal kendaraan keluar dari pabrik sebagai acuan, bukan tanggal kendaraan diproduksi.

“Ini adalah kesalahan administrasi yang disayangkan, dan kami meminta maaf kepada pelanggan yang terdampak atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan,” ujar juru bicara BYD Australia.

Direktur Humas BYD Australia, Paul Ellis, juga membantah adanya unsur penipuan dalam kasus tersebut. “Itu adalah kesalahan administratif yang terjadi. Tidak ada penipuan,” kata Ellis.

Ia menegaskan bahwa kendaraan produksi 2025 yang diterima pelanggan tidak memiliki perbedaan material dibandingkan unit yang dipasarkan sebagai produksi 2026.

Menurut Ellis, kesalahan tersebut tidak memengaruhi performa kendaraan, garansi, maupun kepatuhan terhadap standar keselamatan di Australia.

BACA JUGA: Mobil Listrik Wuling Aira EV Siap Mengaspal, Harga Diproyeksikan di Bawah Rp200 Juta

Keputusan menawarkan refund penuh berpotensi membuat BYD mengeluarkan dana yang sangat besar.

Apabila seluruh pelanggan memilih opsi tersebut, BYD diperkirakan harus mengembalikan dana hingga 50 juta dolar Australia atau sekitar Rp760 miliar, dengan asumsi harga rata-rata setiap kendaraan sekitar 40.000 dolar Australia.

Meski harus menanggung potensi kerugian besar, BYD memilih menyelesaikan persoalan ini dengan memberikan opsi terbaik bagi konsumen.

“Kami terus bekerja sama dengan semua pelanggan yang terdampak untuk membantu mereka dengan solusi, yang mencakup opsi pengembalian dana penuh atas harga transaksi pembelian awal mereka,” kata juru bicara BYD Australia.

Pihak perusahaan juga mengklaim banyak pelanggan mengapresiasi langkah penyelesaian yang ditawarkan.

Kasus ini turut menarik perhatian publik di Australia. Sejumlah pihak mendesak Australian Competition and Consumer Commission (ACCC) untuk menyelidiki insiden tersebut.

Namun hingga saat ini, otoritas persaingan dan perlindungan konsumen Australia itu belum mengumumkan apakah akan membuka investigasi resmi.

Ironisnya, persoalan ini muncul ketika penjualan BYD di Australia justru sedang mencatat tren positif. Pada bulan lalu, BYD berhasil menjadi merek mobil terlaris kedua di Australia, hanya berada di bawah Toyota.

(om/ls)

 

 

, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *