Di Balik Setiap Impian: Kisah Aziz Sulthoni Merintis Usaha Bersama FIFGROUP

Aziz Sulthoni - FIFGroup
Aziz Sulthoni bersama dengan motor Honda Scoppy miliknya – Foto: OTO Mounture/Luchito Sangsoko

OTO Mounture — Aziz Sulthoni tidak pernah benar-benar punya rencana besar. Ia hanya melihat cela, yaitu kaos polos laku di mana-mana, pasarnya luas, dan tidak butuh modal raksasa untuk mulai.

Dari kamar rumahnya di Bekasi, Jawa Barat, pria 29 tahun itu mulai menjual kaos polos lewat media sosial dan marketplace. Sendiri. Semua dikerjakan sendiri, mulai dari beli stok, kemas pesanan, antar ke ekspedisi.

“Waktu awal, saya yang pegang semuanya. Nggak ada karyawan, nggak ada gudang. Yang penting jalan dulu,” katanya saat ditemui di Bekasi, Jawa Barat, belum lama ini.

Jalan memang. Tapi lama-lama mulai terasa sempit.

Satu Hambatan yang Tidak Terlihat di Atas Kertas

Order mulai datang dari luar Bekasi, seperti Jakarta, Depok, Tangerang. Pelanggan bertambah. Tapi di saat yang sama, Aziz sadar ada yang menghambat yaitu ia tidak punya kendaraan sendiri.

Setiap kali harus ambil stok dari pemasok, ia bergantung pada transportasi umum atau nebeng keluarga. Kalau ada pelanggan minta sampel dadakan, ia harus hitung dulu apakah bisa berangkat hari itu.

“Yang paling bikin frustrasi itu bukan orderannya. Tapi nunggu. Nunggu angkot, nunggu ojek, nunggu bisa pinjam motor. Padahal usaha tidak bisa nunggu,” ujarnya.

Ia mulai serius mempertimbangkan beli motor. Pilihannya jatuh ke Honda Scoopy, yang ia rasa memiliki keunggulan berupa irit, serta nyaman untuk aktivitas harian.

Beli tunai bukan opsi yang masuk akal saat itu. Arus kas usaha harus dijaga. Jadi pada 2025, Aziz mengajukan kredit motor Honda Scoopy melalui FIFGROUP.

BACA JUGA: Komunitas Scoopy Kabur Jakarta Gelar “Scoopy Your Mode, Your Ride”, Perkuat Kreativitas dan Kebersamaan Anggota

Motor Ini Bukan untuk Gaya

Setelah motor di tangan, ritme kerja Aziz pun mulai berubah. Ambil stok yang dulu butuh setengah hari bisa selesai dalam dua jam.

Kemudian, pertemuan dengan calon mitra yang sebelumnya sering ditunda karena masalah transportasi kini bisa dijadwalkan dengan lebih percaya diri.

“Saya bisa respons pelanggan lebih cepat. Ada yang minta sampel hari itu juga, saya bisa langsung berangkat. Hal kecil kayak gitu ternyata dampaknya besar ke kepercayaan pelanggan,” cerita Aziz.

Ia bukan tipe yang suka bicara soal target besar atau angka pertumbuhan. Tapi dari caranya bercerita, ada satu hal yang jelas yaitu mobilitas yang lebih baik membuat ia bisa fokus ke hal yang lebih penting, yakni menjaga pelanggan lama dan mencari yang baru.

Usahanya hari ini lebih besar dari ketika pertama kali dimulai. Jaringan pelanggannya sudah mencakup berbagai kota di Pulau Jawa. Dan ia masih terus bergerak.

FIFGROUP dan Jutaan Cerita yang Tidak Selalu Terdengar

Kisah Aziz bukan pengecualian. Di seluruh Indonesia, ada jutaan orang dengan versi cerita serupa, seperti pedagang yang butuh motor untuk genjot omzet, petani yang perlu kendaraan untuk akses pasar, ibu rumah tangga yang ingin punya penghasilan sendiri.

Bagi mereka, akses ke pembiayaan yang terjangkau dan prosesnya tidak berbelit bukan kemewahan. Itu kebutuhan nyata.

FIFGROUP, yang berdiri sejak 1989 sebagai bagian dari ekosistem Astra, sudah lebih dari tiga dekade berada di titik pertemuan antara kebutuhan masyarakat dan akses keuangan formal.

Melalui FIFASTRA untuk pembiayaan motor Honda, SPEKTRA untuk kebutuhan multiguna, dan DANASTRA untuk pinjaman tunai, jaringannya menjangkau wilayah-wilayah yang tidak selalu terlayani perbankan konvensional.

Yang membedakan peran pembiayaan dari sekadar transaksi kredit adalah kendaraan yang dibiayai hari ini bisa menjadi alat produksi esok hari. Dan bagi banyak pelaku usaha kecil, itu sering kali menjadi pembeda antara stagnan dan berkembang.

BACA JUGA: Penjualan Motor Indonesia Mei 2026 Turun 5,14 Persen, Ekspor CBU Justru Melonjak

Langkah yang Terlihat Kecil, Dampak yang Tidak Kecil

Aziz tidak pernah menyebut kredit motornya sebagai “keputusan hidup.” Baginya itu keputusan praktis, yaitu butuh kendaraan, hitung kemampuan cicilan, ajukan, selesai.

Tapi kalau ditarik ke belakang, keputusan sederhana itu mengubah cara ia menjalankan usaha.

“Motor ini kerja keras tiap hari bareng saya. Kalau dihitung, sudah berapa kali bolak-balik ke pemasok, ke pelanggan, ke ekspedisi. Nggak kehitung,” katanya sambil tertawa kecil.

Ia belum punya rencana besar untuk tahun depan. Yang ia tahu, selama bisa terus bergerak maka usahanya juga akan terus bergerak.

(om/ls)

 

 

, , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *