
OTO Mounture — Komisi XII DPR RI menyatakan dukungan penuh terhadap proyek hilirisasi ekosistem baterai nasional melalui Proyek Dragon yang dijalankan Grup MIND ID lewat Indonesian Battery Corporation (IBC). Proyek strategis ini merupakan hasil kerja sama dengan konsorsium global Contemporary Amperex Technology Limited (CATL).
Dukungan tersebut dinilai menjadi bukti nyata komitmen negara dalam mempercepat pembangunan industri baterai terintegrasi, sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam ekosistem baterai global dan mendukung agenda transisi energi ramah lingkungan.
Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menegaskan bahwa proyek baterai terintegrasi sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional yang berdampak positif bagi perekonomian, mulai dari peningkatan nilai tambah, daya saing industri, penyerapan tenaga kerja, hingga masuknya investasi strategis.
“Kegiatan hilirisasi merupakan kebijakan utama pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan menghasilkan multiplier effect bagi perekonomian nasional. Proyek baterai ini menjadi bagian penting dari strategi tersebut,” ujar Bambang dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR, Senin, 2 Februari 2026.
Namun demikian, DPR juga menekankan pentingnya komitmen pengelolaan lingkungan, khususnya terkait limbah B3, baterai gagal fungsi, serta sistem daur ulang baterai pasca pakai.
“Kami ingin memperoleh penjelasan komprehensif terkait progres proyek, kesiapan produksi, serta bagaimana komitmen pengelolaan lingkungan dan daur ulang baterai akan dijalankan,” tambahnya.
BACA JUGA: Jetour T2 Hangus Terbakar Usai Kecelakaan di Tol Jagorawi
Dalam kesimpulan rapat, Komisi XII DPR RI menegaskan empat poin utama dukungan terhadap pengembangan industri baterai nasional, antara lain:
1. Mendukung percepatan pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang agar segera berproduksi, dengan tetap mengutamakan pengelolaan lingkungan dan sosial sesuai regulasi.
2. Mendorong IBC merealisasikan investasi baru dalam pengembangan baterai kendaraan listrik dan battery energy storage system (BESS) berbasis nikel.
3. Mendukung pemberian insentif fiskal, termasuk tax holiday serta optimalisasi perhitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), mengingat proyek ini membangun rantai industri dari hulu hingga hilir.
Anggota Komisi XII DPR RI Cek Endra mengapresiasi percepatan pembangunan proyek yang dinilai melampaui ekspektasi awal. Dari lahan kosong, fasilitas produksi kini hampir rampung dan ditargetkan mulai beroperasi pada Juni 2026 dengan nilai investasi sekitar Rp 7 triliun.
“Progresnya luar biasa. Ini menunjukkan keseriusan investasi dan menjadi modal penting bagi Indonesia untuk masuk lebih dalam ke ekosistem baterai global,” kata dia.
BACA JUGA: Insiden CV Joint saat Media Test Drive Jadi Sorotan, Ini Fungsi dan Peran Pentingnya di Mobil
Selain sektor kendaraan listrik, Komisi XII juga menyoroti pentingnya kepastian pasar domestik, khususnya pemanfaatan baterai untuk sistem penyimpanan energi (BESS) di sektor kelistrikan dan rumah tangga.
Langkah ini dinilai penting untuk mencegah risiko kelebihan pasokan seiring meningkatnya kapasitas produksi baterai nasional.
“Kepastian pasar domestik dan sosialisasi pemanfaatan baterai storage menjadi kunci agar industri ini tumbuh sehat dan berkelanjutan,” tambah Cek Endra.
Sementara Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menyampaikan bahwa kehadiran Grup MIND ID melalui IBC sejalan dengan agenda Asta Cita pemerintah, terutama dalam mendorong kemandirian energi, ekonomi hijau, dan hilirisasi industri.
IBC menargetkan pembangunan rantai nilai baterai terintegrasi, mulai dari pengolahan material berbasis nikel, manufaktur baterai lithium-ion, hingga pengembangan industri daur ulang baterai.
“Indonesia memiliki keunggulan sumber daya nikel. Tantangannya adalah memastikan pasar domestik kuat, regulasi konsisten, dan dukungan insentif agar ekosistem baterai ini berkelanjutan dan kompetitif secara global,” ujar Aditya.
Ia menambahkan, pembangunan pabrik baterai lithium-ion di Karawang melalui perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) ditargetkan memiliki kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) dan mulai beroperasi secara komersial pada pertengahan 2026.
Produk baterai akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor, baik untuk kendaraan listrik maupun battery energy storage system (BESS).
IBC juga menekankan pentingnya harmonisasi regulasi hulu–hilir, kepastian KBLI, serta regulasi battery recycling dan second life battery agar baterai bekas dapat dimanfaatkan kembali dalam kerangka ekonomi sirkular.
(om/ril)








